Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Semua Baik



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Pemeriksaan yang membuat kami semua bahagia, bukan hanya diriku ataupun Mas Devan tapi juga kedua mertuaku. Anak yang masih ada dalam kandunganku pertumbuhannya sangat baik, juga sangat sehat jelas saja kami semua akan bahagia.


Bukan itu saja, tapi perkembangan Ara dalam kesembuhan juga semakin membaik. Beberapa pengobatan telah dilakukan hingga akhirnya perlahan Ara mulai pulih.


Sementara Mas Aditya dia mendapatkan hukumannya dua tahun penjara, dan ternyata Jihan dia begitu baik dan memaafkan Mas Aditya. Memang hukum harus tetap berjalan namun Jihan dia tidak menceraikan Mas Aditya dan masih berstatus sebagai istri.


Sementara Mika, Mika semakin dekat dengan Andri. Bahkan mereka juga sudah resmi berpacaran dan katanya sebentar lagi akan melangsungkan pertunangan mereka.


Setelah selesai pemeriksaaan aku pulang, tentu di antar mas Devan meski sebenarnya dia harus kembali ke kantor. Dia selalu berusaha menjadi suami yang siaga dan selalu memastikan aku merasa nyaman dan tidak takut.


Meski di rumah banyak orang yang akan menemani tapi mas Devan selalu saja setia menemani dan hanya akan pergi ke kantor dengan waktu yang sebentar.


Dia lebih suka bolak-balik daripada terus menetap di kantor apalagi ketika aku ataupun Ara akan melakukan pemeriksaan rutin, dia akan selalu menemani dan memastikan kami kembali ke rumah dengan selamat.


"Setelah ini mas akan kembali ke kantor?" Tanyaku sembari menoleh kearahnya yang dengan menyetir.


"Iya, tapi hanya sebentar. Setelah itu mas akan pulang, pekerjaan tidak begitu banyak dan juga bisa di kerjakan di rumah."


Mas Devan tersenyum sejenak sembari menoleh ke arahku, tidak lama hanya beberapa detik saja lalu dia kembali fokus dengan jalan raya.


"Ayah, nyalain lagu balonku dong," Ara berucap. Aku pikir dia tidur karena terus diam dan duduk bersama Sus Neni tapi ternyata dia tidak tidur sama sekali.


Biasanya setelah pulang pemeriksaan dia akan selalu tidur, mungkin karena pengaruh obat, tapi kenapa tidak untuk sekarang.


"Baiklah, kita putar lagi balonku. Tapi Ara ikut nyanyi ya," Mas Devan langsung setuju. Tangannya bergerak menyalahkan lagu dan membuat Ara begitu senang.


"Balonku ada lima..." Ara langsung menirukan suara artis kecil yang menyanyi, suaranya begitu berbeda. Semuanya bagus dan memiliki ciri khas masing-masing.


"Ayah dan Bunda nyanyi juga dong!" suara Ara begitu menggema masuk ke telinga, dia berdiri tepat di tengah-tengah kami namun berada di belakang.


"Tidak, Sayang. Bunda suaranya jelek," Aku menolak, suaraku memang tidak begitu bagus dan tentu aku juga malu kalau sampai didengar oleh Mas Devan, dia pasti akan menertawakan ku.


"Ayo dong, Bunda. Suara Bunda bagus kok, Iya kan ayah?"


"Betul, suara Ara dan Bunda selalu indah di telinga ayah. Ayo nyanyi," Mas Devan tersenyum.


Aku tidak percaya meski Mas Devan mengatakan itu padaku. Kalau suaranya jelek meskipun siapapun yang mendengarkan tetap saja akan jelek, tapi entahlah mungkin yang dikatakan oleh Mas Devan benar.


Karena tidak tega melihat Ara yang terus merengek akhirnya aku menurut padanya dan mulai ikut menyanyikan lagu anak-anak itu. Dan Ara tersenyum, Dia sangat senang mendengar suaraku.


"Meletus balon hijau, duarr!" Suara kami melengking tepat di suara balon yang meletus. Kami semua tertawa begitu juga dengan Sus Neni. Dia tidak bisa menahan diri dan ikut tertawa akhirnya.


"Hatiku sangat kacau..."


"Balonku tinggal empat ku pegang erat-erat," Sembari bertepuk tangan kami bernyanyi, suara terasa memenuhi mobil dan membuat kebisingan didalamnya. Tapi kami sangat bahagia.


"Cicak cicak di dinding.." Ara masih mengikuti, lagi kedua telah terdengar dan dia begitu antusias.


Ara sudah kembali duduk di tempat semula di sebelah Sus Neni dengan bersandar dan terlihat begitu nyaman.


Sesekali aku menoleh sembari tangan terus bertepuk dan juga masih menyanyi.


Perlahan-lahan suara Ara mulai hilang, tangannya yang tadi bertepuk juga tak lagi terdengar. Aku menoleh dan ternyata dia sudah memejamkan mata. Mungkin dia sangat lelah atau mungkin obatnya sedang bekerja.


"Alhamdulillah, akhirnya dia tidur." Lega rasanya.


"Iya, Alhamdulillah. Kamu nggak tidur juga?" Mas Devan menawarkan.


"Tidak, sebentar lagi juga sampai kan?"


"Tidak apa-apa, kalau ngantuk tidur saja nanti aku gendong masuknya." Mas Devan tersenyum tapi kenapa terlihat aneh.


"Nggak ah, nanti ujung-ujungnya minta imbalan." Tebakku. Pasti akan benar karena bagi mas Devan tak ada yang gratis. Hanya gendong saja nanti imbalannya pasti yang membuat lelah.


"Jelas dong. Tapi imbalannya kan juga nggak yang susah."


"Ti_ dak." Aku menegaskan, lebih baik tetap terjaga kab daripada di gendong tapi dengan imbalan. Sama saja itu tidak ikhlas kan.


"Ayo tidur," pinta mas Devan.


"Tidak," Aku menggeleng kasar, kembali menoleh keluar dan melihat semua yang ada.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...