
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Melihat wajah Mas Devan saat ini begitu sangat mencurigakan menurut ku. Dia diam seribu bahasa namun sesekali tersenyum kepada ku. Aku sangat yakin kalau dia menyembunyikan sesuatu.
Dia ingin menceritakan tapi sepertinya dia sangat ragu. Aku sangat penasaran, sebenarnya apa yang dia sembunyikan dariku.
Melihat Ara yang sudah tidur aku melangkah dan mendekatinya yang duduk dan terlihat sangat lelah ada di sofa. Punggungnya menyandar dengan kedua tangan yang menjadi bantal untuk kepalanya.
"Mas, ada apa, apakah ada masalah?" tanyaku. Seketika aku duduk di sebelahnya, menghadap dan menyentuh pahanya.
Dia terlihat sangat lelah, tapi aku tidak yakin kalau dia diam hanya karena dia lelah saja. Ada sesuatu yang dia sembunyikan dan aku sangat percaya akan hal itu.
"Tidak ada, aku hanya lelah saja. Tidak perlu khawatir, istirahat sebentar juga akan pulih kembali lagi," Mas Devan tersenyum, tangan satunya di tarik dan dia gunakan untuk menyentuh daguku, bahkan juga untuk mengelus pipi dengan sangat lembut. Semakin yakin kalau dia ada masalah.
"Kalau begitu Mas Devan bersih-bersih dulu lalu istirahat, biarkan aku yang menjaga Ara. Atau mungkin mas mau pulang saja dan istirahat di rumah supaya lebih nyaman?"
Aku merasa sangat bersalah, Mas Devan tidak akan kelelahan jika tidak ada aku juga Ara.
"Kamu kenapa?" tanya Mas Devan. Mungkin wajah ku yaang terlihat lain dapat di lihat olehnya. Bukan itu saja, tapi Mas Devan juga langsung menghentikan ku dengan meraih tangan saat aku ingin beranjak.
Aku tidak apa-apa, hanya merasa bersalah saja sih.
"Tidak apa-apa," jawab ku yang kembali duduk dan menatapnya dengan senyum yang terkesan terpaksa.
"Bohong, tidak mungkin tidak ada apa-apa tetapi kamu seperti ini. Katakan saja padaku apa yang terjadi, jangan tutupi apapun dariku."
Mas Devan yang semula duduk dengan bersandar kali ini dia duduk dengan tegak dan langsung menghadap ke arahku. Matanya melihat dengan begitu serius, memandang seluruh wajah tanpa berkedip sama sekali.
Aku yang tidak mampu untuk mengatakan apapun yang ada dalam pikiranku langsung berhambur memeluk Mas Devan dengan sangat erat. Hanya inilah yang bisa aku lakukan karena berkata sepatah kata pun seolah tidak ada kekuatan untuk itu.
Aku merasakan bahwa Mas Devan terlihat terkejut untuk sesaat, tangannya juga melayang mengudara dan belum bisa membalas namun itu tidak lama karena setelahnya dia membalas pelukanku dengan erat.
Seolah mengetahui apa yang telah aku rasakan Mas Devan memilih diam, dan membiarkan posisi ini nggak begitu lama lama.
"Jangan takut, ada aku yang akan selalu bersamamu," ucapnya.
Aku yakin Mas Devan berfikir bahwa aku seperti ini karena keadaan Ara, padahal tidak seluruhnya karena aku juga merasa seperti seorang yang tidak bisa melakukan apapun, dan hanya bisa merepotkan orang lain saja ya itu mas Devan mas Devan Devan.
"Maafkan aku ya, Mas. Aku belum bisa membalas apapun yang sudah Mas lakukan untuk ku juga Ara."
kata-kata itu muncul di saat aku masih terus memeluk Mas Devan. Dan hanya kata itulah yang mampu keluar selebihnya hanya bisa aku pendam di dalam hati hati saja.
"Ssttt..., sudahlah, jangan berpikir yang aneh-aneh kamu tidak salah sama sekali, ini semua sudah menjadi pilihan ku, aku hanya ingin membahagiakan kamu juga Ara."
Benar-benar mendapatkan orang yang sangat sempurna aku sekarang.
'Terima kasih ya Allah,' batin ku.
Kedatangan Andri ke rumah sakit dan juga dia yang berbicara dengan mas Devan dengan diam-diam tentu membuat aku sangat penasaran, sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Apakah ada sesuatu yang Mas Devan sembunyikan dariku?
Mereka berdua berbicara dengan begitu lirik dan menjauh dariku, bahkan di mereka keluar dari kamar dan berbicara di luar. Sementara aku ada di dalam bersama Mika yang juga ikut datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ara.
"Mika, kamu tahu nggak sebenarnya ada masalah apa yang sekarang telah dihadapi oleh Mas Devan? Akhir-akhir ini dia begitu aneh, bahkan ketika dia bicara dengan Andri dia juga selalu menjauh, kamu tahu nggak apa masalahnya?"
"Aku nggak tau, Nay. Tapi kalau dilihat-lihat sepertinya memang ada masalah yang serius yang tengah dihadapi deh, coba nanti aku tanya pada Andri siapa tahu dia mau memberitahuku."
"Beneran ya, aku sangat penasaran pada masalahnya," kataku.
Terus aja aku melihat ke arah pintu namun mereka berdua belum juga masuk ke dalam, sepertinya masalahnya memang sangat berat kalau tidak tidak mungkin Mas Devan berada di luar begitu lama.
'Sebenarnya apa yang mereka bicarakan, kenapa lama sekali sih?' batinku.
Mika yang melihat langsung menyentuh bahuku dan membuat ami menoleh ke arahnya.
"Sudah, jangan berpikir yang berlebihan. Jika ada masalah pasti Pak Devan akan bisa mengatasi segalanya. Dia tidak mengatakan padamu karena pasti dia yakin bisa menanganinya sendiri, jika harus pastilah dia akan menceritakan semuanya kepadamu."
Bener yang dikatakan oleh Mika saat ini, jika memang itu hal penting pasti dia akan menceritakan kepadaku tetapi mungkin sekarang belum saatnya.
Aku mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabatku itu, Mas Devan sudah melakukan semuanya untuk ku Dan aku harus mempercayainya. Tidak lama aku meyakinkan diri untuk percaya dengan semua yang mungkin Mas Devan sembunyikan pintu perlahan terbuka dan Mas Devan juga Andri masuk, Mereka terlihat biasa-biasa saja dan terlihat tidak menyembunyikan apapun dariku bahkan Mas Devan yang berjalan di depan Andri dia tersenyum ke arahku.
"Kenapa, apakah ada masalah?" Mas Devan merasa sangat penasaran karena melihat wajahku yang begitu serius menatapnya, dengan cepat aku menggeleng.
"Tidak," jawabku.
Mas Devan mengangguk pelan dan terus melangkah hingga berdiri di hadapanku. Sepertinya Mas Devan berusaha percaya padaku.
"Nay, saya pulang dulu ya? Besok aku akan datang lagi," pamit Mika.
"Hem, terima kasih ya sudah mau datang untuk menjenguk Ara. Dia sangat senang dengan kedatangan mu."
Mika mengangguk, dia sempatkan mencium Ara lebih dulu sebelum dia benar-benar pergi, sementara Ara sendiri dia tengah tidur.
"Aku pamit," Mika benar-benar berlalu dengan di iringi Andri. Sebelumnya Andri juga berpamitan dengan ku juga Mas Devan.
Di lihat-lihat Andri dan Mika sebenarnya sangat cocok. Tapi entahlah, itu urusan mereka. Kalau memang jodoh pasti tidak akan kemana, iyakan?
Setelah kepergian mereka berdua, Mas Devan langsung mendekat menyentuh tangan ku bersamaan dia duduk di bangku depanku yang di gunakan Mika duduk tadi.
"Semua baik-baik saja kan?" tanya Mas Devan dan aku jawab dengan mengangguk.
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Bersambung....