
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Cinta Memang masih ada meski hanya begitu kecil di dalam hati karena bagaimanapun pernah mengisi hari, melewati waktu bersama dan menjalin komitmen bersama-sama, tentu tidak akan mudah untuk bisa melupakan semua rasa yang pernah ada.
Tidak akan semudah membalikkan telapak tangan bagi seorang perempuan yang pernah mendapatkan rasa dan bersatu selama bertahun-tahun. Jelas akan sangat susah untuk menghilangkan dalam hitungan hari apalagi sekejap mata.
Terkadang berharap semua yang terjadi hanya sebuah mimpi dan akan hilang ketika bangun tidur dan semua akan baik-baik saja, dan mimpi yang sebenarnya akan tetap menjadi nyata. Tetapi, sayangnya semua tidak bisa diubah kembali karena itu adalah hal yang nyata bukan sebuah mimpi.
Rasa sakit semakin bertambah besar begitu pula dengan kebencian ketika melihat lagi seseorang yang pernah ditunggu-tunggu dan sekarang datang dengan membawa warna baru, yaitu sebuah kebencian karena penghianatan.
Rasanya semakin muak ketika berada di hadapannya, dari seorang laki-laki yang begitu disayang tetapi sekarang menjelma menjadi seorang laki-laki yang terasa begitu menjijikan. Yah! aku sangat jijik melihat Mas Aditya yang seperti sekarang ini.
Tatapan matanya begitu nyalang penuh dengan n*fsu, dan perbuatannya begitu kasar. Apalagi yang bisa diharapkan dari laki-laki yang seperti ini, tidak ada.
Jelas aku sangat marah juga berontak ketika dia berusaha untuk terus mendekat. Bukan karena aku senang karena mendapatkan lagi pelukannya, senang karena dia berada di hadapanku. tetapi aku tidak kuasa karena memang tidak ada tenaga untuk melawannya.
"Kamu pikir bisa pergi dariku, Nay? Tidak!" ucapannya semakin kasar dan semakin keras.
Aku hanya berpikir, kenapa tidak ada orang yang mendengar ucapannya dan juga tidak ada yang mendengar rintihan rasa sakit yang aku rasakan saat ini.
'Pak Devan kamu di mana? Aku sangat membutuhkanmu dan kenapa kamu tidak datang.' batinku pilu.
Hanya Pak Devan saja yang terlintas di dalam kepalaku, karena hanya dia yang terlihat tulus padaku saat ini. Nyatanya, meski aku terus menolak dia tetap mendekat.
"Lepas!" hanya kata itu saja yang kembali keluar dari mulutku di saat telapak tangan mas Aditya menjauh dan akhirnya telapak tangan itu kembali untuk menutup mulutku dengan rapat.
"Nay, Nay! kamu di mana? Nay!"
Hatiku rasanya sangat bahagia ketika mendengar suara teriakan memanggil dari Pak Devan. Dia datang, dia ingin menolongku.
Semakin deras air mataku mengalir dengan tubuh yang terus berontak dan mulut yang berusaha untuk mengeluarkan suara supaya pak Devan dapat mendengar.
'Pak Devan, tolong aku!" hatiku terus berteriak memanggil namanya berharap pak Devan akan mendengar, tapi mana mungkin?
Mulut juga berusaha untuk mengeluarkan suara meski hanya yang keluar suara yang terbatas saja, tapi seharusnya bisa terdengar.
Mas Aditya yang melihat aku terus berontak dan juga mendengar Pak Devan yang terus berteriak memanggil membuat dia semakin kuat menutup mulut dan juga menahan tubuhku supaya tidak bergerak, ternyata dia begitu kejam sekarang ini.
Mata Mas Aditya begitu tajam menatapku seolah mengatakan supaya aku tidak melakukan sesuatu yang akan membuat Pak Devan mengetahuinya, tapi apa yang bisa aku lakukan?
Tidak ada sesuatu yang bisa menghasilkan bunyi yang akan mempermudah Pak Devan mengetahui. Tetapi aku tidak boleh menyerah begitu saja Pak Devan harus tahu akan keberadaan_ku.
"Nay! Kamu di mana!" langkah kaki dari Pak Devan terdengar mulai menjauh. Wajahku terus menggeleng ini tidak bisa di biarkan, pak Devan tidak boleh pergi sebelum menemukan ku.
Aku tak peduli meski mata mas Aditya semakin tajam melotot. Mulut tidak bisa bersuara, tangan tidak bisa bergerak tapi aku masih punya kaki. Hingga akhirnya...
Dugh...
Lutut ku terangkat dan aku ayunkan dengan keras di tempat yang paling berharga milik semua laki-laki.
"Aww!!" hingga akhirnya mas Aditya meringis kesakitan karena ulah lutut_ku. Untung saja sekarang bisa bergerak tidak seperti tadi yang sama-sama dia tahan seperti yang lain.
Mas Aditya yang sedang kesakitan membuat aku mendapatkan kesempatan untuk pergi darinya. Aku dorong dengan kuat hingga dia berhasil mundur dua langkah.
"Pak Devan!" kembali ku mengulang supaya pak Devan tidak mengira telah salah dengar.
Aku bersiap untuk lari namun langkah terhalang oleh batu hingga membuat aku tersandung dan jatuh.
"Kamu pikir bisa pergi dariku? tidak!" meski dengan meringis namun mas Aditya kembali mendekat dan kembali ingin menangkap ku.
Jelas hal itu membuat aku kembali ketakutan. Nafas lega karena berhasil kabur kini kembali hilang.
"Pak Devan, tolong Nayla! Pak!" teriakku. Apakah kali ini dia juga tidak akan mendengar?
Dengan cepat mas Aditya menangkap tanganku, menarik paksa hingga aku berhasil berdiri lagi.
"Teriak saja semau_mu, aku tidak yakin dia akan datang menolong wanita keras kepala seperti mu," katanya.
Tangannya menarik paksa, membuat aku terseret dan terpaksa mengikuti langkahnya yang cepat.
"Lepas, Mas!" tentu tangisan ku semakin menjadi karena ketakutan ku.
"Pak Devan, tolong!" teriak ku lagi. Apakah suaraku ini hanya akan menjadi sia-sia saja?
Sangat kasar Mas Aditya menarik paksa bahkan terbilang menyeret dan membawaku ke arah lain dari mobil Pak Devan berada.
Aku terus berontak dan juga terus menoleh ke arah di mana Pak Devan berada berharap dia akan tetap dan akan menyelamatkanku dari Mas Aditya yang sekarang begitu kejam dan begitu pemaksa.
Sementara Mas Aditya yang sudah gelap mata tidak peduli dengan teriakan dan juga rintihan rasa sakit dari tangan yang dia cengkram dengan begitu kuat bahkan sekarang sudah berubah memerah.
"Ikut!" sepertinya Mas Aditya tidak tahu kalau aku datang bersama dengan Pak Devan juga dengan Ara kalau dia tahu mungkin dia tidak akan berani melakukan hal yang kasar ini.
Dia terlihat sangat bahagia dan terus saja tertawa karena telah berhasil membawaku bersamanya bahkan hampir sampai ke salah satu mobil yang aku yakin itu adalah mobil Mas Aditya.
"Hem, sudah aku katakan kamu akan kembali menjadi milikku."
Wajahnya semakin berbinar setelah melihat mobilnya sendiri yang telah terparkir dan hanya tinggal beberapa langkah lagi kami akan sampai. Dia semakin semangat melangkah, mungkin dia tidak sadar karena ingin membawaku pergi bersamanya.
"Lepaskan aku, aku tidak mau ikut. Tolong!" teriakku lagi.
Tetapi Mas Aditya sama sekali tidak peduli dengan teriakan dan juga permohonan dariku yang meminta untuk dilepaskan.
"Jangan harap kamu bisa lepas dariku mulai sekarang ini," katanya dengan wajah yang menoleh.
Hingga akhirnya, tubuhku semakin gemetar dan tangis semakin keras ketika mas Aditya membuka pintu mobil dan hendak memaksaku untuk masuk.
Namun tiba-tiba ada tangan yang langsung menangkap baju Mas Aditya tepat di punggung atasnya, tangan itu membalikkan tubuh Mas Aditya dengan paksa dan akhirnya....
Bugh... bugh... bugh...
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....