Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kemarahan Pak Devan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Begitu mudah untuk Mas Aditya terpental dari tempat yang semula di mana pintu mobil sudah terbuka, tangan juga langsung terlepas dari tanganku yang tadinya cengkeram begitu kuat hingga akhirnya sangat sakit.


Bahkan Mas Aditya sudah langsung ambruk begitu saja di jalan karena perbuatan seseorang yang belum aku lihat karena mataku terpejam saat orang itu memukul dan seolah membabi buta Mas Aditya dengan kemarahan yang sangat besar.


"Kamu pikir akan bisa membawa wanitaku?! Meskipun kamu membawa dengan paksa dan tanpa sepengetahuanku tetap aku akan dapat menemukanmu dan tidak akan aku biarkan begitu saja kamu membawanya pergi dariku."


Suaranya begitu ganas penuh dengan amarah yang besar dan sekarang aku tahu siapa yang telah datang dan membantuku, Pak Devan.


Pukulan demi pukulan kembali Aku dengar bertubi-tubi, sepertinya Pak Devan benar-benar sangat marah karena perbuatan dari mas Aditya yang ingin memaksaku pergi bersamanya.


Aku beranikan untuk membuka mata dan melihat apa yang terjadi di hadapanku, dan ternyata pak Devan masih saja terus melayangkan pukulan kepada Mas Aditya yang meskipun dia sesekali melawan namun tidak bisa menghindari serangan dari Pak Devan yang sudah seperti orang yang tengah keset*nan.


Wajah dari mas Aditya sudah terlihat babak belur karena ulah dari Pak Devan yang terus memukul meskipun mas Aditya sudah terus menghindar. Sepertinya tidak akan semudah itu Pak Devan melepaskan Mas Aditya yang sudah terbukti bersalah.


Sementara wajah pak Devan begitu besar akan kemarahan, wajahnya merah dan matanya terlihat melotot tajam dengan otot-otot mata yang terlihat semakin merah.


Kembali pak Devan ingin memukul mas Aditya yang sudah terjatuh, tangannya sudah mengepal kuat ke atas dan siap melayangkannya tapi aku tak bisa biarkan itu terjadi, pak Devan bisa membunuhnya.


Dengan sisa-sisa tenaga aku berlari untuk menghentikan pak Devan, aku peluk dia dari belakang dan menahannya sekuat tenaga.


Memeluk?


Darimana akal ini datang hingga aku tak berpikir panjang dulu untuk memeluknya seperti ini.


"Sudah, Pak. Nay mohon," kataku yang benar-benar sangat memohon.


"Kenapa kamu menghentikan ku, Nay? Atau jangan-jangan kamu masih mencintainya?" pertanyaan itu terlontar dengan begitu sadis dan penuh dengan amarah. Pak Devan seolah tidak rela untuk itu.


Aku menggelengkan wajah yang semula sudah aku tempel di punggungnya. Aku masih saja menangis karena takut, hem, mungkin aku sangat cengeng kali ini.


Masih mencintai?


Bagaimana mungkin pak Devan bisa berpikir seperti itu, apakah dengan aku menghentikan perbuatannya itu terus dia menyimpulkan hal yang seperti itu? Itu tidak benar, tak ada lagi cinta tapi yang ada hanyalah kebencian.


"Tidak seperti itu, Nay hanya tidak mau pak Devan menjadi pembunuh," ucapku dengan tersengal.


Kembali aku peluk pak Devan dengan sangat erat supaya tidak melakukan lagi hal yang akan semakin menjadi. Pak Devan benar-benar akan membunuhnya jika lagi memukulnya.


"Lepaskan, Nay! Laki-laki seperti ini tidak pantas mendapatkan ampunan. Dia tak pantas hidup lagi!"


Tak mudah untuk membuat pak Devan tenang dan bisa meredakan amarahnya.


Selembut-lembutnya pak Devan terhadap ku dan juga Ara ternyata memiliki hal yang begitu mengerikan seperti ini. Amarahnya begitu sangat besar.


Begitu kewalahan untuk bisa membuat Pak Devan tenang yang sudah terlanjur marah. Kekuatannya yang sangat besar membuat aku juga terus bergerak mengikutinya meski terus berusaha untuk mengendalikannya.


"Sudah, Pak. Jangan lagi," kataku. Semakin erat aku memeluknya hingga perlahan membuat pak Devan bisa tenang.


"Sudah aku katakan padamu, Dit. Jangan pernah menyentuh wanita ku atau aku akan melupakan semua yang pernah ada pada kita."


Tapi ternyata peringatan ku sama sekali tidak kamu gubris sama sekali. Ingat baik-baik ya, Dit. Berani kamu mendekatinya lagi maka aku akan benar-benar membuat mu tidak akan bisa bernafas lagi."


Meski mendapatkan ancaman tapi mas Aditya sama sekali tidak meminta maaf juga takut. Matanya terlihat melotot seolah dia tidak peduli dengan apa yang pak Devan katakan.


Tangisan ku yang pecah membuat pak Devan langsung membalik, wajahnya langsung berubah sangat khawatir dengan kedua tangan yang langsung mengapit kedua pipi.


"Kamu tidak apa-apa kan? Apa ada yang sakit, kita harus ke rumah sakit sekarang," ucapnya dengan sangat khawatir.


Matanya bahkan ikut menitihkan air mata tepat di hadapan ku.


Benarkah pak Devan menangis karena aku?


Aku menggeleng namun air mata tak kunjung berhenti juga tubuh yang masih bergetar hebat karena takut dan juga syok.


Tanpa aba-aba lagi pak Devan langsung memelukku karena aku tak bicara, mungkin dia tau kalau aku benar-benar sangat syok dengan kejadian ini.


Rasanya sangat nyaman ketika berada di dalam pelukannya, detak jantung yang masih terpacu di tengah dada pak Devan seolah menjadi penenang untukku.


Kepala yang di elus dengan begitu pelan membuat ku semakin tenang, begitu cepat aku merasa nyaman dan juga tenang karena perlakuan dari Pak Devan saat ini.


Tetapi meskipun seperti itu tubuh yang gemetar tetap masih terasa dan membuat kaki seolah lemas dan tak mampu bergerak apalagi untuk berjalan.


Melihat apa yang terjadi kepadaku Pak Devan langsung berinisiatif untuk mengangkat tubuhku dan menggendongnya sama seperti ketika menggendong bayi. Rasanya semakin nyaman ketika berada dengannya.


"Kita pulang sekarang," katanya sebelum berjalan dan setelah itu dia benar-benar berjalan meninggalkan Mas Aditya yang masih berada di tempat.


Sekali Pak Devan berhenti dan kembali menoleh melihat keadaan Mas Aditya yang perlahan sudah mulai beranjak untuk berdiri.


"Ingat ini baik-baik, jangan pernah mengganggu wanitaku lagi. Dan ya! Jangan pernah kamu provokasi kedua orang tuaku karena itu tidak akan pernah mempan. Apa yang sudah menjadi milikku tidak akan pernah bisa kamu ambil dan aku pastikan itu!"


Suara Pak Devan begitu menegaskan kepada Mas Aditya semoga saja dia benar-benar mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Devan dan tidak akan pernah menggangguku lagi.


Nafas terlihat masih terus tersengal pada Pak Devan ternyata amarahnya masih belum hilang sepenuhnya.


Rasa khawatir yang begitu besar Pak Devan untukku membuat langkah kakinya begitu cepat pastilah dia tahu kalau aku tidak ingin melihat Mas Aditya lagi karena setelah berada di gendongan Pak Devan aku terus menyembunyikan wajahku.


"Kamu bisa menang untuk saat ini tetapi aku pastikan aku akan merebut darimu semua yang seharusnya menjadi milikku!"


Ternyata Mas Aditya masih berani berteriak dan menantang Pak Devan untuk merebut aku darinya.


Pak Devan sama sekali tidak peduli dan tetap melangkah membawaku pergi. Tapi aku yakin hatinya saat ini sangat panas mendengar teriakan dari Mas Aditya yang kembali menantang.


Entah persahabatan yang seperti apa dulu antara Pak Devan juga Mas Aditya tapi dapat dipastikan setelah ini persahabatan mereka akan hancur dan akan sangat susah untuk dikembalikan lagi.


Apakah semua ini karena aku? Apakah persahabatan mereka yang hancur juga karena aku?


Jika benar adanya apa yang harus aku lakukan aku sudah berusaha untuk pergi dari keduanya dan tidak memilih salah satu diantaranya tetapi takdir mengatakan lain dan kini aku kembali diantara salah satu dari mereka sehingga membuat hubungan mereka semakin renggang dan pasti akan hancur.


'Maafkan jika semua ini terjadi karena aku. Sebenarnya aku juga tidak mau berasa di posisi ini. Seandainya bisa, aku lebih baik pergi,' batinku.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....