Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Ketakutan Ara



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Aku pikir seharian full ini mas Devan akan terus bersama kami setelah mengantarkan ke sekolah tadi. Meski sempat jalan-jalan sebentar tapi ternyata kami langsung pulang dan mas Devan tak lama di rumah lalu pergi ke kantor.


Dia bilang aada meeting mendadak yang tak bisa di tinggalkan dan aku harus menghargai kesibukannya. Tak boleh terlalu menuntut juga tak boleh terlalu menginginkan mas Devan hanya terus di rumah saja.


Entah, aku sendiri juga tidak tau kenapa rasanya sangat sulit jika di tinggal oleh pak Devan ke manapun. Sebentar saja kadang sudah kesal apalagi kalau di tinggal lama rasanya Ingin memakan apapun yang ada.


Tapi inilah nasib memiliki suami yang seorang pemilik perusahaan besar, dia akan selalu sibuk dan akan jarang ada di rumah. Tapi ada dan juga tidaknya dia tidak terlalu mempengaruhi sebenarnya tapi kenapa setiap tak ada dirinya rasa rindu itu sangat besar padahal bagaimana sebelumnya.


Kalau di pikir-pikir lucu juga sih, dulu seolah menolak-nolak tapi sekarang? tak ada dia satu jam saja rasanya sehari tak bertemu.


Inilah perubahan yang sangat membuat aku bingung, rasanya juga sangat ketergantungan dengan dirinya karena apapun jadi menginginkan dia selalu ada.


''Bunda, bunda kenapa diam saja di sini?'' kedatangan Ara mengejutkan lamunanku yang baru beberapa saat.


''Bunda, ayo temenin Ara saja daripada di sini sendiri,'' ajak Ara yang dengan sangat menggemaskan.


Dengan senang hati aku mengikutinya apalagi di tambah dengan Ara yang sudah menggandeng tangan dan menariknya membuat aku tak bisa berkutik lagi selain ikut dengannya.


''Pelan-pelan Ara sayang,'' aku merasa sangat takut karena Ara yang terus mengajak lari. Bukan hanya karena takut jatuh dan Ara akan sakit saja tapi karena aku harus menjaga janin yang masih sangat rentan yang ada di dalam kandungan ku.


Saking tak sabarnya Ara tetap tak menanggapi apa yang aku katakan barusan, dia terus berlari dan membuat aku berjalan dengan cepat.


''Ayo bunda, kita sudah di tunggu oleh Sus Neni,'' antusias dan semangatnya sangat besar utuk bisa secepatnya sampai di ruang tengah.


Rasa was-was sangat besar di setiap kaki mengayun menginjak lantai, berhasil di buat merinding aku oleh Ara saat ini. Jika saja ada mas Devan pasti suara buritonnya yang akan kami dengar.


''Nyonya, hati-hati,'' dan malah pelayan yang menegur juga terlihat mengerutkan keningnya dan juga beberapa kali menutup mata.


''I_iya,'' jawabku dengan sangat gugup jelas aku sangat takut kalau sampai nanti dia akan mengatakannya pada Mas Devan dan pasti aku akan mendapatkan amarah besar darinya nanti.


Karena teguran itu aku langsung berusaha untuk menahan Ara supaya tidak berlari dan itu cukup berhasil dan kami bisa berjalan dengan tenang dan santai.


Sampailah kami di ruangan tengah di mana semua mainan Ara sudah ada di sana. Semua sudah berada di atas karpet bulu berwarna hijau yang memang selalu di siapkan.


Kami duduk dengan begitu anteng dan tangan mulai memainkan mainan Ara.


Begitu bahagia Ara, dia bisa memiliki semua yang dia mau yang dulu tak pernah bisa aku membelikannya. Bukan hanya sekedar mainan saja, tapi makanan juga pakaian semua sudah terjamin.


Bukan hanya kami berdua saja yang bermain tapi juga ada Sus Neni.


"Bunda, Ara beneran akan punya adek?" tiba-tiba saja Ara bertanya akan hal itu.


Seketika aku menoleh dan melihat ke arahnya. Gadis kecil itu terus memandangi ku dengan tatapan yang sangat aneh. Sebenarnya apa yang dia pikirkan?


"Bunda, kalau Ara punya adek bunda dan ayah akan tetap sayang kan sama Ara?"


Deg...


Pertanyaan seperti ini yang membuat hati seorang ibu akan terasa tersayat-sayat dan begitu pedih. Membayangkan saja aku sudah takut dan sekarang Ara benar-benar bertanya hal ini.


"Jelas dong, meski Ara punya adek ayah dan bunda akan tetap sayang sama Ara."


"Tapi banyak yang punya adik tapi orang tua mereka lebih sayang dan perhatian pada adiknya, Ara takut kalau ayah dan bunda akan melupakan Ara," matanya sudah langsung berkaca-kaca bahkan suaranya sudah tidak seperti yang tadi lagi.


Adiknya belum lahir saja Ara sudah merasa cemburu seperti ini bagaimana kalau besok? Semoga saja pemikiran seperti ini hanya sesaat saja dan tak akan berlarut-larut.


Ya Allah, entah dari mana awal mula Ara punya pikirkan yang seperti ini. Padahal dia tidak pernah keluar rumah tanpa diriku, lalu ini dari mana?


Bahkan anak sekecil Ara bisa merasakan kecemburuan yang pasti akan sangat menyakitkan jika itu benar-benar terjadi tapi tidak akan pernah aku biarkan. Ara dan juga anak yang belum lahir ini mereka sama-sama anakku yang akan mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sama.


"Bunda tidak berbohong kan? Bunda dan ayah tidak akan meninggalkan Ara sendiri kan?" tanyanya lagi. Kepalanya melepaskan diri dan melihat ke atas, tepatnya di bagian wajahku yang sekarang menunduk ke arahnya.


"Bunda tidak pernah berbohong kan pada Ara? Sampai kapanpun bunda tidak akan pernah meninggalkan Ara. Ara adalah anak kesayangan Bunda yang akan menjadi kakak terbaik untuk adik, benar begitu kan?"


"Iya, Bunda," Ara kembali memeluk, menenggelamkan wajahnya di pelukan ku.


Sedih rasanya mendengar ucapan Ara saat ini.


"Ara, tidak boleh sedih-sedih lagi. Hem, bagaimana kalau kita siapkan barang-barang yang akan di bawa ke sekolah besok?"


Berusaha aku mengalihkan pembicaraan, mengalihkan kegiatan kami yang mungkin sedikit membosankan.


"Iya iya!" Ara mengangguk cepat, dia kembali semangat setelah mendengar kata sekolah.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Rasa lelah karena aktivitas membuat aku juga Ara tertidur di kamar Ara. Padahal semua yang harus di siapkan belum juga beres tapi kami sudah keburu tidur.


Entah sejak kapan kami tidur karena tadi kami masih menata dan memilah satu persatu barang yang memang di perlukan.


Aku bangun saat ini pun juga masih memegang bubu bergambar boneka barbie sementara Ara? Ara memeluk ku dengan memegangi pencil.


"Capek banget ya?" suara yang sama inilah yang membuat aku terbangun dan ketika aku menoleh ternyata mas Devan sudah duduk di sebelah ku dengannya tersenyum.


Dia terlihat lelah, seandainya kasur ini tidak penuh dengan boneka dan barang-barang Ara mungkin mas Devan akan ikut rebahan juga, tapi ternyata dia hanya sebatas menunggu ku yang tidur sampai bangun karena suara lirihnya tetap aku dengar.


Aku menoleh ke arah Ara, Ara masih terlelap dengan tangan memeluk seakan tak mau melepaskan.


"Mas sudah tadi pulangnya, kok tidak bangunkan Nay?" aku angkat perlahan tangan Ara dan berniat untuk bangun.


Di saat aku akan bangun dengan sigap mas Devan membantuku dan berhasil duduk di hadapannya.


"Maaf, Nay ketiduran," ucapku mencoba menjelaskan.


"Tidak apa-apa, kamu memang harus banyak istirahat. Kamu harus sehat begitu juga anak kita."


Rasa lelah pastilah akan hilang jika kembali ke rumah dan melihat orang-orang tercinta, itu kata orang-orang yang sudah mengalaminya apakah itu berlaku juga dengan mas Devan?


"Kenapa, kamu memikirkan sesuatu?"


Apakah wajahku benar-benar terlihat kalau aku sedang memikirkan sesuatu? Aku hanya masih kepikiran saja dengan apa yang Ara katakan tadi. Tak akan mudah untuk menghilangkan ketakutan itu dari Ara meski dia tadi sudah mengerti, hal kecil saja yang terjadi pasti akan membuat dia berpikir yang tidak-tidak, pikirannya akan selalu sensitif kan?


"Tidak apa-apa. Apa mas membutuhkan sesuatu? Aku akan siapakan," cepat aku mengalihkan pembicaraan.


"Aku hanya butuh kamu."


"Hah!"


❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Bersambung...