Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Terancam Kehilangan Pekerjaan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Aku benar-benar terpikirkan tentang apa yang mungkin akan terjadi padaku, pada pekerjaan ku. Pak Abra pasti sudah mengatakan kalau aku adalah sekertaris yang masih single tapi pak Devan sendiri dia sudah tau kalau aku punya anak.


Aku termenung sendiri di kantin, mengaduk-aduk jus lemon dengan sedotan dan sesekali aku menyeruputnya.


"Halo, Nay," Suara Mika terdengar sangat bahagia sekali sangat plong berbeda dengan ku yang saat ini sedang sedikit ketakutan.


Aku hanya menoleh melihatnya sebentar tanpa menjawab aku begitu malas rasanya.


"Nay, kamu kenapa? Kecut banget itu wajah," Tanya Mika yang mulai menyadari apa yang terjadi.


Matanya memicing dan wajahnya semakin mendekat Mika sangat penasaran dan tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban.


"Kenapa sih! Bicara dong Nay, jangan diam terus seperti ini kalau kamu diam aku tidak akan tau apa yang terjadi," Terus Mika mendesak.


Meski sudah kedatangan pelayan dan tengah menyerahkan pesanan Mika tetap saja bicara.


"Nay, bagaimana CEO_nya pasti sangat tampan kan?" Mika malah balik arah dan dia malah menyinggung orang yang sebenarnya tidak ingin aku ceritakan.


"Nay, astaga... Kamu sakit?" Semakin saja Mika bicara tapi aku semakin malas untuk menjawab.


"Mik, sepertinya aku bakal kehilangan pekerjaan ku deh," Akhirnya aku angkat bicara juga sudah tidak tahan.


"Kehilangan pekerjaan, kok bisa? Kamu tidak membuat masalah kan?"


"Tidak, Mik. Tapi masalahnya adalah CEO baru itu adalah orang yang menyelamatkan Ara kemarin. Dia adalah anaknya pak Abra dan kamu sendiri tau kan kalau identitas ku palsu di sini."


Aku begitu khawatir aku sangat takut bayangan akan kehilangan pekerjaan semakin besar menguasai ku. Bagaimana kalau benar aku harus bagaimana menghadapi Ara dan mencukupi semua kebutuhan aku dan Ara.


"Aku tidak melihat laki-laki itu kemarin, emangnya orangnya seperti apa? Pasti sangat tampan iya kan?"


"Ah, kamu tuh ya nggak bisa diam kalau sudah tentang cowok tampan. Makan tuh tampan!" Seruku.


Mika hanya cengengesan karena perkataan ku yang begitu kesal padanya. Bisa-bisanya kan dia malah begitu penasaran dengan bos baru yang membuat aku merasa gelisah seperti ini.


Kalau benar-benar di pecat lalu aku harus mencari pekerjaan di mana? Bagaimana aku akan menggaji mbok Darmi dan bagaimana aku harus memenuhi kebutuhan Ara yang sebentar lagi juga akan masuk sekolah.


"Sudah lah, Nay. Jangan terlalu serius dengan apa yang belum terjadi. Semoga saja beliau orang baik dan akan menerima mu meski kamu sudah menikah. Tapi kan kamu masih lajang sekarang," Katanya begitu enteng.


"Iya, lajang berbuntut satu," Jawabku dengan ketus.


"Tapi kan tetap saja, sekarang kamu lajang, tidak dalam posisi menikah. Kamu seorang single, Nay. Single mom..."


"Ihh! Bisa diem nggak!" Aku seketika menutup mulut Mika yang begitu kelewatan itu, bagaimana kalau sampai ada yang mendengar dan akan mengadukan semuanya pada bos, bisa-bisa habis hari ini juga riwayat ku.


Makan siang ku menjadi tidak enak rasanya gara-gara memikirkan hal yang aku takutkan, tentu aku takut kehilangan pekerjaan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Kring kring kring....


Cepat aku mengangkat telfon ketika telfon di ruangan ku berdering. Suaranya begitu keras sampai-sampai begitu mengejutkan ku yang tengah menyiapkan berkas yang di minta oleh pak Devan.


Pak Abra benar-benar telah pulang hari ini juga. Dia benar-benar langsung menyerahkan jabatannya kepada anaknya dan sekarang dia yang duduk di singgasananya.


"Ya, halo pak. Ada yang bisa saya ban..."


"Keruangan ku sekarang, dan bawa berkas yang saya inginkan."


Aku terkesiap, kata-kata ku belum juga selesai tapi dia sudah memutuskan begitu saja. Terdengar dari suaranya dia begitu menakutkan, sangat berbeda dengan pak Abra yang begitu lemah lembut.


Benar-benar jauh beda, dia tak sama dengan pak Abra.


"I_iya, Pak." Jawabku.


Suaranya memang tidak keras tapi lebih ke arah dingin sih menurutku, dingin dan angkuh. Bahkan aku belum selesai menjawab pun telfonnya sudah di akhiri.


"Ketenangan ku akan mulai terusik sekarang, tak akan mudah tapi aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik. Kalau memang tidak cocok ya sudah mau bagaimana lagi? Cocok dengan bapaknya belum tentu anaknya juga cocok."


Ku raih berkas yang sudah selesai aku kerjakan, untung saja sudah selesai kalau belum entah apa lagi yang akan dia katakan.


Akan bergegas mengetuk pintu ruangan pak Devan setelah sampai, meski sangat was-was tapi aku coba tahan rasa gugup ini.


Padahal kemarin-kemarin sudah terbiasa ketika bersama pak Abra, aku akan mengetuk dengan hati tenang karena apa yang aku lakukan selalu saja sesuai apa yang dia inginkan tapi aku tidak tau jika dengan pak Devan sekarang.


Tok tok tok....


"Masuk!" Suara aku dengar dari dalam dan seketika pintu aku dorong aku masuk dengan rasa yang tak karuan.


"Permisi, Pak." Aku menyapa dengan sangat sopan, tentu aku tidak mau sampai di katakan tidak punya sopan santun.


Biasanya bos-bos muda dan yang baru menjabat kan akan sedikit songong, tapi semoga saja tidak.


"Mana berkasnya," Katanya. Matanya sama sekali tidak melihat ku, dia masih fokus dengan laptopnya.


"I_ini, Pak." Aku sodorkan tampa aku duduk di kursi aku sudah terbiasa seperti ini karena aku juga tidak akan lama-lama di sini.


"Duduk," Katanya lagi dengan acuh. Sama sekali tidak melirik.


"Baik, Pak." Aku menurut apa yang dia katakan dia juga sudah menerima dan mulai membuka berkas yang aku berikan tapi bukan langsung di koreksi melainkan dia tetap fokus dengan laptopnya.


Sebenarnya apa yang dia inginkan, kenapa aku di minta tetap ada di sini mana di abaikan begini lagi?


"Nayla Ariane, usia dua puluh empat tahun, lulusan terbaik di salah satu Fakultas di Jakarta, seorang yatim piatu dan juga masih single. Apa itu benar?"


Kini pak Devan baru menoleh ke arahku, ternyata dia melihat laptop karena sedang mencari identitas ku dan setelah dia temukan langsung di bacakan di hadapan ku.


Mataku sudah membulat ke arahnya, tapi ada rasa takut. Tubuh mu bergetar karena jelas dia tau kalau aku berbohong dan membuat identitas palsu.


"I_iya, Pak." Jawabku dengan jujur.


Ya, aku jujur kan? Bukankah aku benar-benar seorang single. Ya! Meski single mom atau single perent.


Aku begitu was-was, pasti pak Devan akan menanyakan identitas ku yang sebenarnya. Menanyakan tentang Ara.


"Mungkin papa bisa kamu bohongi, Nayla Ariane tapi aku tidak. Kenapa kamu harus berbohong. Apakah kamu benar-benar tidak bisa jujur? Ataukah kamu memiliki niat tertentu hingga kamu memalsukan identitas?"


"Sa_saya..." Aku menunduk. Sepertinya aku benar-benar akan kehilangan pekerjaan hari ini juga.


"Siapa lagi yang kamu tipu selain papa, apakah ada yang lain lagi?" Pertanyaannya semakin nyinyir, dia terlihat begitu tak suka.


Ya sih, siapa yang suka di bohongi bahkan aku_pun juga tidak akan suka di bohongi. Aku sangat menyesal karena telah berbohong semua ini aku lakukan karena terhimpit ekonomi waktu itu.


Setelah melahirkan Ara, aku membutuhkan pekerjaan untuk menghidupinya. Aku sudah berjuang mencari pekerjaan dengan cara membawa identitas jelas dan yang asli tapi semua menolak ku. Hingga akhirnya Mika memberitahu di perusahaan ini membutuhkan seorang sekertaris baru dan ide gila itu di sarankan oleh Mika.


Aku memang bodoh karena mengikuti sarannya, tapi kalau aku menolak saran itu apakah bisa menjamin aku akan di terima? Tidak kan.


"Ma_maaf, Pak," Hanya itu yang bisa aku katakan.


Sekarang aku pasrah, kalau memang mau di pecat juga tidak masalah. Semua yang di awali dengan kebohongan memang akan berakhir tidak baik kan?


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....