Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Keraguan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


"Pak, bagaimana kalau saya tidak ikut masuk?" Aku menoleh ke arah luar melalui kaca mobil. Terlihat begitu banyak orang yang berpasangan-pasangan dan juga saling bergandengan tangan.


Bukan itu saja, tapi banyak juga yang mengajak anak-anak, aku yakin itu adalah anak-anak mereka. Senyum juga terlihat jelas dari satu sama lain ketika saling menyapa dan saling memperkenalkan anak-anak mereka.


Kalau aku masuk, pasti akan banyak yang berpikir aku dan pak Devan memiliki hubungan yang begitu harmonis, pasti mereka akan berpikir kami adalah sebuah keluarga yang sangat bahagia padahal sebenarnya tidak sama sekali. Kami hanya orang asing yang hanya berstatus atasan juga bawahan saja.


"Kenapa, apakah kamu takut?" Aku kembali menoleh kearah pak Devan. Pria itu selalu saja terlihat santai dan tak menanggapi semua dengan serius.


"Bukan begitu, Pak. Tapi..." Aku ragu untuk menjelaskan semuanya karena aku yakin pak Devan juga tidak akan menerima penjelasan.


"Bunda, ayo kita masuk," Kini aku beralih ke arah Ara yang begitu antusias. Aku pikir dia tidur di pangkuan ku ternyata tidak, dia tengah menunggu aku ataupun pak Devan akan mengajaknya turun.


"Sebentar, Sayang. Kita pulang saja ya?" Aku begitu takut, aku tak biasa datang di acara-acara yang seperti ini.


"Kenapa pulang, Bunda. Kan kita sudah sampai. Ayah om, ini tempatnya kan?" Ara beralih ke arah pak Devan.


"Iya, Cantik. Di sinilah tempat pesta. Ara mau turun dengan ayah om?" Lagi-lagi suaranya begitu manis, mendayu-dayu seolah mau merayu.


"Mau, Ayah om! Ara pengen ke pesta!" Aku tau, Ara pasti sangat penasaran dengan yang namanya pesta. Seumur-umur belum pernah aku ajak ke acara seperti ini karena memang tidak pernah ada.


Acara pesta ulang tahunnya saja hanya aku rayain dengan mbok Darmi juga Mika saja itupun hanya cukup dengan memotong kue dan makan-makan sederhana masakan sendiri. Pastilah Ara akan sangat senang karena ini adalah hal yang pertama.


"Sebentar cantik, ayah turun dulu kamu di sini sama bunda," Pak Devan turun lebih dulu aku tak mengerti apa yang ingin dia lakukan kenapa melarang kami untuk keluar.


Aku mengikuti pergerakan Pak Devan yang memutar melalui depan mobil dia menuju samping pintu tempat kami dan membukanya.


"Sini cantik, ayah om gendong," Katanya.


Kenapa? Kenapa dia begitu manis dengan Ara. Kenapa dia begitu baik dan terus ingin Ara senang, benarkah itu tulus atau tidak.


Begitu sulit untukku membedakan antara yang tulus atau tidak. Aku benar-benar telah buta akan hal itu. Dan semua itu karena mas Aditya yang telah mengkhianati ku.


"Yee... Di gendong lagi sama ayah om!" Kedua tangan Ara langsung menyambut tangan Pak Devan yang terulur Ara juga langsung senang ketika Pak Devan mengangkatnya.


"Ara sayang, Ara jalan sendiri ya?" Kataku. Aku juga tak enak melihat Pak Devan terus-menerus repot seperti ini. Meski semua adalah keinginannya tapi aku merasa ini tidaklah pantas.


"Tidak, Bunda. Aku pengen di gendong sama ayah om," Katanya.


Ya Allah Ara, kenapa dia begini sekali. Apakah ini yang dinamakan anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari Ayah dan akan menerima siapapun yang mendekatinya?


"Ayo, aku harap kamu akan baik sama seperti Ara," Kata Pak Devan menyindir karena sedari tadi aku hanya terus protes.


Dengan terpaksa aku turun membawa dompet hitam yang juga pilihan dari Pak Devan. Sudah di bayarin, di pilihin dan tinggal pakai tanpa bingung kurang apa coba, tapi aku tidak suka yang seperti ini. Aku lebih suka memakai sesuatu hasil dari kerja keras sendiri.


"Pak," Aku ingin menolak ketika pak Devan tiba-tiba menggandeng ku. Satu tangan memegangi Ara sementara satunya menggandeng tangan ku apa tidak kesusahan?


"Hah! Ta_tapi, Pak?" Jelas aku semakin tak enak. Aku ingin menolak.


"Jadikan penurut, masak kamu kalah sama Ara." Wajahnya mengisyaratkan sebuah kata yang tak mau ada penolakan. Begitu menekankan membuat aku tak bisa berkutik lagi.


Kenapa harus seperti ini?


"Ayo," Ajaknya dan mulai menarik ku untuk masuk.


Senyum dari orang yang ada di depan pintu aku lihat ketika dia melihat pak Devan, dia langsung mendekati dan menyalami, sejenak pak Devan melepaskan tanganku untuk menyambutnya.


"Devan Mahendra..., akhirnya tahun ini bisa datang juga. Sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dan akhirnya sekarang datang juga.


"Vino Yudis, senang bertemu dengan mu. Kamu terlihat lebih besar sekarang," Jawab pak Devan.


"Ah, kamu. Biasa saja. Wah wah, bidadari kecil mu cantik sekali." Pujinya ketika melihat Ara_ku, "halo cantik, siapa namanya?"


"Ara Nuril Aisyah, Om." Katanya, subhanallah... Begitu manis. Aku pikir dia akan takut dengan orang-orang asing ternyata tidak. Dia bisa langsung berbaur begitu saja.


"Namanya cantik secantik wajahnya. Ini..."


"Kenalkan, bidadari ku... Nayla Ariane, Bunda dari bidadari kecil ku."


Ingin aku menghindar kala pak Devan merangkul pinggang ku. Lama-lama kurang ajar juga nih pak Devan.


Mataku melotot ke arahnya tapi dia malah nyengir begitu saja tanpa rasa bersalah dengan tangan menekan pinggang ku seolah memberikan peringatan. Benar-benar keterlaluan nih orang.


"Alhamdulillah, aku pikir kamu akan selalu jomblo. Tak dengar pernikahan mu dan ternyata kamu sudah memiliki keluarga bahagia."


"Alhamdulillah, berkat semua ejekan mu sekarang aku tak lagi jomblo."


Aku ingin tertawa mendengar nya. Astaghfirullah, berarti doa temannya ini ampuh juga sampai membuat pak Devan jomblo sampai sekarang.


"Kenapa kamu tersenyum?" Pak Devan menyadari aku yang tersenyum karena merasa geli.


"Bukan apa-apa," Jawabku dengan ketus.


"Sudah sudah, masuklah dan sapa yang lain juga. Juga, nikmati sajiannya. Tenang, semua aman kecuali yang di ujung sana," Kata Vino.


Entah apa yang di maksudnya. Di ujung sana? Emang ada apa dengan minuman dan makanan di sana?


"Oke," Pak Devan kembali menggandeng ku mengajak masuk dan juga terus menyapa satu persatu teman-temannya yang lain.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....