Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Masih di rumah sakit



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Tak ada rasa takut di hatiku meski menghadapi mas Aditya, selama ada mas Devan kami pasti akan sangat baik-baik saja.


Mas Devan juga selalu mengatakan kalau kota akan memenangkan gak asuh Ara, dan aku sangat yakin kalau dia yang mengatakan.


Memang, aku mengakuinya di depan pengadilan kalau Ara memang anak dari mas Aditya, tapi aku juga tentunya mengatakan semua runtutan perbuatannya.


Dia jelas mengelak, tak mungkin dia akan mau jujur apalagi menerima semua yang aku katakan, tapi aku gak peduli dengan itu karena bagiku aku ingin secepatnya semua ini selesai dan kami bisa tenang, bisa lebih serius untuk kesembuhan Ara.


Kesembuhan Ara lebih penting daripada berlama-lama dalam perebutan hak asuh di pengadilan. Dan aku juga katakan pada mas Devan untuk mempercepat semuanya. Alhamdulillah mas Devan setuju.


"Aku janji janji, Nay. Aku akan secepatnya menyelesaikan semua ini. Aku tidak butuh main-main lagi, biarkanlah Aditya secepatnya menuai dari semua yang sudah dia tanam."


"Terima kasih, Mas." Aku peluk mas Devan, kami duduk di sofa dan menunggu Ara yang tidur di siang hari ini.


Ara yang terus meminta pulang, besok dia boleh pulang, tapi tetap saja harus terus melakukan pemeriksaan.


Aku yakin, di rumah Ara akan lebih cepat sehat karena moodnya akan selalu baik, tidak tidak ada saat ada di rumah sakit, rasa bosannya aku yakin membuat moodnya anjlok dan itu akan sangat mengurangi imun tubuhnya.


"Mas, kenapa kamu begitu sangat yakin bisa membuat mas Aditya masuk penjara, memangnya kamu ada bukti apa?" Jelas saja aku penasaran dengan bukti itu.


"Kamu akan tau kalau semuanya sudah selesai, untuk sekarang lebih baik kamu fokus dengan Ara, dan juga anak kita. Mereka berdua adalah harta terindah untukku, jadi kamu harus menjaganya dengan baik."


Tangan satunya mas Devan ada di belakang merangkul pundakku, sementara yang satu kini terus mengelus perlahan yang sudah mulai membuncit.


Aku menunduk, melihat pergerakan tangan mas Devan yang begitu pelan. Sungguh menenangkan rasanya, sungguh membuat nyaman saat tangan itu menyentuhnya.


"Pasti, Mas. Nayla pasti akan menjaganya dengan sangat baik. Ara dan juga bayi kita." Aku ikut mengelusnya, menyandarkan kepalaku di dadanya yang bidang.


Kembali secara bersamaan kami memandangi Ara yang masih tidur terlelap di atas ranjang, dia belum membuka matanya tetapi terdapat pergerakan mungkin karena lelah terus tidur jadi dia bergerak.


"Semoga Ara bisa cepat sembuh ya, Mas. Jadi kita tidak perlu terus berada di rumah sakit seperti ini."


"Amin, Ara kita pasti akan secepatnya sembuh karena aku tidak ingin dia berlama-lama di sini. Aku sudah konsultasi dengan dokter untuk melakukan pengobatan untuknya dan itu sangat diyakini akan membuat dia secepatnya sembuh."


"Kita berdoa saja semoga usaha ini bisa menghasilkan kesembuhan untuk Ara dan kita bisa bahagia bersama-sama membangun keluarga kecil yang begitu indah."


Aku tersenyum, mengangkat wajah untuk melihat wajahnya. Bibirnya baru saja tertutup setelah selesai bicara. Aku begitu kagum dengan sikap dan kedewasaannya, semoga saja dia akan selalu seperti ini sampai kapanpun. Amin.


Cup...


Aku beranikan diri, hanya mengecup pipinya saja tapi itu sudah membuat aku malu.


Mas Devan tersenyum, dia juga terlihat sangat senang karena mendapatkannya dariku. Meski hanya sesaat saja pasti itu sangat berarti untuknya.


Aku janji, Mas. Tak akan ada kekurangan apapun dariku untukmu. Juga untuk Ara.


Sepertinya itu tidak cukup bagi Mas Devan, mana mungkin dia akan cukup hanya sekedar kecupan di pipi saja. Benar saja dia langsung menyatukan bibirnya di saat bibirku masih tersenyum.


Tak dapat aku menolak juga mengelak aku menerimanya dengan pipi yang terasa panas. Setelah beberapa detik Mas Devan melepaskannya lalu tersenyum, mungkin merasa lucu saat melihat wajahku yang memerah. Mungkin.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...