Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Penyesalan Jihan



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


POV AUTHOR..


Aditya tersenyum sinis kala mendengar pertanyaan dari pak Pratama saat ini. Dia mendapatkan kunjungan dan itu adalah mertuanya. Meski pak Pratama sangat menginginkan perpisahan untuk anak dan menantunya tapi Jihan masih enggan sebenarnya.


Jihan masih sangat menyayangkan perpisahan karena dia masih sangat mencintai Aditya. Aditya adalah cinta pertamanya dan dia telah dapatkan jadi mana mungkin Jihan akan mudah berpisah begitu saja.


Kecewa, tentu saja Jihan sangat kecewa. Tidak ada istri yang tidak kecewa setelah di bohongi juga di tipu, tapi bagaimana dengan cinta yang masih melekat dalam hatinya.


Mungkin Jihan sangat bodoh, dia tidak bisa melepaskan orang yang memiliki tabiat buruk seperti Aditya, padahal di luar sana pasti banyak laki-laki yang bisa menerimanya. Tapi, apakah akan menjamin di luar sana lebih baik?


Memang, Jihan sangat sadar bahwa Aditya sangat gila harta. Dia memang mungkin menikahi dia karena hartanya, tapi yang jelas dia tidak pernah kasar padanya dan tak pernah membentaknya meski dia salah.


Bahkan ketika Jihan ketahuan selingkuh dia tidak menganiayanya dan malah melampiaskan pada benda mati.


"Apa yang membuatmu menjadi seperti ini, Dit?" tanya pak Pratama.


Matanya menyorot penuh kecewa, Aditya adalah menantu sempurna sebelumnya. Dia tidak pernah menyakiti anaknya, dia bisa di andalkan dalam segala hal dan tak pernah mengeluh, tapi kenapa sekarang menjadi seperti ini?


"Kenapa kamu tega dengan Jihan? Kamu tega berniat mengambil semua harta kami. Apakah kasih sayang yang kami berikan selama ini tidak cukup bagimu?"


Aditya terus tersenyum sinis, matanya sama sekali tak mau melihat pak Pratama yang sedang bicara.


"Apa kesalahan Jihan?" Pak Pratama begitu menegaskan.


Barulah Aditya menoleh dan menatap pak Pratama sekarang.


"Kesalahannya? Kesalahannya karena anak papa yang papa bangga-banggain itu telah berani mengkhianati ku. Dia bermain api di belakang ku, Pa. Itupun dengan temanku sendiri!"


Begitu penuh amarah Aditya menyampaikan kebenaran itu. Dia sangat kecewa pada Jihan, dia sangat kesal dan tidak melihat besarnya kesalahan dia sendiri.


"Mengkhianati mu? Itu tidak mungkin. Aku kenal siapa Jihan, dia anakku. Aku lebih mengenalnya dengan baik."


Tidak mungkin bagi sang papa akan percaya begitu saja tentang hal buruk anaknya. Dia pastilah akan menganggap anaknya selalu paling baik.


"Hem, sebohong apapun anak pasti akan selalu di anggap benar, sedangkan menantu? Menantu akan selalu salah dibandingkan anak sendiri."


Aditya tersenyum kecut, dia sudah mengatakan kebenaran tapi Pak Pratama masih saja tak percaya bagaimana mungkin Aditya akan terlihat baik-baik saja.


Meski dalam hati Aditya masih ada Nayla dan perasaannya lebih besar tapi Jihan tetaplah istrinya. Ada setitik tempat yang menjadi tempat persinggahannya dan tak akan bisa di gantikan oleh siapapun meski Nayla.


"Tidak mungkin, Jihan tidak mungkin seperti itu," Pak Pratama menggeleng kasar, dia sangat tidak percaya kalau Jihan seperti itu.


"Percaya ataupun tidak itu hak papa. Yang penting Aditya sudah katakan sebenarnya. Aditya juga punya bukti perselingkuhan Jihan dengan teman Adit, bahkan mereka berdua tidak hanya sekali dua kali, Pa. Tadi sering. Kalau papa tidak percaya tanya saja pada anak kesayangan papa itu."


Aditya begitu menegaskan dia juga mendekatkan tubuhnya pada pak Pratama yang terpaku dalam rasa tak percaya.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Pak Pratama begitu lesu ketika masuk ke dalam rumah, pikirannya masih terus fokus pada kata-kata Aditya yang sangat susah untuk dia percaya.


Benarkah anak yang dia lihat begitu baik dan begitu penurut itu bisa melakukan hal sekeji itu? Mengkhianati suaminya sendiri? Demi apa?


"Pa, papa baru pulang?" Sang istri menghampiri ketika melihat kepulangannya.


Pak Pratama masih diam, seakan kehilangan fokus pada hal lain. Sejenak diam tak mengatakan apapun tapi setelah berhenti di tengah-tengah ruang tamu pak Pratama langsung berteriak begitu keras.


"Jihan! Jihan!" teriakannya begitu menggema.


Sang istri jelas saja sangat terkejut karena suara lantang itu ketika memanggil anaknya. Tak biasanya seperti itu, terlihat jelas ada kemarahan yang bercampur dengan suaranya.


"Jihan!" Kembali pak Pratama berteriak, dia harus mendengar langsung dari anaknya. Dia tidak akan percaya dari sepihak saja. Aditya bisa saja berbohong karena untuk menutupi kesalahannya sendiri.


"Ada apa sih, Pa. Kenapa papa terlihat sangat marah?" Tanya sang istri tapi tidak di tanggapi oleh pak Pratama.


"Iya, Pa!" jawab Jihan. Dia juga sedikit berteriak dan langsung berlari menghampiri.


Jihan terus berlari, turun dari tangga dengan begitu tergesa-gesa. Jihan sangat heran, kenapa papanya memanggilnya dengan suara seperti itu.


"A_ada apa, Pa?" Jihan seketika gugup, dia yakin ada yang tidak beres pada papanya.


"Katakan dengan jujur pada papa, apakah kamu mengkhianati Aditya?!" Suara pak Pratama begitu menegaskan.


Jihan ataupun istri pak Pratama langsung melongo. Sang istri bingung dengan pertanyaan yang terdengar sangat konyol itu sementara Jihan, dia melongo karena bingung papanya tau dari mana?


"Katakan Jihan, apakah kamu selingkuh dengan teman Aditya sendiri? Aditya hanya berbohong kan?!" Pak Pratama semakin mendesak.


Jihan terus menunduk, dia sangat takut.


"Ji_ Jihan tidak mungkin se_seperti itu, Pa." jawaban Jihan tergagap.


"Kalau tidak, kenapa kamu tidak berani melihat papa. Kamu tidak sedang berusaha menyembunyikan kesalahan kan, Jihan?!"


Amarah pak Pratama semakin menggebu-gebu, dia ingin percaya dengan anaknya, tapi melihat anaknya seperti sekarang ini bukankah sangat aneh?


"Apa sih, Pa. Jihan tidak mungkin seperti itu." Sang istri membela, jelas akan membela anaknya karena dia juga sangat tidak percaya.


"Katakan, Jihan! Jujur sama, Papa. Jujur!" Bentak pak Pratama.


Jihan semakin menunduk, dia semakin takut dengan mata yang mulai memanas hingga akhirnya air mata perlahan turun.


"Kenapa kamu melakukan itu, Jihan! Kenapa!" Melihat Jihan seperti itu jelas saja pak Pratama akan berpikir bahwa yang Aditya katakan adalah benar.


"Papa sangat kecewa padamu, Jihan. Papa kecewa!"


Jihan seketika terduduk dilantai, memeluk kaki papanya yang tengah marah. Jihan menyadari kesalahannya ternyata.


"Maafin Jihan, Pa. Jihan khilaf. Jihan khilaf," ucap Jihan. Dia tersedu dan semakin kerap air matanya jatuh.


Kecewa, jelas sang ayah akan kecewa karena anaknya yang telah berperilaku tidak benar. Itu sangat jauh dari didikannya selama ini.


"Astaghfirullah hal azim," Sang istri pun juga begitu syok. Dia jelas tak percaya.


Sakit hati Sang ibu karena anaknya yang salah jalan, jelas orang tua merasa sangat gagal.


"Papa kecewa sama kamu, Jihan!" Pak Pratama seketika menarik kakinya dengan kasar, dia pergi dari sana dengan membawa kekecewaan juga amarah yang menjadi satu. Pak Pratama tak sanggup berada di hadapan anaknya karena dia takut akan khilaf dan berujung berbuat kasar pada anaknya.


"Pa! Maafin Jihan. Jihan khilaf! Pa!" teriak Jihan tak berdaya. Tubuhnya juga terasa sangat lemah karena kesalahannya yang telah terbongkar sekarang.


"Jihan, kenapa kamu bisa seperti ini?" jelas Sang mama juga tak percaya, tapi Jihan sudah mengakuinya.


"Maafin Jihan, Ma. Jihan khilaf." Bersimpuh dihadapan Sang mama, berharap mamanya tidak akan semarah papanya.


"Kamu mengecewakan papa dan mama, Jihan." Sang mama pun juga pergi, dia juga sangat kecewa.


"Ma, Jihan minta maaf, Ma!" teriak Jihan namun Sang mama sudah berlalu dan semakin jauh.


Menyesal, hanya itulah yang Jihan rasakan. Dia melakukan semua itu demi mempertahankan rumah tangganya, tak taunya sekarang rumah tangganya juga berada di ambang kehancuran.


"Jihan minta maaf, Jihan khilaf," gumamnya di tengah-tengah tangis pilu.


POV AUTHOR END...


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....