Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Harus Bisa



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Aku mendekati Mas Devan yang terlihat termenung di depan jendela, memandangi malam yang begitu sangat gelap. Wajahnya terlihat sangat gelisah, entah apa yang tengah dia pikirkan.


Tangan ini berhasil menyentuh pundaknya dan membuat doa menoleh, dia sangat jelas tengah tidak baik-baik saja, apakah ada hal yang ingin berusaha dia katakan padaku?


"Mas, ada apa?" tanyaku.


Ku beranikan diri bertanya padanya, aku sudah sangat penasaran dari kemarin apa yang membuat dia terlihat selalu gelisah seperti sekarang ini. Dan malam ini aku lihat begitu parah, tak ada ketenangan dalam batinnya dan aku sadari itu.


"Tidak apa-apa. Ini sudah malam, tidurlah," katanya. Dia memintaku untuk istirahat sementara dia sendiri terlihat belum ada niat sama sekali.


"Mas, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku. Meskipun Mas tidak pernah mengatakan tapi aku yakin mas ada sesuatu. Katakan, Mas."


Aku sangat ingin tau sekarang, sudah tidak kuat lagi menahan rasa penasaran yang sangat besar.


"Tidak apa-apa, percayalah."


"Tidak mungkin tidak ada apa-apa tapi mas selalu gelisah seperti ini. Katakan Mas, sebenarnya ada masalah apa?"


Terus saja aku membujuk Mas Devan untuk mengatakan semua yang dia sembunyikan diriku. Aku sangat ingin tau.


Tidak menjawab tapi Mas Devan malah menggandeng tangan dan menuntunku untuk ke tempat yang biasa aku jadikan istirahat. Apakah kali ini juga tidak akan aku dapat jawaban dari Mas Devan? Apakah aku akan tetap di buat penasaran entah sampai kapan?


Aku masih diam dengan mengikutinya, hingga akhirnya kami duduk dengan berhadapan sofa panjang.


"Aku akan katakan, tapi jamu harus bisa kontrol dirimu sendiri. Aku tidak mau jika aku katakan tapi kamu tidak bisa menahan diri."


Semakin membuat aku penasaran dengan teka-teki ini. Aku langsung mengangguk cepat tampa berpikir panjang, entah apa yang akan dia katakan hingga dia mengatakan hal yang seperti ini lebih dulu. Dia ingin memastikan aku baik-baik saja, oke, akan aku usahakan.


"Sebenarnya, Aditya ingin mengambil Ara dari kita."


"Tahan dirimu, Nay. Jangan sampai kamu terbawa amarah karena semua yang ingin dia lakukan pada kita. Dia bisa berusaha seperti apapun, tapi aku tetap tidak akan pernah membiarkan dia berhasil. Kamu jangan khawatir."


"Tapi tak, Mas. Aku sangat takut, dia pasti akan nekat dalam hal apapun untuk bisa mendapatkan apa yang dia ingin. Aku tidak mau kehilangan Ara."


Tentu aku tidak mau itu terjadi. Dia adalah anakku, dia darah dagingku yang aku besarkan sendiri tanpa bantuan dari tangannya. Bahkan untuk memenuhinya saja aku tak pernah meminta sepersenpun pada dirinya meski dia punya kewajiban itu.


"Iya, Mas juga tidak akan membiarkannya. Kamu tenang ya."


"Besok, kamu kamu harus datang ke pengadilan."


"Pe_pengadilan?" Tentu aku sangat terkejut mendengar kata pengadilan sari Mas Devan, kenapa harus kesana, apakah Mas Aditya sudah maju lebih cepat.


"Kamu tidak usah takut. Ada aku yang akan mendampingi_mu.kammu tidak sendiri."


"Lalu Ara?" Sekarang Ara yang aku bingungkan, dia akan di rumah sakit bersama siapa?


"Mas sudah minta bantuan Mika, dia akan datang pagi-pagi besok. Dan juga ada Sus Neni yang menemaninya."


Rasanya sangat berkata untuk meninggalkan Ara sendiri di rumah sakit, meski ada Mika dengan Sus Neni tapi rasanya masih sangat tak tega.


Tapi aku juga tidak bisa membawanya, Ara masih harus tetap mendapatkan perawatan.


"Ingat ya, Nay sayang. Kontrol dirimu dengan baik, jangan sampai kamu meluapkan amarah sekecilpun di sana. Jangan sampai dia ada celah untuk bisa mengalahkan kita. Kamu mengerti?"


Aku mengangguk meski aku sangat ingin marah dan juga sangat ingin menamparnya tapi tidak untuk sekarang. Aku tidak ingin kehilangan Ara. Tidak boleh mas Aditya mengambil Ara dariku. Tidak!


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...