
❃❃✧༺♥༻✧❃❃1
POV AUTHOR...
Setelah kepergian Jihan dari perusahaannya Aditya juga segera pergi dari perusahaan, niatnya untuk meeting di luar.
Ckittt....
Tiba-tiba saja Aditya mengerem mendadak saat tak sengaja melihat seorang anak kecil yang hanya duduk sendiri di tengah-tengah para siswa lain yang terlibat sangat bahagia.
Aditya tentu mengenali anak itu, bahkan sangat mengenalnya. Dia adalah Ara yang hanya duduk sendiri dengan melamun.
"Ara?!" bergegas Aditya memarkirkan mobilnya dan juga ingin segera menghampiri Ara. Bukankah ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk dia bisa mendapatkan hati Ara?
Aditya tersenyum, dia sangat bahagia dan sangat tak sabar. Untuk bisa mendapatkan hati Ara Aditya harus benar-benar bisa membuat dia luluh.
Sengaja Aditya membeli sesuatu di depan sekolah itu lalu dia bergegas masuk dengan membawa jajanan yang baru saja dia beli.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Mungkin karena baru pertama kali masuk sekolah jadi Ara terlihat sedikit pendiam apalagi teman-temannya juga sama pemalu dan juga tak mudah untuk bergaul.
Memang tidak sendiri Ara di sana, ada Sus Neni yang akan selalu menemani meski tidak berada di kelas. Sama seperti yang lainnya Sus Neni menunggu di tempat yang sudah di sediakan.
Di tengah-tengah istirahat di tengah-tengah riuh keramaian para anak-anak dia berdiam diri, melamun sendiri karena belum mendapatkan teman.
Bibirnya berkali-kali merengut dan hanya bisa melihat para teman-teman yang lalu lalang. Tumben saja Ara diam dengan dan tidak berusaha untuk berkenalan dengan semua teman-teman barunya.
"Hallo cantik."
Seketika Ara menoleh meski di depannya ada es krim cokelat di hadapannya. Memastikan siapa yang telah memberikan es krim itu padanya.
Ara langsung beranjak dan perlahan mundur ketika melihat siapa yang datang dan memberikan es krim. Ara sangat takut melihat Aditya yang tetap berusaha tersenyum dan berusaha bisa membuat Ara mau mendekatinya.
"Sayang, apakah kamu tidak kangen sama ayah?"
"Ayah sangat merindukan kamu. Apakah ayah tidak boleh memeluk Ara?"
Aditya bersimpuh di hadapan Ara yang terlihat sangat takut dia terus terdiam namun matanya terus menatap Aditya tanpa berkedip.
"Ara, Ayah sangat merindukan kamu. Ayah sangat ingin memeluk dan juga mencium Ara, apakah tidak boleh?" dengan wajah memelas Aditya menunduk di hadapan Ara.
Dia terlihat terus menampilkan wajah penuh penyesalan supaya Ara bisa simpati dan mau menerima dirinya. Ini adalah kesempatan yang sangat bagus dan harus dia gunakan sebaik mungkin. Kapan lagi dia bisa berbicara dengan Ara seperti ini tanpa ada orang yang tau, maksudnya Nayla juga Devan.
"Ayah sangat menyesal, ayah sangat menyesal telah meninggalkan Ara. Tapi semua itu bukan karena kesalahan Ayah, ayah pergi untuk bekerja dan juga mencari uang supaya ayah busa membahagiakan kamu juga bunda."
Diamnya Ara membuat Aditya yakin kalau Ara tau sesuatu tentang hubungan mereka, bisa saja Ara tau kalau mereka memang ayah dan anak.
Ara memang terus diam, dia terus mendengarkan apa yang Aditya katakan padanya.
Sebenarnya Ara juga sangat merindukan Aditya, mendapatkan kasih sayang dari ayah kandung siapa yang tidak mau bahkan Ara yang belum bisa berpikir banyak hal juga pasti sangat menginginkannya.
"Maafkan, Ayah. Bolehkan ayah memeluk Ara?" kedua tangan Aditya terulur dan perlahan terangkat naik untuk menyambut Ara, semoga saja anak kecil itu mau menyambutnya dan mau memeluk dirinya.
Jika Ara mau berarti dia telah berhasil jika tidak? Jika tidak berarti Aditya harus berjuang lagi dengan sangat keras untuk bisa mengambil hati Ara. Setelah mendapatkan hatinya dia akan sangat mudah untuk bisa mendapatkan hati Nayla juga.
Ara terlihat sangat sedih dengar semua perkataan Aditya, dia juga sangat bingung antara mau menerima atau tidak. Tapi dia sangat ingin merasakan hangatnya pelukan ayah kandung?
Ara masih sangat ragu untuk mendekat dia juga masih terus berdiri diam. Dia ingin pergi tapi rasa merindukan sangat besar begitu juga dengan rasa takutnya hingga membuat dia tak berani mendekat.
"Tidak apa-apa Ara belum mau memeluk ayah. Tapi asal Ara tau, ayah sangat sayang pada Ara. Ayah tidak ada niat apapun untuk meninggalkan Ara."
"Terima ini, ini dari ayah," Aditya menyodorkan semua jajanan yang di belikan oleh Aditya untuk Ara. Beberapa macam yang tentu tidak pernah Ara makan sebelumnya.
Bagaimana mungkin Ara akan memakan makanan sembarangan, Nayla sangat teliti akan urusan makanan yang masuk di perut Ara bahkan dia juga membuatkan bekal untuk Ara.
Mata Ara berkaca-kaca bercampur antara takut juga rindu. Dia gak mampu melakukan apapun hingga akhirnya dia menangis di hadapan Aditya.
"Oke oke, kamu pasti belum percaya kan sama ayah. Ayah akan tunggu Ara menerima ayah, ayah akan tunggu, sampai kapanpun."
Namun rasa rindu lebih besar membuat Ara tiba-tiba berlari dan memeluk Aditya.
Antara terkejut dan juga senang Aditya saat ini karena dia bisa mendapatkan pelukan dari Ara secepat ini. Dia pikir aja sangat susah tapi ternyata? Ara begitu bersyukur.
Cepat Aditya membalas pelukan Ara dengan sangat erat, dia juga ikut meneteskan air mata ketika mendapatkan hal baru dari Ara itu.
Seburuk apapun hati Aditya dia adalah seorang ayah dari Ara, meski niatnya salah tapi dia juga masih sangat ingin mendapatkan cinta dan kasih sayang dari anaknya.
"Maafkan ayah, Sayang." Begitu erat Aditya memeluk Ara.
'Ya Tuhan, sehangat inikah mendapatkan pelukan dari anak?' batin Aditya.
Ayah tetaplah ayah, seburuk apapun pasti ada sisi baik untuk anaknya.
"Ayah, kenapa ayah meninggalkan Ara dan bunda," tangis Ara pecah di tengah-tengah pelukan dia dengan Aditya.
"Ara selalu merindukan ayah, selalu ingin di peluk ayah, tapi kenapa ayah tidak pernah datang?"
Dan ternyata hal yang di pikirkan oleh Aditya benar, Ara adalah anaknya dengan Nayla, bukan anak dari Nayla juga Devan. Mereka hanya berbohong dan membuat drama karena kemarahan Nayla padanya.
"Maafkan ayah. Ayah terpaksa. Tapi Ara tenang saja, ayah tidak akan pergi lagi sekarang."
Perlahan Aditya melepaskan Ara dan bergantian mencium menghujani kecupan untuk wajah Ara.
Tangannya juga beralih mengusap semua air mata Ara yang terus mengalir, Aditya tentu merasa sangat menyesal, bagaimana bisa dia meninggalkan anak semenggemaskan Ara. Bagaimana bisa dia tidak tau?
'Bodoh, betapa bodohnya aku karena tak pernah tau akan kehadiran kamu Nak. Maafkan ayah," sejenak Aditya menyesal karena perbuatannya, mungkin kali ini dia tengah melupakan akan harta.
Dia tengah merasakan menjadi seorang ayah yang benar-benar menjadi ayah. Mengabaikan semua masalah dunia termasuk harta benda yang terus dia kejar sampai sekarang.
Memang Aditya sangat menginginkan harta, tapi dia juga masih sangat mencintai Nayla, apalagi dia tau kalau dia punya anak dengan Nayla. Pastilah cinta itu akan dia perjuangkan lagi.
"Ara maafin ayah kan?" tanya Aditya dengan mengangguk sekali sebagai tanda permintaan jawaban dari Ara.
"Iya, tapi ayah tidak boleh pergi lagi." jawab Ara.
Ara memang mendapatkan kasih sayang yang begitu melimpah dari Devan tapi dia juga sangat menginginkan kasih sayang dari Aditya ayah kandungnya, dan setelah itu dia dapatkan tidak mungkin dia akan menolaknya?
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung.......