Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Tekat Jihan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Memang, Mas Devan harus selalu menemani ku di rumah sakit untuk menjaga Ara, tapi bukan berarti dia harus selalu stay selama dua puluh empat jam.


Dia juga harus bertanggung jawab untuk menangani perusahaannya, harus datang ke perusahaan untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Tanggung jawabnya bukan hanya pada kami saja, tapi juga pada perusahaan.


Mas Devan sebenarnya ingin terus menemaniku, tapi aku yang meminta dia untuk pergi ke perusahaan. Aku bisa menjaga Ara di rumah sakit, lagian aku juga tidak sendiri ada Sus Neni juga yang menemani.


Tapi kebiasaan Mas Devan, dia selalu ngeyel jika masalah Ara. Dia ingin tetap bertahan dan tentu aku yang terus meminta dia untuk mengurus pekerjaannya.


"Sayang, please ya, biarkan aku di sini saja bersama kalian berdua," ucap Mas Devan begitu memohon.


"Tidak, Mas. Kamu harus tetap pergi, kamu tidak bisa terus di rumah sakit pekerjaan mu juga harus kamu kerjakan, Mas. Kasihan papa kalau beliau yang harus terus mengurusnya," jawabku.


"Hem..., baiklah. Tapi aku hanya akan pergi sebentar. Aku akan pulang saat siang nanti."


Itu lebih baik menurutku daripada tidak sama sekali untuk dia pergi ke perusahaan.


Padahal Mas Devan juga sudah rapi sebenarnya dengan pakaian kerjanya, tapi dia masih saja terus merengek untuk minta terus bertahan di rumah sakit.


"Hati-hati ya, jangan nakal. Kalau ada sesuatu langsung hubungi aku."


Mas Devan langsung meraih kepalaku dan memberikan kecupan hangat dan itu benar-benar aku rasakan membuat mataku sejenak terpejam ketika bibirnya menyentuh kening.


"Ingat, jangan aneh-aneh," ucapnya lagi memperingatkan. Dan tanganku langsung meraih tangannya, ditambah dengan mengajak punggung tangan.


"Aku akan cepat kembali," ucapnya lagi. Kakinya perlahan mulai melangkah pergi dan meninggalkan aku juga Ara yang masih tertidur.


Aku mengantarkan Mas Devan sampai di depan pintu dan ternyata bukan hanya Sus Neni saja yang menemani tapi juga ada dua penjaga yang berjaga di kanan kiri pintu.


Aku semakin tenang dengan keberadaan mereka, meski ini sebenarnya sangat berlebihan tapi aku tau ketakutan yang di rasakan oleh Mas Devan, dia akan lebih tenang pergi jika ada di penjaga.


"Hati-hati," ucapku. Tangannya mengelus kepala bagian belakang dan meninggalkan senyum untuk membuat aku lebih kuat menghadapi semuanya.


"Pasti," jawab Mas Devan. Kakinya langsung melangkah pergi. Aku menunggu sesaat di sana dan setelah Mas Devan sudah tidak terlihat barulah aku masuk lagi ke dalam kamar.


"Bunda," baru saja beberapa langkah sudah langsung di sambut dengan suara Ara yang memanggil. Ternyata Ara sudah bangun.


Aku semakin cepat dalam melangkah, menghampiri Ara yang terlihat begitu bingung.


"Ada apa sayang, apakah ada yang sakit?"


"Tidak, Bunda. Ara hanya pengen pipis," katanya dengan begitu lirih, bahkan seperti berbisik karena gak mau di dengar oleh Sus Neni yang juga ada di sana.


Padahal Ara juga sudah biasa selalu bersama Sus Neni, Tapi kali ini dia malah malu-malu padanya. Sungguh menggemaskan wajahnya saat ini.


❃❃✧༺♥༻✧❃❃


"Mas, kenapa mas begitu tega melakukan ini pada Jihan!" Perdebatan tengah terjadi di kamar Jihan juga Aditya.


Perdebatan yang kian sengit antara keduanya. Jihan begitu tak habis pikir kalau ternyata syarat Aditya untuk tetap mempertahankan pernikahan mereka adalah aset harta Pratama yang sekarang sudah di dapatkan.


Begitu bahagia Aditya saat ini, berkas yang telah dia buat sudah di tanda tangani oleh pak Pratama atas bantuan oleh Jihan sendiri.


"Mas, kembalikan berkas itu. Mas tidak bisa melakukan ini pada kami!" teriak Jihan merasa tidak terima, bagaimana mungkin dia akan terima jika harta benda yang sudah papanya kumpulkan dengan kerja keras harus berujung jatuh di tangan Aditya.


Memang sih, Aditya bilang akan tetap menampung mereka semua, tapi asalkan mereka mau ikut dengan semua aturannya. Benar-benar gila si Aditya.


"Apa, kamu pikir kamu bisa mendapatkan ini lagi? Tidak, Jihan. Aku tidak akan pernah memberikan ini padamu atau pada siapapun, karena apa? Karena sekarang semua ini adalah milikku," jawab Aditya.


Begitu puas Aditya sekarang, dia berkali-kali tersenyum sinis kepada Jihan karena merasa menang, dia merasa sangat senang karena akhirnya kepintarannya berguna untuk membodohi Jihan.


"Mas, berikan! Mas!" teriak Jihan terus bahkan dia juga mengejar Aditya yang sudah berjalan untuk keluar.


"Lepas!" sentak Aditya dengan begitu kasar. Dengan begitu kasar Aditya mendorong Jihan hingga jatuh lalu pergi begitu saja.


"Mas! Mas!" tangis Jihan pecah, dia tidak menyangka kalau Aditya akan melakukan ini padanya, pad keluarganya yang telah mengangkat derajatnya.


Jihan juga tidak menyangka kalau hubungannya dengan Vino lah yang telah membuat semua ini terjadi. Niatnya ingin membuat semuanya baik-baik saja dan Aditya tidak akan meninggalkannya tapi ternyata?


Aditya memang tidak meninggalkan dia saat ini, tapi dia malah mengambil semua darinya. Tapi, sewaktu-waktu Aditya juga akan bisa meninggalkan dia, lalu Jihan bisa apa sekarang?


Jihan begitu bingung, apa yang harus dia lakukan. Bagaimana dia bisa mengatakan semuanya pada kedua orang tuanya yang jelas-jelas belum tau karena mereka sedang berada di luar kota dan baru tadi mereka berangkat setelah menandatangani berkas dari Aditya melalui Jihan sendiri.


"Kamu sangat keterlaluan, Mas. Kamu pikir kamu bisa melakukan ini padaku? Kamu pikir kamu bisa mengambil semuanya dariku? Tidak!"


"Kamu tidak ada hak untuk semua harta papa," Mata Jihan membulat begitu tajam, tangannya mengepal erat meski dia masih dalam keadaan duduk.


Jihan memang bodoh karena cinta, tapi setelah orang yang dia cintai melakukan ini padanya dia tidak akan bisa di bodohi lagi.


"Aku akan mengambil semua yang seharusnya menjadi milik ku, Mas. Kamu tidak akan bisa menguasainya meski sedikit saja."


Tekat Jihan begitu kuat untuk bisa merebut kembali hartanya dari Aditya. Tentu dua tidak akan sudi memberikannya, apalagi Aditya akan semena-mena padanya juga keluarganya.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....