Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kemarahan Aditya



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


POV AUTHOR...


Hawa panas masih menyelimuti setiap inci dari tubuh Aditya, amarahnya seakan terus menggelora di sekujur jiwa melalui setiap aliran darah yang terus berputar sebagaimana semestinya.


Kedatangannya ke rumah pak Abraham sama sekali tidak mendapatkan hasil baik seperti yang dia inginkan, dan kini malah menjadikan dirinya seperti sebuah daging yang di panggang dan panasnya seakan ingin menghanguskan.


"Arghh!" teriakannya terdengar begitu frustasi karena kegagalan yang dia dapatkan. Bagaimana tidak amarahnya menggebu-gebu, tak pernah dia dapatkan kegagalan dan kali ini dia benar-benar telah gagal.


Tidak ada Jihan membuat Aditya seakan bebas untuk bisa marah-marah di dalam kamarnya. Menuntaskan amarah yang tak seharusnya dia lampiaskan pada benda-benda mati. Kali ini hanya vas bunga yang dia cengkram hingga pecah.


Pecahan itu terjun bebas ke lantai dan kepingan-kepingan itu jelas melukai tangannya yang kini hanya mampu menggenggam bunga yang sudah layu.


Matanya terus membulat mengarah ke arah cermin yang memantulkan dirinya, wajahnya yang sangat menakutkan jelas terlihat sangat nyata di hadapannya.


"Tidak mungkin Nayla sudah menikah. Tidak mungkin anak itu adalah anak dari Devan dan juga Nayla, semua terlihat nyata bahwa anak itu adalah anakku!"


Suaranya sangat jelas terlihat dan sangat nyata. Jika saja di rumah ada orang pasti akan mendengar semua yang dia katakan tapi untungnya tak ada siapapun.


Amarah Aditya begitu sangat besar hingga rasanya sangat susah untuk dikendalikan bahkan Aditya sendiri pastilah akan susah untuk mengembalikan ketenangannya.


Padahal Sudah dari kemarin Aditya menahan semua amarahnya dan sampai saat ini bahkan hari sudah berganti amarah itu belum juga hilang dan masih begitu nyata di dalam hatinya.


Ting...


Belum juga amarahnya reda ada pesan masuk di ponselnya. Cepat Aditya bergerak untuk menyalakan dan melihat siapa yang telah mengirimkan pesan.


"[Saya dengar kemarin kamu datang ya Dit ke rumah? maaf ya aku tak ada karena sedang ada perayaan anniversary. Hem, tenang saja, tapi aku punya hadiah untuk kamu.]"


Ting...


Pesan kedua masuk dan tentu membuat Aditya terbelalak. Sebuah foto yang orang di dalamnya sangat dia kenal.


Semakin marah Aditya setelah melihat foto tersebut bagaimana tidak! itu adalah foto dari Jihan dan juga Vino. Devan yang sengaja mengirimkannya.


Kring... kring....


Belum juga amarah itu hilang Devan malah sengaja menghubungi Aditya entah apalagi yang akan dia katakan, apakah dia ingin mengejek Aditya yang ternyata istrinya sedang bersama orang lain?


"Apa mau_mu?!" suaranya semakin menggebu-gebu.


"[Yang aku mau? tidak ada. Aku hanya ingin katakan, lebih baik kamu urus istrimu, awasi dia daripada kamu sibuk dengan urusan orang lain.]"


"Apa maksudmu?!"


"[Maksudku? tidak perlu aku jelaskan semua maksud ku karena kamu sudah bisa melihat sendiri apa yang terjadi. Bukankah kamu tidak bodoh kan, Dit.]"


"[Kamu lihat baik-baik apa yang istrimu lakukan dengan laki-laki lain. Semoga saja rumah tangga mu tetap akan damai ya meski terjadi seperti ini. Dan semoga saja kamu tidak akan meninggalkan istrimu, dia kan kaya raya.]"


"[Kamu kan menikahi dia bukan karena akhlaknya tapi karena hartanya, seharusnya apapun yang dia lakukan tidak akan jadi masalah. Iya kan?]"


Tut.. tut.. tut...


Belum juga Aditya menjawab tapi telfon sudah di matikan oleh Devan semakin tambah besar amarahnya sekarang ini.


"Kamu keterlaluan, Jihan! kamu mengkhianati_ku!"


Tangannya mengepal dengan suara yang terus melengking. Dia sangat ingin mendatangi Jihan di gempa itu sekarang juga jika seandainya dia tau tempat keberadaan itu. Tapi jika dia tau dia juga tidak akan punya keberanian karena dia takut Jihan akan pergi. Dia tidak mah jadi gelandangan.


"Kamu pikir hanya kanu yang bisa melakukan ini, Jihan. Jika kamu bisa melakukan dengan diam-diam aku_pun juga bisa."


Akal sehat Aditya sudah hilang karena amarahnya sekarang ini. Amarahnya membuat dia tak bisa berpikir dengan baik dan malah berniat untuk membalas hal yang sama.


Aditya kembali mengambil ponselnya yang ada di atas ranjang, memasukkan di dalam kantong celana dan juga bergegas pergi dengan membawa amarahnya.


Tak peduli dengan keadaannya yang sangat awut-awutan Aditya tetap keluar dan bergegas pergi dari rumah.


"Loh, Dit! kamu mau kemana?!" langkah Aditya di hentikan oleh kedatangan kedua mertuanya yang baru saja pulang entah dari mana.


Keduanya terlihat sangat penasaran, mereka sangat bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan Aditya karena melihat keadaannya yang sekarang ini.


"Dit, kamu tidak apa-apa kan? ku ada masalah?" tanya lak Pratama.


Aditya yang mendengar tentu langsung berhenti padahal sudah hampir sampai di mobilnya. Dia juga segera menoleh meski dengan sangat malas.


"Pa, sudah pulang?" tanya Aditya yang berusaha tenang dan bertingkah baik-baik saja.


"Iya, papa dan mama baru saja pulang. Kamu mau kemana dengan keadaan seperti ini, apakah ada masalah?" jelas pak Abraham sangat curiga.


"Tidak, Pa. Aditya tidak ada masalah. Hanya ingin keluar sebentar. Ada barang Adit yang tertinggal di kantor dan Adit akan mengambilnya," jawab Aditya berbohong.


"Apa tidak besok saja, kamu terlihat sangat lelah loh, Dit," saran mama mertuanya.


"Tidak apa-apa, Ma. Hanya sebentar saja kok."


"Berangkat dulu, Ma, Pa," Aditya benar-benar pamit dan juga bergegas untuk segera pergi entah sebenarnya dia akan pergi ke mana tapi yang pasti ada sesuatu yang ingin dia lakukan.


Meski dia menikahi Jihan karena hartanya tapi melihat Jihan dengan laki-laki lain tentu hatinya seakan terbakar dan sangat membara.


Besar usahanya untuk bisa menenangkan hatinya tapi belum kita berhasil, tidak akan semudah itu.


Sementara pak Pratama juga sang istri jelas merasa ada yang aneh dengan menantunya itu, tidak biasanya dia terlihat seperti itu.


Aditya yang biasa memastikan semua baik saat keluar kali ini tidak, dia terlihat sangat berbeda.


"Sebenarnya ada masalah apa ya, Pa. Semoga saja Adit dan Jihan tidak ada masalah."


"Iya, Ma. Semoga saja masalah apapun yang sedang di alami oleh Aditya itu tidak bersumber pada Jihan," jawab pak Pratama.


Keduanya sangat berharap, Aditya dan juga Jihan akan selalu baik-baik saja dan rumah tangganya akan selalu baik.


Jihan adalah anak satu-satunya dari mereka jelas mereka menginginkan hal yang terbaik. Di mata mereka Jihan juga anak yang sangat baik dan tidak aneh-aneh, tidak terlalu suka bergaul jadi tidak akan mungkin ada hal buruk yang dia lakukan.


Seandainya mereka tau pastilah mereka akan sangat kecewa, tapi Jihan begitu pintar menyembunyikannya pada mereka.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....