Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Memutuskan Pergi



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Hatiku memang sangat sakit setelah mendengar semua kata-kata pak Abraham, tapi semua yang dia katakan tidaklah salah semua itu benar dan aku memang bersalah.


Semua tidak bisa di benarkan seperti apapun alasannya dan aku menyadari itu.


Aku masuk ke kamar, ku ambil koper dan ku masukan semua barang kepunyaan ku juga punya Ara yang asli kepunyaan kami dan tidak dari Pak Devan.


Ku masukan satu persatu dengan cara sembarangan, itupun terus dengan air mata yang terus saja mengalir begitu deras namun tetap aku biarkan.


"Kita memang tidak pantas di sini, Ra. Bukankah sudah Bunda katakan, kita tidak bisa tinggal di sini," kataku yang hanya berada di kamar itu seorang diri. Sementara Ara, dia tadi aku lihat sedang bermain dengan bu Susan juga suster Neni.


Setelah semuanya beres dan tinggal pergi baru aku akan mengambil Ara dan mengajaknya pergi. Semoga saja Ara tidak banyak protes atau bertanya.


"Kenapa semuanya menjadi seperti ini? kenapa aku harus mengenal pak Devan, kenapa aku harus masuk dan bekerja di perusahaan Gudia."


Kembali tangis ku pecah dengan jalan hidup ku yang seperti ini, semuanya terasa tidak ada yang berpihak padaku dan tak ada yang mampu memberikan kebahagiaan yang tulus. Semuanya hanya datang dengan manis-manis dan pergi meninggalkan luka.


Begitu cepat aku memasukkan semua barang-barang yang sudah terkumpul di hadapan ku. Bukan hanya koper saja tapi juga tas selempang berwarna hitam yang aku penuhi dengan beberapa barang.


"Aku harus pergi dari sini, aku harus pergi," cepat ku tutup koper dan ku turunkan dari kasur. Bergegas aku ambil tas dan aku gantung di bahu kiri.


Kaki mulai melangkah, bertekad pergi dari rumah itu.


"Aku tidak bisa tinggal di rumah ini lagi," gumam ku lagi dengan kaki yang terus melangkah.


Ku buka pintu dan keluar lalu kembali di tutup dengan perlahan.


Mata menoleh mencari keberadaan Ara yang tadi masih bermain di ruang tengah, tak ada siapapun di sana. Lalu mereka di mana?


Kaki kembali melangkah semakin keluar dengan mata yang masih terus menggerilya tempat itu.


"Nenek cari Ara ya!"


Teriakan dari Ara aku dengar dan tak lama aku melihat Ara berlari sendiri dengan sesekali menoleh ke belakang.


Cepat aku berlari untuk menghampiri Ara, semoga niatku di mudahkan untuk bisa pergi dari rumah ini. Dan aku benar-benar bisa lepas dari pak Devan dan semua keluarganya.


"Ara!" panggil ku.


Ara menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ku. Dia tampak terkejut karena ada koper yang aku bawa beserta tas selempang yang menggantung di bahu. Ara pun juga berlari.


"Bunda, bunda mau kemana?" tanyanya yang terlihat sedih.


Aku menoleh ternyata tak ada yang mengikuti Ara, ini akan semakin mudah karena tidak akan ada yang menghalangi aku pergi.


"Ara sayang, tadi tante Mika hubungi bunda. Katanya dia sangat kangen sama Ara, tante Mika ingin bertemu dengan Ara dan dia sudah menunggu di depan. Kita bertemu tante Mika dulu yuk," ajakku dengan berbohong.


Maaf, Ara. Hanya ini jalan satu-satunya yang bisa bunda lakukan. Bunda harus berbohong.


"Beneran bunda!" Ara nampak senang sekali padahal aku pikir dia akan sedih karena aku ajak keluar.


"He'em, kita temui tante Mika dulu dan kita jalan-jalan sebentar dengan nya, mau?"


"Mau-mau! tapi kita ajak ayah juga kan, Bun?" aku terpaku kenapa harus ajak dia bukankah aku ingin pergi darinya?


"Tidak, Sayang. Ayah lagi banyak kerjaan dia tidak bisa ikut tapi dia akan menyusul kok nanti," lagi aku berbohong hanya supaya Ad mau di ajak pergi.


"Hem, Ara pamit dulu sama nenek ya, Bunda," katanya lagi yang sudah langsung akan membalikan badan jelas dengan cepat aku tahan.


"tidak usah, tadi bunda sudah bilang kok sama nenek. Lagian kita kan pergi hanya sebentar. Yuk," ajakku.


Tangan langsung menggandeng tangan mungil milik Ara yang sang empunya tidak lagi protes. Dia sudah langsung menurut dan tidak protes lagi.


"Bunda, tante Mika beliin Ara cokelat nggak?" katanya.


"Tentu, tante Mika sudah siapkan cokelat yang besar untuk kita makan bersama-sama." terus aku gandeng Ara dan terus melangkah keluar.


Sesampainya di gerbang tentu tak mudah karena da penjaga yang menghadang.


"Nya, Nyonya mau kemana kok bawa koper segala?" tanyanya.


Aku bingung untuk menjawab, alasan apa yang harus aku katakan kepadanya.


"I_ini? saya hanya mau keluar sebentar, Pak. Ini barang-barang teman saya yang kemarin ikut kebawa," kataku memberikan alasan, semoga saja dia percaya.


Penjaga itu nampak diam dalam kebingungan.


"Bapak tidak usah khawatir, saya sudah bilang sama pak Devan. Dia juga akan menjemput nanti karena sekarang dia sedang ada kerjaan yang harus di urus bersama pak Abraham," kataku lagi berbohong.


Aku buat semanis mungkin supaya penjaga tidak curiga dan bisa mengizinkan aku untuk keluar.


Tinnn...


Mobil yang aku pesan ternyata sudah datang dan sekarang menunggu.


"Maaf ya, Pak. Saya harus cepat pergi sudah di tunggu," buru-buru aku membuka pintu sendiri sementara penjaga itu terdiam dengan melihat ku.


Dengan gerakan cepat aku masuk ke mobil dengan Ara jelas tidak mau sampai semua orang rumah akan menyadari kepergian ku karena kabur.


"Jalan, Pak," pintaku.


"Baik, Bu." tak ada kata-kata apapun dari sopir kecuali menyetujui permintaan ku.


"Bunda, tante Mika di mana?" tanya Ara yang sudah menyadari bahwa bukan Mika yang menjemput kami.


"Tante Mika sudah menunggu di rumah sayang," kataku lagi-lagi dengan berbohong. Entah sudah yang keberapa aku membohongi Ara. Maafkan bunda ya, Nak.


"Oh," Ara mengangguk dan percaya. Alhamdulillah, aku senang karena Ara tidak terlalu banyak tanya sekarang, padahal biasanya juga bagaimana kan?


Tak lagi ada pembicaraan dari kami, terus tangan ku merangkul Ara dan merengkuhnya masuk ke dalam dekapan. Berkali-kali kecupan mendarat di puncak kepala Ara dan dia sendiri terus diam tanpa bicara.


'Ya Allah, semoga keputusan ini benar. Aku tidak mau gara-gara aku semua hubungan orang lain menjadi hancur seperti hubungan pak Abraham dengan pak Devan.' batinku.


Begitu pilu, tapi juga begitu senang bisa bebas dari rumah pak Devan.


Kesedihan memang sangat besar tapi ini adalah jalan terbaik bukan. Tidak ada hubungan apapun antara aku dan juga pak Devan jadi tidak masalah jika aku pergi.


Harapan besar untuk tidak bertemu lagi dengan pak Devan dan orang-orang yang menorehkan luka, ingin aku pergi sejauh-jauhnya dari semua orang yang sama sekali tidak bisa memberikan aku kedamaian.


Aku membungkuk melihat Ara dan tenyata dia tidur, mungkin dia sangat lelah bermain tadi dan sekarang dia begitu nyaman karena kepalanya terus aku usap-usap.


'Maafkan Bunda ya, Nak. Bunda telah memutus kebahagiaan mu. Bunda tau kamu sangat bahagia bersama pak Devan, tapi kita tidak pantas terus bersamanya. Kita harus pergi darinya, sejauh-jauhnya.' batinku.


Diam ku bersamaan dengan mobil yang terus berjalan, tangan terus mengelus kepala Ara dengan mata yang terus memandangi luar dengan satu persatu air mata lolos begitu saja dari sarangnya.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


POV AUTHOR....


Setelah kepergian Nayla dan juga Ara dari rumah itu Devan dan pak Abraham keluar dari ruang kerjanya. Bergegas mereka ingin mengatakan semua tujuan yang sudah di bicarakan kepada Nayla.


Devan terlihat sangat senang terbukti dia terus tersenyum dan tidak sabar untuk bertemu dengan Nayla. Akhirnya dia mendapatkan restu dan pak Abraham tidak mempermasalahkan kehidupan sebelum Nayla.


"Ara! Ara!" teriakan dari bu Susan begitu menggema keras begitu juga dengan para pelayan dan juga suster yang biasa bersama Ara.


Rupanya mereka semua sudah menyadari bahwa Ara tidak ada di rumah, buktinya mereka terus memanggil tapi Ara tak kunjung datang.


Devan yang mendengar langsung berlari, dia langsung khawatir dengan Ara.


"Ma, Ara kemana?!" Devan langsung bertanya pada mamanya.


"Tidak tau, Dev. Tadi kami bermain petak umpet dengannya tapi sekarang dia tidak terlihat. Kami sudah mencari di tempat manapun tapi tidak ada. Bahkan Nayla juga tidak terlihat," jelas bu Susan.


Mendengar itu Devan langsung berlari menuju kamar mereka berdua. Begitu tergesa-gesa dan langsung memeriksa semua barang-barang mereka.


"Argghhh!" teriak Devan yang sudah melihat semua barang-barang Nayla dan Ara tidak ada di lemari. Mereka pergi meninggalkan Devan.


"Bagaimana, Dev?" tanya bu Susan yang juga m mengikutinya.


"Mereka pergi dari rumah ini, Ma." meski dalam hati belum ada cinta tetapi rasanya sangat kehilangan ketika Ara dan juga Nayla pergi meninggalkannya.


Jelas, berhari-hari Devan menjalani keseharian penuh dengan kebahagiaan bersama Ara dan Nayla dan sekarang mereka telah pergi tentu itu membuat dia merasa kehilangan.


"Sabar, Nak." ucap bu Susan.


"Devan harus menemukan mereka, Ma," Devan bergegas, dia berlari untuk mengejar Nayla yang mungkin belum jauh.


Tidak akan dia biarkan Nayla dan Ara pergi dari hidupnya. Devan sudah sangat nyaman dan juga bahagia bersama mereka berdua. Dan mereka akan Devan perjuangkan untuk kembali di dapatkan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....