Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Bagai Dalam Sangkar



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Aditya begitu panik dia juga begitu takut kalau sampai terjadi apa-apa pada Jihan juga anak yang masih dalam kandungan.


Empat tahun mereka berdua menunggu akan kehadiran buah hati di tengah-tengah rumah tangga mereka. Seandainya sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pasti bukan hanya Jihan saja yang begitu terpukul tetapi kedua orang tuanya juga, bisa saja mengalahkan Aditya.


Dengan begitu gelisah Aditya membawa Jihan ke rumah sakit seorang diri dan sampai di rumah sakit Jihan juga langsung mendapatkan penanganan dari dokter.


Aditya yang menunggu di luar UGD merasa sangat tidak tenang. Bagaimana mungkin dia akan tenang kalau keselamatan istri dan anaknya tengah dipertaruhkan saat ini.


Dia begitu menyesal tidak seharusnya dia terus mengabaikan Jihan yang sebenarnya hanya membutuhkan perhatian dari dirinya tetapi dia malah bertingkah sangat bodoh hingga membuat kecelakaan itu terjadi dan berakhir seperti sekarang ini.


Kedua orang tua Jihan langsung datang ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar tentang kejadian yang menimpa Jihan dari salah satu asisten rumah tangga mereka berdua karena ketika kejadian itu terjadi keduanya telah pergi.


"Aditya, sebenarnya apa yang terjadi kenapa sampai seperti ini?"


Tanya pak Pratama yang baru saja datang dan langsung menghampiri Aditya yang masih terus mondar-mandir di depan pintu. Keadaan Aditya benar-benar tidak baik saat ini Dia terlihat kacau dengan pakaian yang begitu kusut juga wajahnya yang terlihat sangat muram dan takut.


"Pa, sebenarnya..."


"Sebenarnya Jihan terjatuh dari tangga karena berusaha mengejar Aditya pa."


Aditya menunduk dengan sangat menyesal Seandainya dia tidak begitu egois maka semua ini tidak akan terjadi.


"Apa yang kamu lakukan, Dit?!" Ada bicara Pak Pratama sudah terdengar sangat berbeda dari berbeda, bahkan matanya sudah melotot menakutkan ke arah Aditya yang masih terus saja dalam penyesalan yang sangat besar.


"Maaf, Pa. Sebenarnya..."


Plakk...


"Ingat baik-baik ya Aditya kalau sampai terjadi apa-apa kepada anak dan cucu saya maka saya tidak akan pernah memaafkan mu!"


Ucapan Pak Pratama terdengar begitu menegaskan juga mulai dipenuhi dengan amarah yang sangat besar. Tentu pak Pratama tidak akan rela begitu saja jika sampai terjadi apa-apa dengan anak dan cucunya. Anak yang begitu dia sayang dan dibesarkan penuh dengan kasih sayang juga cucu yang sudah dia tunggu-tunggu sejak lama kedatangannya.


Aditya tidak berani menjawab sepatah kata pun dari Pak Pratama dia memilih diam dengan menunduk.


"Sudah lah, Pa. Jangan memperkeruh suasana. Kita doakan saja semoga mereka tidak kenapa-napa," Ucap sang Istri.


Pak Pratama tetap tak memalingkan wajahnya dari Aditya, dia tetap dalam kondisi amarah memuncaknya.


Aditya sangat mengakui kesalahannya dia juga sangat menyesal tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi dan tak bisa di putar kembali. Aditya hanya bisa berharap keduanya tidak apa-apa.


Kegelisahan mereka terusik saat kedatangan dokter yang keluar dari ruangan Jihan di beri tindakan mereka bertiga sontak menghampiri.


"Apakah ada keluarga dari pasien?"


"Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri dan anak saya, mereka baik-baik saja kan?" Aditya begitu tergesa-gesa bertanya dia sudah tak sabar ingin mengetahui keadaan Jihan atau anaknya.


"Ibu Jihan baik-baik saja, Pak. Tapi anak dalam kandungannya..."


"Ada apa dengan anak kami Dok, dia juga baik-baik saja kan?" Aditya begitu tidak tenang, hatinya sangat kacau di penuhi dengan ketakutan yang sangat besar.


"Kami sudah berusaha, Pak. Tapi maaf, anaknya sudah meninggal. Dan kita harus secepatnya melakukan pengangkatan kalau tidak nyawa istri anda akan berbahaya."


Lemas sudah tubuh Aditya, luruh sudah di kursi tunggu. Matanya menatap kosong dengan air mata yang di biarkan keluar begitu saja. Hancur, yah! Aditya sangat hancur dan berduka.


Empat tahun dia menunggu, berbagai cara untuk bisa memilikinya mereka lakukan dan sekarang hanya tinggal menunggu satu bulan saja dia bisa menimangnya dan harus hilang lagi. Tak ada harapan lagi untuk bisa menimangnya dan memberikan kasih sayang.


"Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin," Aditya meracau tidak jelas.


Mamanya Jihan juga sudah menangis, dia juga sangat terpukul. Sementara pak Pratama...?


Plakk....


Aditya di tarik dengan sangat kasar hingga dia berdiri lalu pukulan keras mendarat di pipinya.


"Pak,,," Aditya sontak memegangi pipinya yang terasa panas tak dia percaya kalau orang yang terlihat penuh kasih seperti pak Pratama telah menamparnya.


"Apa, puas kamu sekarang! Kamu renggut anakmu sendiri sebelum dia lahir ke dunia. Kamu pembunuh, Dit. Pembunuh!"


"Dari kemarin papa ingin ikut campur karena kamu yang berubah, kamu terus campakkan istrimu dan aku ingin turun tangan, tapi Jihan melarang ku. Kalau seandainya akan jadi seperti ini aku tidak akan pernah mendengarkan kata Jihan! Puas kamu, Dit. Puas!"


"Buat apa kamu terus berusaha kalau akhirnya kamu renggut anak itu sebelum lahir. Buat apa, Hah!"


Rasanya ingin menghajar Aditya yang diam, tentu dia tidak akan berani menjawab karena dia sadar dia memang bersalah."


Di cengkeram kerah Aditya di tarik dan di dorong hingga berulang kali hingga membuat Aditya bergerak maju mundur. Sungguh, Aditya tak berani melakukan perlawanan apapun.


"Jangan, Pak. Pak!" Mama Jihan yang menghalangi, menghentikan suaminya yang ingin memukul Aditya lagi.


"Tidak, Pa. Tidak!" Mamanya terus menghalangi tentu tak ingin keributan terjadi di sana dan ini juga bukan waktu yang pas untuk menyalahkan dan memberi hukuman pada siapa yang berasal.


Pak Pratama begitu marah tetapi dia tidak bisa mengabaikan perkataan istrinya dan memilih melepaskan Aditya dengan kasar bahkan juga mendorongnya membuat Aditya kembali duduk di tempat semula.


Semua begitu hancur penantian mereka yang begitu lama hancur dalam sekejap. Apakah akan mudah mendapatkan kepercayaan lagi setelah ini? Bahkan baru pertama kali diberi kepercayaan tetapi tidak bisa menjaga dengan baik.


Bukan itu saja tetapi mereka bingung bagaimana akan mengatakan semuanya kepada Jihan yang benar-benar begitu menunggu akan kehadiran sang buah hati.


"Puas kamu, Dit," ucapan Pratama sudah lebih lirih daripada yang tadi tetapi masih tetap menegaskan juga tersirat begitu besar amarah juga kekecewaan.


Pak Pratama duduk di bangku yang lain di hadapan Aditya tentu dengan dituntun oleh istrinya yang juga sangat hancur juga menangis.


"Ma, bagaimana kita akan mengatakan pada Jihan?" Tatapan-mata Pak Pratama terlihat begitu berduka jelas dia akan merasa hal itu siapa yang tidak akan berduka ketika sangat cucu yang ditunggu tunggu kelahirannya meninggal sebelum dia sempat lahir di dunia.


-----------Normal----------


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Meski tinggal di rumah yang sangat besar dan mewah juga begitu banyak penjaga yang akan selalu memastikan keamanan dan tentu begitu banyak para asisten rumah yang akan selalu memastikan semua keperluan terpenuhi bukan berarti aku merasa nyaman di rumah ini.


Rumah besar tetapi bukanlah rumahku sendiri pastilah akan lebih nyaman tinggal di rumah yang kecil tetapi rumah milik sendiri. Meskipun sederhana tetapi semua akan lebih nyaman dan enak bahkan tidur pun juga akan nyenyak, tapi sekarang ini aku tidak merasakan kenyamanan sama sekali.


Kamar yang disediakan memang sangat mewah juga sangat besar tapi nyatanya aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku hanya tidur ketika tidur di sofa yang ada di dalam kamar itu saja.


Sebenarnya aku ingin tidur bersama Ara tetapi Pak Devan tidak mengizinkan hingga kami tidur di kamar yang berbeda namun bersebelahan.


Aku juga tidak dibiarkan untuk melakukan apapun pekerjaan rumah bahkan sekedar membantu memasak pun juga tidak diizinkan. Bukan itu saja bahkan aku tidak diizinkan untuk kembali bekerja di perusahaan Gadia.


Apakah aku akan selalu terkurung di rumah yang besar ini? Benar-benar bagaikan burung di dalam sangkar yang tidak bisa keluar dan tidak bisa melakukan apapun.


Tok tok tok...


"Non, Non sudah ditunggu Tuan di meja makan untuk sarapan. Kalau Non tidak secepatnya datang maka Tuan sendiri yang akan datang untuk menjemput Non." Kedatangan dari salah satu asisten rumah ke kamar yang aku tempati membuat lamunanku terbuyar dan hilanglah susunan rencana yang sudah aku catat begitu rapi.


Laki-laki Pak Devan meminta dengan paksa. Pasti tidak langsung dia sendiri yang mengatakan tapi ini sudah sangat mewakili kalau semua yang menjadi perintahnya tidak akan pernah bisa gugat begitu saja.


"Bilang padanya Saya tidak lapar Saya tidak mau makan. Dan katakan kepadanya juga Aku hanya ingin pulang."


Seperti anak kecil aku selalu saja merengek untuk minta pulang. Aku benar-benar tidak betah tinggal di rumah mewah.


Kupikir di sini aku akan bertemu dengan Pak Abraham beserta sang istri Namun ternyata aku sama sekali tidak melihat mereka berdua tinggal di sini sejak aku dan Ara datang.


"Non. Mari saya antar ke tempat Tuan, kalau tidak maka saya pun juga akan mendapatkan masalah. Saya mohon jangan bawa-bawa saya."


Sepertinya pelayan itu benar-benar sangat takut. Aku yakin apa yang dia katakan bisa saja terjadi tapi aku benar-benar sangat malas untuk bertemu dengan Pak Devan.


"Saya mohon, Non."


Kembali dia mengatakan dengan begitu memohon bahkan wajahnya terlihat begitu memelas dan berharap aku akan menurut kepadanya.


Apakah aku pernah keras kepala? Mungkin memang iya tetapi mau bagaimana aku tidak suka tinggal di sini.


Rasanya seperti tinggal di dalam penjara karena kebebasan telah direnggut dariku dengan paksa.


Melihat dia yang begitu memohon membuatku merasa tidak tega hingga akhirnya aku menurut kepadanya. Aku beranjak dan mulai melangkah keluar dari kamar dan menuju ke meja makan.


Sampai dia tempat makan aku melihat Pak Devan sudah duduk di sana tentu juga bersama dengan Ara.


"Bunda! Kok lama sekali? Aku sudah sangat lapar, Bunda." kata Ara yang telah melihat ku datang.


"Hem," Aku tersenyum dengan terpaksa ketika Ara menyapaku dan mengatakan dia sudah menunggu juga dia sudah sangat lapar.


"Bunda, duduk sini," katanya lagi. Ara begitu antusias dia sudah tidak sabar untuk aku duduk hingga dia turun dari tempat duduknya lalu menarik ku.


Aku sengaja menarik kecil ke arah pak Devan dan dia terus tersenyum melihat ku yang berubah bersikap seperti anak kecil.


Kedua tangannya menyatu dan saling menggenggam, berdiri di hadapannya dan menjadi tiang untuk dagunya.


Ahh...


Sungguh menyebalkan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....