
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
POV AUTHOR.....
"Ternyata dia benar-benar ingin bermain-main dengan ku. Tidak ada bosan-bosannya tuh orang. Menyebalkan sekali." umpat Devan sangat kesal.
"Mari kita bermain-main, Aditya Wilman. Kamu jual saya beli aku Ijabanin apa yang kamu mau," tantang Devan.
Bagaimana tidak sangat kesal si Devan sekarang, duduk di kursi kebesarannya di perusahaan Gudia dengan ada beberapa berkas du hadapannya.
Berkas yang datang dari perusahaan Pratama bahkan juga terdapat amplop putih yang ada di sana dan semua itu datang dari perusahaan Pratama yang jelas Devan tau siapa pengirimnya.
Ternyata bukan hanya dengan mendekati Ara juga Nayla saja, tapi sekarang Aditya malah menyerangnya lewat perusahaannya.
Apakah dia pikir dengan seperti itu Devan akan takut dan akan menyerah begitu saja? tidak! justru dengan seperti itu Devan begitu senang karena dia tidak perlu memulai dia hanya tinggal melanjutkan apa yang sudah di mulai oleh Aditya.
Bersaing dalam bisnis memang sangat wajar tapi niat dan tujuan Devan saat ini yang sangat tidak wajar.
Mungkin dia berpikir kalau Nayla mendekati dirinya karena harta yang dia miliki maka dari itu Aditya menyerang usaha Devan. Jika Devan bangkrut dan jatuh tentu Nayla akan pergi meninggalkannya dan akan kembali kepada Aditya. Sungguh, pikiran Aditya hanya tentang harta dan harta.
Apa dia pikir semuanya bisa di beli dengan uang? tidak! dan itulah yang tidak di pahami oleh Aditya hingga sekarang.
Aditya masih selalu menyangkut pautkan semua yang dia dapat karena harta yang dia punya, dengan hartanya dia pasti bisa mendapatkan apapun yang dia mau termasuk Nayla.
"Kamu urus ini dengan baik. Kalau dia bisa melakukan hal ini kenapa kita tidak bisa? kita harus bisa lebih dari ini." ucap Devan pada salah satu pekerjanya.
Kapal dia hanya ingin menghancurkan perusahaan ku, maka kita harus bisa menghancurkan perusahaannya juga dirinya."
Tak akan main-main jika Devan sudah berbicara hal itu. Dia memang belum pernah melakukannya karena dia dulu sangat cinta damai dan tak suka balas dendam, tapi sekarang? dia tidak akan melakukan hal ini jika tidak ada ajari lebih dulu.
"Baik, Tuan. Semut akan terjadi sesuai yang anda minta," jawab pekerja itu dengan begitu percaya w Dua juga sangat menurut dan akan melakukan apa yang dia inginkan.
"Baik, saya tunggu hasilnya," Devan berdiri dari tempatnya, membenarkan kancing jasnya sebelum dia melangkah pergi.
Setelah memastikan semua sudah benar-benar rapi Devan berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan pekerjanya yang kini menunduk hormat pada bosnya itu.
Setelah kepergian Devan jelas pekerja itu juga langsung keluar dari sana mengerjakan semua pekerjaan yang sudah menanti bahkan yang dia bawa juga.
Tidak kemana-mana, tapi Devan lebih memilih pergi ke ruangan Mika. Dia ingin mengulik sesuatu dari sahabat Nayla itu.
Mika yang tengah fokus bekerja langsung menoleh dan melihat, Devan yang sudah berjalan kearahnya dan perlahan hingga akhirnya berhenti di hadapan Mika.
"Tu_tuan, ada yang bisa saya bantu?" Mika sangat penasaran karena Mika tak pernah melihat hal ini. Dia sangat heran juga karena bosnya ity mau datang menghampiri dirinya, bukankah ini sangat aneh.
"Saya ingin bicara padamu. Ikutlah," pinta Devan.
"ikut Anda, untuk apa?" Mika mengernyit bingung.
"Jangan banyak tanya, ikutlah saja san jangan banyak protes." Devan menoleh sebentar lalu kembali berjalan dengan kaku.
"Ayo! apa kamu tidak mau bekerja lagi di sini?" sinis Devan.
Jelas Devan sangat kesal karena Mika yang gak kunjung berjalan untuk mengikutimya tapi malah diam dan seperti orang bingung.
"I_iya, pak." bergegas Mika beranjak dia berlari mengejar Devan dan entah akan di ajak kemana dia sekarang. Begitu susah Mika untuk mengejar langkah kaki Devan yang begitu panjang dan juga terlihat buru-buru yak sabaran itu.
"Astaga, sebenarnya ini mau di ajak kemana dan mau ngapain? ini juga, orang ngajakin atau bagaimana sih?!" gerutu Mika.
"Suamimu, Nay Nay..., bagaimana bisa kamu punya suami macam seperti ini," imbuhnya lagi.
Kaki semakin cepat melangkah untuk mengejar Devan yang sudah berjarak jauh darinya. Mika hanya bisa menggeleng sekarang.
Brukk...
"Aw!" pekik Mika. Batu saja dia akan membelok di lorong lain dia tak melihat ada orang hingga akhirnya dia tabrakan dan Mika jatuh begitu saja ke lantai. Jelas dia akan memekik kesakitan.
"Ma_maaf, Mbak. Sa_daya tidak sengaja," ucap orang itu yang seorang laki-laki. Ya, staf laki-laki yang sepertinya adalah pekerja baru.
Mika tak mengenal da baru kali ini dia melihatnya di perusahaan Gudia ini.
"Biar saya bantu," katanya.
"Saya bisa sendiri," jawab Mika dengan begitu angkuh.
Meski tadi memekik kesakitan tapi sekarang Mika berusaha untuk berdiri dengan sendiri. Wajah Mika terlihat sangat kesal, sudah sangat susah dia mengejar Devan dan sekarang di tambah lagi dia bertabrakan dengan seseorang yang tidak dia kenal.
"Saya minta maaf, Mbak. Saya tidak sengaja," ucap laki-laki itu yang sama sekali tidak di hiraukan oleh Mika.
Mika lebih sibuk dengan apa yang dia pikirkan sendiri, tidak menganggap akan keberadaan laki-laki itu bahkan seolah tidak mendengar kata maaf darinya.
"Lah, pak Devan kemana?" mata Mika menjelajahi semua penjuru yang dapat di lihat oleh mata taoi tidak menemukan keberadaan Devan di manapun.
"Mbak cari pak Devan?" tanya laki-laki itu yang masih saja di sana.
"Kamu pikir saya mencari mu?" terdengar Mika sangat kesal, terlihat kan bagaimana cara dia berbicara sekarang ini.
"Hem, maaf mbak sebenarnya...?"
Belum juga laki-laki itu menyelesaikan bicaranya Mika sudah berlalu pergi meninggalkan, karena merasa ada pekerjaan yang harus dia jalankan maka laki-laki itu mengejar Mika, mengikuti kemana dia pergi.
"Pak Devan kemana sih?!" gumam Mika bingung.
"Mbak, sebenarnya..."
"Lah, kamu mengikuti ku!? Jangan-jangan kamu memiliki niat jahat padaku iya kan? ayo ngaku!"
Mika cepat balik badan setelah mendengar laki-laki itu bersuara. Dia tidak mendengar langkahnya tadi dan sekarang baru dia sadar akan keberadaan laki-laki itu di sana.
"Bu_bukan seperti itu, Mbak. Sebenarnya..."
"Sebenarnya apa! kamu mau mencoba mengelak?" Mika sama sekali tidak percaya. Laki-laki itu juga tidak bisa menjelaskan lebih lagi karena Mika selalu memotong perkataan nya.
"Tidak, Mbak. Saya mengikuti mbak karena di minta oleh pak Devan untuk menunjukkan kemana mbak harus menemuinya," kali ini dia bisa menyelesaikan kata-katanya.
"Hem..., modus," Mika masih tak percaya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....