Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kemarahan Nayla



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Begitu antusias Nayla menyiapkan makan siang untuk Ara juga Devan. Devan akan pulang sebentar lagi begitu juga dengan Ara.


Kalau Ara pasti sebentar lagi pulang karena dia memang pulang lebih awal daripada Devan.


Kemarin Ara pulang bersama dengan Devan tapi sekarang? sekarang Ara ada yang menjemput dan itu adalah sopir yang di bayar secara khusus oleh Devan dan itu adalah sopir khusus Ara.


Di bantu beberapa para pelayan Nayla terus sibuk, dia harus bisa menyelesaikan masakannya sebelum Ara juga Devan pulang. Kalau mereka sudah pulang tapi semua belum matang yakin Nayla akan semakin tergesa-gesa nantinya.


"Aww!" pekik Nayla ketika memotong sayuran dan pisaunya mengenai tangan Nayla.


Salah satu pelayan langsung maju untuk melihat keadaan Nayla.


"Astaga ,Nya!" pekik pelayan itu. "Ambil kotak obat sekarang," pintanya dan salah satu pelayan seketika berlari untuk mengambil kotak obat apa yang di perlukan.


Kejadian ini benar-benar membuat Nayla sangat terkejut bahkan dia sangat panik juga khawatir. Tiba-tiba saja hatinya mengkhawatirkan sesuatu yang sama sekali tidak dia ketahui apa alasannya.


Di tengah-tengah dia memencet tangannya sendiri dia juga melamun sementara pelayan tadi yang telah membersihkan darah yang ada pada Nayla.


"Sini saya, Nya." pintanya dan juga menarik Nayla untuk berjalan menuju ke kursi yang ada di dapur.


Ara yang masih sangat khawatir dia menurut begitu saja dengan apa yang di minta oleh pelayan, dia berjalan hingga akhirnya duduk di kursi.


'Ya Allah, kenapa tiba-tiba aku merasa sangat khawatir ya? Ya Allah, ada apa ini,' batin Nayla.


"Astaga, Nya. Kok bisa jadi seperti ini sih," dengan terus membantu tangan Nayla pelayan itu berbicara dia juga ikut khawatir.


Nayla masih tidak mendengarkan apa yang pelayan itu katakan, dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri yang seperti tidak ada di sana, tapi di mana? Nayla sendiri tidak tau.


"Nyonya, apa nyonya baik-baik saja sekarang? apakah mungkin saya hubungi tuan Devan?" sarannya.


"Tidak usah, saya tidak apa-apa saya hanya sedang tidak fokus, saya tidak apa-apa kok, beneran," jawab Nayla.


"Baiklah," jawab pelayan itu pasrah.


Kring... kring... kring...


Tiba-tiba saja ponsel pelayan itu berbunyi.


"Maaf, Nya. Saya izin angkat telefon dulu." izin pelayan. Dia menjauh karena tugas untuk membantu luka Nayla juga sudah selesai di kerjakan.


Nayla mengangguk mengizinkan dan secepatnya pelayan itu menjauh dari Nayla.


Sepeninggalan pelayan itu dari hadapannya Nayla melihat jam dinding, dia semakin khawatir karena biasanya Ara sudah pulang tapi kenapa sekarang belum pulang?


"Ara kok belum pulang sih?" gumamnya.


Sementara pelayan itu yang menjauh dari Nayla juga langsung melihat layar ponsel untuk melihat siapa yang telah menghubunginya.


"Sus Neni," gumamnya.


"Hallo, ada apa Sus?" tanyanya pada orang yang telah menghubunginya dan ternyata adalah suster Neni.


"... "


"A_apa!" pekik pelayan itu, dia sangat terkejut dengan kabar yang telah di berikan oleh Sus Neni padanya.


"Ada apa, Mbak?" tanya Nayla yang melihat pelayan itu sangat terkejut ketika berbicara dengan orang di telefon.


"Nya..., i_ini..."


pelayan itu terlihat takut untuk menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi sekarang ini, berita yang diabaikan terima pasti akan sangat membuat Nayla syok.


"Ada apa, Mbak?" Nayla mendekat dia bahkan mengambil ponsel yang belum di matikan.


Nayla melihat lebih dulu siapa yang telah menghubunginya sebelum dia bicara pada orang itu yang tidak lain adalah Sus Neni yang bersama Ara.


"..."


"A_apa! se_sekarang bagaimana keadaan Ara, dia di mana, di sekolah kan?! oke saya akan ke datang."


"..."


"Terus?"


"... "


Tidak mengatakan apapun lagi Nayla langsung bergegas pergi untuk ke tempat di mana Ara berada saat ini.


Bukan hanya Ara yang di beri fasilitas seperti sopir tapi Nayla juga. Di rumah juga ada seorang supir yang selalu bersedia untuk mengantarkan kemanapun Nayla pergi.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Begitu khawatir Nayla sekarang ini, dia mendapatkan kabar kalau Ara masuk ke rumah sakit, bagaimana mungkin dia akan diam diri begitu saja, jelas dia akan segera menghampiri dimana Ara berada.


Dengan langkah yang buru-buru Nayla cepat masuk ke rumah sakit setelah sampai. Dia juga menyempatkan diri untuk bertanya ke bagian informasi untuk bertahan akan keberadaan anaknya.


Nayla kembali berlari lagi setelah mendengar kabar dimana keberadaan Ara sekarang.


"Astaghfirullah, sebenarnya apa yang telah terjadi pada Ara?" gumam Nayla.


Nayla semakin mempercepat langkahnya dia sangat khawatir dan ingin secepatnya tau bagaimana keadaan Ara.


Matanya begitu melotot dengan jantung yang seketika berdetak kuat setelah melihat siapa yang ada di depan pintu, siapa lagi kalau bukan Aditya yang tengah mondar-mandir.


"Mas Aditya? apa yang dia lakukan?" tangannya mengepal dengan amarah yang semakin memuncak.


Nayla tidak langsung menemui Aditya, tapi dia menemui Sus Neni yang juga ada di sana.


"Sus, apa yang terjadi. Dan kenapa orang itu ada di sini?" tanya Nayla dengan sinis dan tatapan matanya tertuju pada Nayla.


Aditya tau, ini akan terjadi padanya. Nayla pasti akan marah kalau tau dia ada di sana apalagi kalau sampai dia tau apa yang telah terjadi pada Ara kemungkinan besar itu karena dirinya.


"Sebenarnya, orang ini yang telah membawa Non Ara ke sini, Nyonya. Kata guru dia menyelinap masuk untuk menemui Non Ara dan juga... dia memberi jajanan sembarangan pada Non Ara."


Mata Nayla semakin nyalang penuh dengan amarah, jelas dua sangat marah karena perbuatan Aditya yang di rasa sesuka hatinya sendiri.


Bertahun-tahun Nayla berjuang untuk membuat Ara selalu baik-baik saja dan dia tak pernah mengizinkan Ara makan apapun kecuali dibawah pengawasannya, tapi Aditya?


Nayla berjalan dengan sangat tegas dan penuh amarah dia berhenti di hadapan Aditya yang tak lagi bergerak namun sudah fokus pada Nayla.


"Nay, maaf. Sa... saya..."


Plakk....


"Puas, puas sekarang. Kamu mau apa lagi Mas! kamu sudah menyia-nyiakannya dan sekarang jamu juga mau menyingkirkannya. Apa kesalahan ku, apa kesalahan Ara! hah!"


Begitu marah Nayla saat ini bahkan tanpa pikir panjang dia langsung menampar Aditya dengan begitu kencangnya.


Aditya diam tak mengatakan apapun namun tangannya langsung memegangi pipinya yang di tampar oleh Nayla barusan.


"Apa salah ku, Mas! apakah belum cukup kamu menyakiti ku, menyakiti Ara, hah! apakah belum cukup!"


Tangisan Nayla pecah, dia sangat kecewa dan juga marah karena perbuatan Aditya, tapi dia juga sangat khawatir dengan keadaan Ara yang belum dia ketahui.


"Puas kamu sekarang, Mas, puas!"


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....