
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Ternyata bukan hanya acara denganku saja tetapi juga kami melakukan foto bersama dengan Ara yang juga memakai gaun berwarna putih senada dengan gaun yang aku pakai.
Rasanya sangat senang karena Pak Devan bukan hanya menerimaku saja tetapi dia juga menerima Ara bahkan sangat menyayangi selayaknya menyayangi anak kandungnya sendiri.
Jika memang benar pernikahan ini harus terjadi aku berharap cinta dan kasih sayang pada kepada Ara tidak pernah luntur dan akan seperti ini meski kelak dia akan memiliki anak kandung.
Hanya itulah yang menjadi harapanku untuk sekarang ini tidak ada harapan lain kecuali kebahagiaan Ara. Demi sang bidadari kecilku itu aku akan lakukan apapun asalkan dia bisa bahagia dan aku bisa selalu melihat senyum indah di bibirnya.
Bukan hanya dengan satu pakaian dan satu tempat saja tetapi kami melakukan foto dengan menggunakan beberapa baju dan juga beberapa tempat meski tetap berada di sekitar rumah.
Dan yang terakhir kami memakai pakaian dari adat Jawa yang sama-sama memakai kain batik untuk bawahan dan juga komplit dengan aksesoris lainnya.
Ara terlihat sangat bahagia karena dia bisa diajak ikut serta dalam acara foto prewedding kali ini. Tetapi bagiku ini bukan seperti foto prewedding, melainkan sebuah foto keluarga, bener gitu kan?
Setelah acara foto selesai Pak Devan ternyata juga menyiapkan acara makan siang bersama dan ini sangat mewah melihat dari semua hidangan yang sangat spesial dan tentunya Pak Devan mendatangkan chef ternama untuk memasak acara makan siang ini.
Begitu banyak pelayan yang setia melayani Kami bertiga bahkan tanganku sama sekali tidak sibuk bergerak untuk mengambil satu persatu dengan hingga sampai di piring yang ada di depan mata, semua itu sudah pelayan yang melakukan.
Hidupku benar berubah 360° dari sebelumnya. Dari awalnya yang bukan siapa-siapa tetapi sekarang sudah seperti seorang Ratu yang jika menginginkan sesuatu tinggal mengatakan maka semua sudah akan tersedia di depan mata.
"Ayo di makan, kalian pasti sangat lapar," Pak Devan menulis dengan tersenyum melihat ke arah kami berdua yang masih terpaku dengan suasana yang seperti ini.
Semua yang ada di depan mata adalah sesuatu yang mewah tentu dengan harga yang fantastik bukan hanya barang KW yang seperti biasanya aku gunakan.
Benarkah ini nyata? Ataukah hanya sebuah mimpi yang akan hilang ketika mata terbuka?
"Kenapa malah melamun?" Pak Devan membiarkan lamunanku.
"Sini, biar aku suapin," tangannya langsung bergerak mengambil makanan dengan sendok dari piringnya sendiri dan bersiap untuk menuju ke mulutku.
"Ayo, akk!" perintahnya dengan tangan terus memajukan sendok juga mulut Pak Devan yang ikut menganga sangat lebar menuntunku supaya cepat membuka mulutku.
"Ayo bunda, enak banget loh!" Ara juga ikut memprovokasi supaya aku mau menerima suapan dari tangan Pak Devan.
Benarkah sesuatu yang dulu tidak bisa aku dapatkan dari Mas Aditya semua akan diberikan oleh pak Devan? Benarkah dia tidak sama seperti Mas Aditya?
Perlahan mulutku terbuka dan perlahan juga Pak Devan memasukkan sendok ke dalam mulutku hingga akhirnya semua makanan yang ada berhasil masuk dan sendok itu kembali keluar. Pak Devan tersenyum puas setelahnya.
"Enak kan Bunda?" tanya Ara.
Aku mengangguk dengan pelan dan juga perlahan mulai mengunyah. Belum juga habis dan aku telan tetapi Pak Devan kembali mendekatkan sendok yang penuh itu kepadaku.
"Makan yang banyak, Nay. Supaya kamu bisa selalu sehat," katanya dan lagi menyuapkan sendok.
Aku tersenyum menerima suapan dari Pak Devan, perbuatannya selalu saja manis denganku seolah dia ingin mengatakan dan menjelaskan bahwa dia tidak main-main dengan semua yang sudah dia katakan. Dia benar-benar ingin membahagiakanku.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Sesuai perkataan dari Pak Devan tadi aku benar-benar tidur di dalam kamarnya dan sama sekali tidak diizinkan keluar lagi setelah malam bahkan sekedar untuk melihat apakah Ara sudah tidur atau belum.
Pak Devan masuk dengan tangan membawa gelas tinggi yang berisi susu berwarna putih, dia melangkah menuju tempatku yang sudah mulai merebahkan tubuh perlahan ranjangnya.
"Jangan tidur dulu Nay, susunya diminum dulu," katanya.
Aku yang terkejut karena kedatangannya langsung kembali duduk dengan tegak dan menyambut kedatangannya yang kini duduk di hadapanku di sisi ranjang dengan tangan menyerahkan gelas tersebut.
Betapa Pak Devan begitu memanjakan_ku dan memperlakukan aku seperti seorang ratunya, ratu dalam kehidupannya. Dia begitu menghargai_ku dan terus berusaha membuatku merasa nyaman dan tidak kelelahan.
Pak Devan terus melihat ketika aku mulai meneguk perlahan susu yang dia berikan.
"Maaf jika rasanya tidak enak, sebenarnya aku minta diajarkan oleh suster Neni tetapi dia sedang menemani Ara tidur jadi aku membuatnya hanya asal saja."
Ternyata pak Devan berusaha terus untuk bisa memenuhi segala kebutuhanku, dia sama sekali tidak malu untuk belajar dan mempelajari hal-hal baru yang sebenarnya sama sekali tidak pantas untuk dirinya.
Dia selalu melarang_ku untuk melakukan ini itu tetapi dia sendiri yang malah melakukannya untukku, bukankah ini sangat terbalik?
"Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan kamu melakukan apapun. Aku hanya ingin kamu selalu ada untukku dan menemaniku saja semua kerjaan sekecil pun kamu tidak boleh memegangnya."
Belum apa-apa dia sudah melarangku untuk melakukan apapun. Kalau aku tidak boleh melakukan apapun Lalu apa yang harus aku lakukan?
"Apakah aku juga tidak boleh membuat makanan atau minuman sama sekali untukmu?"
Cepat Pak Devan menggeleng, sepertinya memang benar-benar tidak boleh aku melakukan apapun untuk dirinya.
"Aku membuat kamu menjadi istriku bukan untuk aku jadikan babu melainkan ratu. Jadi kamu hanya perlu duduk manis mendukungku dalam hal apapun dan juga..."
Pak Devan meringis sebelum dia melanjutkan perkataannya sendiri. Dan juga apa? Sangat mencurigakan.
"Juga?" jelas aku sangat penasaran dengan kelanjutan kata-katanya.
"Hehehe, juga? Kamu bisa menjadi pelayanku tetapi pelayan yang lain. Pelayan yang hanya akan menjadi penghangat tidurku saja, yang jelas menjadi penghangat ranjang di setiap malam." katanya.
Sudah aku tebak pasti inilah yang akan dia katakan.
"Apakah hanya itu saja tugas ku? Kalau hanya seperti itu saja bukankah aku hanya seperti budak n*fsu mu saja?"
Entah muncul dari mana istilah itu tapi yang jelas itu sudah keluar dari mulutku.
"Tidak, kalau aku hanya menjadikan kamu budak ni*fsu saja maka aku tidak perlu menikahi_mu. Tapi aku hanya akan memenjarakan mu di kamar saja, bahkan tidak akan aku biarkan kamu turun dari ranjang."
"Tapi tidak! Aku tidak memiliki niat untuk itu. Wanita itu harus di mulaikan, apakah wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku," katanya.
Suaranya terdengar sedikit kasar dari biasanya, mungkin memang pertanyaanku sangat keterlaluan dan membuatnya marah tetapi jika mengingat semua yang dia katakan tadi bukankah siapapun juga akan berpikir seperti itu?
"Sekarang tidurlah, dan jangan berpikir yang tidak-tidak."
Pak Devan langsung mengambil gelas kosong dari tanganku dan langsung beranjak tanpa melakukan sesuatu apapun setelahnya.
Ditaruhnya kelas tersebut di atas meja lalu Pak Devan merebahkan tubuhnya sendiri di sofa.
Aku masih kecil terpaku menatap Apa yang dia lakukan apalagi dia kini memunggungik_ku.
"Apakah dia marah?" gumam ku.
"Pak, pak!" ku panggil untuk sekedar memastikan tapi ternyata tak ada sahutan sama sekali darinya.
Apakah pak Devan benar-benar marah?
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit hingga dua puluh menit tak ada pergerakan sama sekali dari pak Devan, bahkan sekedar suara saja tidak aku dengar.
Aku turun dari ranjang dengan perlahan mengambil selimut lain yang ada di atas kasur dan berniat untuk menyelimuti pak Devan.
"Pak, maafkan Nay jika kata-kata Nay melukai hati bapak. Tapi, Nay hanya takut," kataku.
Sama sekali tidak ada pergerakan apapun dari Pak Devan dan membuatku langsung menyelimuti dan bergegas untuk kembali keranjang. Tetapi sebelum itu terjadi aku tiba-tiba terkejut ketika tangan Pak Devan menarik_ku hingga aku berhasil duduk di pangkuannya.
"Pak!" teriak ku.
"Apakah kamu masih meragukan ku?" tanyanya setelah mata kami saling bertemu.
"Ti_tidak. Nay hanya takut bapak akan meninggalkan ku," jawabku.
"Tidak akan, tak akan pernah."
Aku terdiam tanpa mengatakan apapun tapi hal itu malah di artikan lain oleh pak Devan.
"Kenapa, apakah kamu mau aku tidur di satu ranjang dengan mu? Apakah kamu mau aku memeluk mu?" matanya mengerling nakal.
"Ti_tidak," elakku.
"Benarkah? sepertinya matamu tidak mengatakan hal itu."
Pak Devan tersenyum dia juga langsung berdiri dengan mengangkat tubuh ku dan mulai berjalan menuju kasur.
"Pak, bapak mau apa?"
"Mau apa lagi, mau memeluk anakku lah."
Perlahan dia menurunkan ku dan dia juga menyusul naik. Belum juga aku mengatakan apapun dia sudah memeluk perutku dengan erat.
"Anak ayah, jangan nakal ya. Tidur yang baik ini sudah malam," katanya. Mengatasnamakan anak tapi kenyataan? Hem... Benar-benar nih orang.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung