
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Alhamdulillah, setelah terus membujuk Ara akhirnya aku juga Mas Devan bisa pergi juga dari rumah sakit. Jika bukan karena hal penting mana mungkin aku akan tega meninggalkan Ara, ya! meski ada Mika bersamanya.
Mas Devan terus saja mewanti-wanti diriku untuk bisa mengendalikan diri saat masih di perjalanan. Tak boleh ini itu, pokoknya harus bisa menahan diri dari amarah apalagi emosi yang berlebihan. Semua ini juga tentu demi bisa memenangkan Ara.
"Iya, Mas. Aku akan melakukannya, karena aku tidak ingin sampai kehilangan Ara. Dia adalah anakku, tidak akan aku biarkan mas Aditya mengambilnya." kataku.
Mas Devan tersenyum mendengar ucapan_ku yang yang begitu meyakinkan. Bukan itu saja, tapi mas Devan juga sampai membelai kepala bagian belakang ku.
"Ya, Ara akan selalu bersama kita. Tak akan pernah aku biarkan hak asuh Ara jatuh pada laki-laki tak bertanggung jawab seperti Aditya. Apalagi laki-laki mata duitan sepertinya."
Mas Devan terlihat begitu geram, sementara aku malah tersenyum mendengar mas Devan mengatakan mas Aditya mata duitan. Memang benar sih, tapi lucu aja ketika mas Devan yang mengatakan.
"Kenapa malah tersenyum, apakah lucu?" Mas Devan ikut tersenyum melihatku.
"Lucu banget, Mas." Ku towel pipinya yang terlihat lebih tembem sekarang, mungkin dia selalu bahagia jadi terlihat lebih berisi sekarang.
Entahlah, setelah Ara sakit aku juga lupa seperti apa mas Devan, aku jarang menatap wajahnya dengan lekat, bahkan kami sudah tak pernah bermesraan sebagai semestinya. Bagaimana mau bermesraan hanya ciuman saja langsung ketahuan sama Ara.
"Mulai jail ya tangannya sekarang. Pengen di hukum sepertinya."
"Di hukum? Tidak mau." Aku menolak, jelas saja siapa yang akan mau di hukum anak TK juga tau kalau di hukum pasti tidak akan mau karena tidak enak. Apalagi aku?
"Hem, pokoknya hukuman menantimu," Gantian mas Devan yang mencubit pipiku. Tubuhnya miring kearah_ku dengan kepala yang bersandar di pundak.
"Mas, serius dong nyetirnya. Aku belum mau mati," Aku dorong wajahnya dan berhasil menjauh, tapi mas Devan malah tertawa. Sungguh menjengkelkan.
Tak lagi menjawab, dia hanya tertawa dan kembali fokus dengan jalan raya. Ternyata nurut juga mas Devan meski juga menertawakan.
Tapi tak masalah, aku senang bisa melihat dia tertawa tidak serius seperti kemarin lagi. Rasanya tak enak melihat wajahnya tampan itu begitu gelisah dan serius.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Aku juga begitu nyaman berada di dekatnya, tak pernah aku ragu aku yakin dia akan terus melindungi_ku dari siapapun, termasuk mas Aditya.
Langkah terhenti di saat berpapasan dengan mas Aditya, dia terlihat sinis menatap kami. Matanya melotot tak suka apalagi melihat aku yang terus di gandeng mas Devan.
Bukan hanya menggandeng tangan saja sekarang, setelah melihat mas Aditya kini mas Devan malah merangkul pinggang ku. Tentu saja dia hanya ingin menyalakan sumbu supaya api dalam hati mas Aditya membakar dirinya sendiri.
Mas Aditya memang tidak mengatakan apapun, tapi dia terus menatap dengan penuh kebencian terutama untuk mas Devan, sepertinya dia sangat marah pada mas Devan karena terus merangkul_ku. Cemburu? Mungkin.
Sementara mas Aditya sendiri mana peduli, dia tetap acuh dan malah terkesan sengaja. Dia mengeluarkan smirk yang luar biasa indahnya dan membuat mas Aditya semakin terlihat marah.
Tatapannya mengekor pergi meninggalkan kami setelah pengacaranya menyentuh bahunya dan mengajaknya masuk. Mas Aditya benar-benar berjalan untuk masuk lebih dulu.
Jantungku terus berdetak cepat, aku sangat gugup untuk mengikuti persidangan ini. Aku belum terbiasa, bahkan memang belum pernah karena ini adalah pertama kalinya. La perceraian saja aku tidak tau prosesnya seperti apa?
"Tenang saja, jangan terlalu gugup atau takut. Ada aku di sini yang akan selalu bersamamu." Mas Devan lagi menguatkan ku.
Aku menoleh, senyumnya mampu membuat aku tenang. Aku harus yakin dan harus tenang, demi Ara.
Tak akan aku biarkan mas Aditya menang apalagi sampai mengambil Ara dariku, tidak.
"Ayo," mas Devan semakin erat merangkul, menuntun masuk setelah dia juga mengangguk sekilas pada pengacaranya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....