Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Teman Baru



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


"Permisi," Seketika aku menoleh mendengar ada orang yang menyapa. Suaranya terdengar seperti seorang perempuan dan ternyata benar Dia adalah seorang perempuan karena dia adalah Jihan.


Kakinya melangkah semakin mendekati ke arahku juga Mas Devan yang tengah menikmati indahnya malam bersama, yang tengah ingin memanjakan perut di warung pinggir jalan.


Sebenarnya tidak berniat untuk pergi keluar karena tidak tega meninggalkan Ara di rumah, tetapi rasa ingin makan di luar yang sangat besar membuat kami terpaksa menuruti apa yang aku inginkan. Dan ini adalah ngidam yang berikutnya.


Entah apa yang ingin dikatakan oleh Jihan kepada kami, Dia terlihat begitu serius hingga akhirnya berhenti tepat dihadapan kami.


"Maaf jika saya mengganggu acara kalian berdua, saya datang hanya untuk mengucapkan terima kasih kepada kalian. Tanpa kalian Aku akan terus menyesal karena telah membuat Papa kehilangan semua hartanya. Tapi itu tidak terjadi dan itu dia berkat kalian berdua. Terima kasih."


Aku menoleh ke arah Mas Devan dia selalu saja berwajah tenang meski dalam keadaan apapun, apalagi dalam keadaan yang seperti ini. Dalam keadaan genting saja dia masih bisa tersenyum.


"Saya juga ingin meminta maaf karena pernah berprasangka buruk kepada kamu. Dan juga maaf karena saya tidak mengetahui kalau ternyata Mas Aditya sudah menikah denganmu sebelum menikahi_ku."


"Tapi itu semua karena aku memang benar tidak tahu akan kebenaran hubungan kalian berdua. Dan aku juga minta maaf seandainya aku adalah penyebab kehancuran rumah tangga kalian berdua."


Jihan terlihat begitu menyesal, dia begitu bersedih dengan semua kenyataan ini. Tapi ini bukanlah kesalahannya dan aku juga tidak menyalahkan dia atas kehancuran rumah tanggaku dengan mas Aditya.


"Kamu tidak bersalah jadi tidak perlu kamu meminta maaf kepadaku tentang hancurnya rumah tanggaku dengan Mas Aditya. Semua itu memang sudah menjadi takdir kalau memang hanya sampai segitu saja Tuhan menjodohkan kami. Karena sekarang Tuhan telah menyatukan aku dengan jodoh sebenarnya."


Aku tersenyum seraya menoleh ke arah Mas Devan, tanganku juga langsung merangkul lengannya dan menggeser berdiri sehingga jarak begitu dekat.


"Karena Mas Aditya menceraikan ku membuat aku sadar siapa dia sebenarnya. Dan karena itu juga aku bisa bersama dengan Mas Devan dan bisa bahagia sebagai keluarga yang lengkap."


"Syukurlah kalau kamu tidak menyalahkanku dengan semua yang telah menimpa kamu dulu hingga sekarang. Tetapi sungguh aku benar-benar tidak tahu kalau Mas Aditya sudah pernah menikah. Sekali lagi saya minta maaf."


Aku mendekati Jihan menyentuh kedua tangannya dan tak lama langsung memeluknya dengan hangat sebagai teman.


Kami sesama wanita, tentunya bisa saling memahami apa yang telah kami rasakan. Aku memang sedih karena perbuatan mas Aditya, tapi Jihan juga lebih menderita karena dia di bohongi besar-besaran oleh mas Aditya.


Bahkan bukan itu saja, dia juga hampir kehilangan hartanya karena ketamakan mas Aditya. Dia serakah dan juga sangat egois.


"Benarkah kamu mau menjadi teman dari perempuan sepertiku? Aku yang telah membuat kamu menderita."


"Semua orang memang pernah melakukan kesalahan, dan mereka juga berhak untuk mendapatkan satu kali kesempatan. Dan aku berikan kesempatan itu untuk mu."


Aku tersenyum, melepaskan pelukan dan mundur satu langkah untuk menjauh.


"Terima kasih," Jihan terlihat begitu senang, tangannya juga ikut menyatukan dengan tanganku. Seperti anak abg saja yang baru kenal.


"Bagaimana kalau ikut makan dengan kami. Tapi hanya di pinggir jalan saja sih, tapi kalau kamu tidak keberatan tidak apa-apa." ucapku menawarkan.


"Iya kan, Mas?" Aku menoleh ke arah mas Devan seraya meminta izin juga padanya.


"Tentu, kalau kamu mau tidak masalah." Mas Devan berjalan mendekat, berdiri di sebelahku lalu merangkul pundak.


"Tidak usah, nanti ganggu kebahagiaan kalian lagi." Jihan terlihat begitu sungkan.


"Tidak kok, ayo." Sebenarnya aku takut untuk mengajaknya, dia adalah perempuan yang lahir dari orang kaya, semua pasti terjamin begitu juga dengan makanannya. Apakah tidak masalah jika mengajaknya makan di pinggir jalan?


"I_ ini beneran?" Jihan masih ragu, ingin melangkah tapi terlihat takut.


"Beneran, ayok." Aku tarik tangannya, sementara aku sendiri di rangkul oleh mas Devan.


Senangnya, akhirnya menambah teman lagi. Semoga saja Jihan baik sama seperti Mika. Amin.


Ternyata, Jihan mau juga di ajak makan di pinggir jalan. Ternyata semua itu hanya ketakutan ku saja.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...