Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Vitamin penyemangat



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Baru saja beberapa jam saja tidak bertemu tapi Devan sudah sangat merindukan Nayla juga Ara. Di tengah-tengah kesibukan dia sempatkan untuk menghubungi Nayla, ya! Kali ini ponsel Nayla sudah dia kembalikan tetapi dengan nomor yang baru.


Nayla sama sekali tidak berkomentar karena baginya yang terpenting ponselnya sudah kembali. Masalah nomor baru atau lama itu tidak menjadi masalah untuknya.


Tut... tut... tut...


Panggilannya tersambung namun belum juga di angkat oleh Nayla. Sudah sangat tidak sabar Devan saat ini bukan hanya ingin mendengar suaranya saja tapi juga ingin melihat wajahnya.


Sekali panggilan video call tidak terjawab dan Devan mengulanginya lagi, dia harus tetap bisa melihat wajah Nayla sekarang sebagai suntikan vitamin untuk semangatnya.


Devan tersenyum begitu lebar ketika panggilan video call-nya diangkat oleh Nayla. Devan semakin bahagia ketika melihat Nayla yang tersenyum setelah melihat dirinya yang telah menghubunginya.


Belum bicara saja namun sudah melihat wajah istrinya itu sudah membuat rasa lelah Devan hilang dalam sekejap mata dan kini berganti dengan rasa semangat untuk kembali bekerja dan menyelesaikan semua pekerjaannya yang masih menumpuk di atas meja.


"Bagaimana kabarmu, Sayang," tanya Devan.


"[Alhamdulillah baik-baik saja, mas sudah selesai pekerjaannya, kalau begitu kapan kembali?]"


Bukan hanya Devan saja yang merasa sangat merindukan tetapi Nayla juga merasakan hal yang sama, Dia sangat ingin segera bertemu dengan suaminya.


Meski ketika bersama mereka tidak akan melakukan apapun tapi hal itu sudah mereka berdua sangat bahagia.


"Sebentar lagi aku pulang. Hem, kenapa? Sudah kamu sudah kangen ya?"


"[Hem?]" Nayla hanya tersenyum saja dan tidak ada yang lain selain itu.


"[Mas, bisakah belikan aku ketoprak saat mas pulang?]"


"Hem, bisa. Nanti mas belikan."


"[Cepat selesaikan pekerjaan mas, setelah itu cepatlah pulang.]"


"Apakah kamu benar-benar sudah sangat merindukan ku?"


"[Tidak, tapi sudah sangat tidak sabar pengen makan ketoprak.]"


Seketika mata Devan membulat karena yang diinginkan oleh Nayla bukanlah dirinya melainkan ketoprak yang ingin dia makan. Benarkah untuk saat ini Devan terkalahkan oleh ketoprak saja?


"Kamu?!" Devan terlihat sangat kesal tetapi hal itu malah itu malah membuat Nayla tersenyum begitu senang. Padahal hanya masalah ketoprak saja tetapi bisa membuat Devan seperti itu.


Apakah Devan cemburu dengan ketoprak?


"[Hehehe.]" Nayla meringis memperlihatkan jajaran giginya yang begitu putih dan terlihat begitu menggemaskan oleh Devan yang berada di jarak yang sangat jauh. Seandainya saja mereka dekat entah apa yang akan Devan lakukan dengan pipi menggemaskan itu.


Sebelum Devan mengatakan sesuatu Nayla sudah keburu mematikan ponselnya, dan yang terakhir hanya senyum bahagia yang dilihat oleh Devan dari istrinya.


Devan tidak marah tetapi dia malah tersenyum membayangkan senyum manis yang menghiasi wajah istrinya yang berada di rumah. Semakin membayangkan maka semakin Devan Tak sabar untuk segera pulang.


Devan segera mengerjakan semua yang ada di atas meja tepat berada di hadapannya, Dia harus cepat selesai selesai jika ingin segera bertemu dengan istrinya yang semakin lama semakin menggemaskan.


"Aku akan secepatnya kembali, Nay."


Senyum lebar menuntun Devan Untuk segera menyelesaikan semua pekerjaan. Dan kembali dia disibukan dengan semuanya.


Ternyata inilah enaknya menjadi seorang bos, dia bisa menyerahkan semua pekerjaan luar kepada anak buahnya sementara dirinya hanya mengerjakan pekerjaan yang ada di dalam. Tentu dia tidak akan kerepotan juga kepanasan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Tatapan mata dari Aditya begitu tajam dengan membayangkan keberhasilan yang akan dia dapatkan, tentu dia juga membayangkan akan kebangkrutan yang akan dialami oleh perusahaan Devan dan setelah itu dia akan bisa mengambil semua yang dia pikir adalah haknya.


Entah permainan seperti apa yang dia lakukan saat ini tetapi yang jelas permainan itu sudah sampai di tangan Devan dan Aditya hanya tinggal menunggu semuanya berjalan juga menunggu keberhasilan dari rencananya ini.


"Permisi, Pak ini berkas yang anda minta," Winda masuk ke dalam ruangan Aditya dengan membawa berkas yang diminta oleh Aditya barusan.


Aditya seketika menoleh ke arah Winda, bukannya tertuju pada berkas yang disodorkan oleh Winda kepadanya tetapi mata Aditya memandangi tempat lain, yaitu semua penampilan Winda sekarang yang terlihat semakin menggoda.


Aditya tersenyum dengan penuh arti, tangannya mengambil berkas tersebut dan menaruhnya langsung di meja sementara tangan satunya seketika menarik tangan Winda. Tentu hal itu membuat Winda begitu gugup juga sangat takut namun tidak berani untuk menolak.


"Pa_pak?" dengan ragu Winda berjalan semakin dekat kepada Aditya akibat tarikan tangannya. Sangat jelas wajahnya jika Winda saat ini sangat takut bahkan wajahnya sekali menoleh ke arah pintu dan melihat ternyata pintu itu sudah tertutup dengan sendirinya.


"Tidak perlu takut. Tidak akan ada siapapun yang datang apalagi berani masuk ke sini tanpa persetujuan dariku. Di sini hanya ada kita berdua."


Senyum Aditya begitu mengerikan bagi Winda, senyum yang penuh arti namun sangat susah untuk dipahami oleh gadis yang polos seperti Winda.


Winda berhenti tepat di hadapan Aditya dan seketika itu tangan Aditya yang lain terulur dan meraih pinggang Winda hingga membuatnya duduk di pangkuannya.


"Pa_pak... I_ini tidaklah benar," Winda semakin takut dengan pergerakan yang ditimbulkan oleh tangan Aditya kepada dirinya.


Setelah Winda berhasil duduk di pangkuannya tangan Aditya yang satu melingkar di belakang punggung Winda hingga sampai perutnya untuk menahan supaya tidak terjatuh, sementara tangan yang satunya lagi perlahan terangkat dan mulai menyentuh wajah Winda yang terlihat begitu mulus.


"Tidak usah takut, aku akan selalu bersama mu," senyum dan juga aura wajah penuh ketertarikan kepada Winda terlihat sangat jelas di wajah Aditya sekarang ini.


Matanya begitu jelas terus memandangi Winda dengan tatapan yang seolah ingin memangsa dirinya. Tatapan yang membuat Winda semakin merinding di atas pangkuan Aditya.


"Kamu sangat cantik, Winda."


Tangan Aditya terus bergerak mengelus setiap inci wajah dari sekretarisnya tersebut, menghadirkan sejuta rasa di dalam diri Winda. Winda ingin menolak juga berontak tetapi tangan kekar Aditya begitu kuat menahannya hingga dia tidak bisa bergerak lagi apalagi berharap untuk bisa pergi dari sana.


Ditariknya wajah Winda hingga sampai tepat di hadapan wajahnya. Winda memejamkan mata ketika wajah Aditya perlahan mendekat dan dalam hitungan detik saja sudah Winda rasakan bahwa ada sesuatu yang hangat berhasil menempel di bibirnya.


Jantung Winda seketika berdetak dengan sangat kuat, semakin dia ingin berontak tetapi semakin juga dia merasa penasaran dengan semua rasa yang asing yang ditimbulkan. Otak dan hati benar-benar tidak sinkron saat ini, hatinya ingin menolak tetapi berbeda dengan otaknya yang membawa dirinya semakin merasa penasaran dengan sebuah kenikmatan yang hadir.


Dia memang sangat mencintai Nayla dan masih sangat menginginkan untuk bisa hidup bersama dan bahagia bersamanya, tetapi yang dia lakukan lakukan kepada Winda saat ini ini adalah bentuk dendam yang ingin dia lakukan karena perbuatan Jihan tempo hari.


Winda yang diam pasrah membuat Aditya seakan mendapatkan lampu hijau dan hatinya bersorak penuh kemenangan karena akhirnya dia bisa meluluhkan hati sekretarisnya yang masih sangat polos.


Beberapa suara yang sakral dari bibir Winda membuat Aditya semakin terpacu untuk melakukan hal yang lebih lagi hingga akhirnya dia mengangkat tubuh Winda dan membawanya ke ruangan pribadi yang ada di kantor itu.


Kesadaran Winda benar-benar terasa hilang dan terkalahkan oleh semua kenikmatan yang dihadirkan oleh Aditya sehingga dia tidak terasa kalau apa dirinya sudah ada di atas ranjang dan perlahan ada dia merangkak naik dan merangkak naik dan mengungkungnya.


"Kamu sangat menggoda, Winda." bisik Aditya dan langsung memulai apa yang hadir di nuraninya.


Winda tentu merasa takut akan apa yang terjadi kepadanya, tapi setiap sentuhan yang diberikan oleh Aditya seakan membunuh akal sehatnya dan membuat dia semakin penasaran dengan apa yang selanjutnya akan terjadi, hingga dia berpikir kenikmatan apa lagi yang akan dia dapatkan dan membuat dirinya pasrah dengan semua yang Aditya lakukan.


--------Normal-------


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....