
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Mobil berhenti dengan tenang di tempat parkir di rumah mewah yang di miliki pak Devan. Ketakutan masih tetap ada meski sudah ada di dalam mobil dan juga sudah aman dari mas Aditya. Tapi rasa takut ini?
Ara juga sempat menangis setelah melihat ku yang ketakutan bahkan ketika kembali dengan di gendong oleh pak Devan. Di dalam mobil Ara terus saja memelukku dan terus berusaha menenangkan ku dengan cara terus mengelus dan berbicara sesuatu.
Semua ketakutan seiring waktu mulai berkurang dengan apa yang telah Ara lakukan, inikah yang di namakan dengan hubungan batin anak yang akan lebih tajam dan sangat berguna untuk mengurangi rasa sedih dan sakit yang di alami orang tua?
Suka cita para pelayan dan juga para suster melihat kami kembali lagi datang di rumah ini. Mereka tersenyum tapi setelahnya mereka menatap iba setelah melihat ku yang terus diam sedih.
"Ara sayang, sama Sus Neni dulu ya," kata pak Devan.
Ara tidak menolak dan langsung turun dengan di sambut oleh suster Neni sementara aku? Pak Devan yang tiba-tiba kembali mengangkat tubuhku yang masih terasa sangat rapuh.
"Mbak, tolong semua barang-barang ya," titah pak Devan.
"Dan kamu, panggil dokter," Imbuhnya lagi.
"Baik Tuan," Beberapa pelayan sudah berjajar tinggal menunggu perintah dari pak Devan, pelayan yang berseragam hitam putih itu tampak begitu hormat kepada pak Devan. Jelas, dia adalah bos mereka.
Setelah memberikan perintah pak Devan langsung melangkah masuk dan terus menggendong ku yang masih saja diam. Jelas, trauma itu pasti ada dan itu masih terasa sangat membekas.
Kenapa rasanya aku begitu sangat rapuh?
Aku tidak tau akan di bawa ke mana dan di kamar mana. Aku benar-benar pasrah.
Di sinilah sekarang aku berada, di kamar pak Devan. Aku pikir akan di bawa di kamar lain atau kamar Ara tapi ternyata? Malah di kamar pak Devan sendiri.
Perlahan di turunkan di ranjangnya yang begitu luas dan juga langsung di selimuti begitu rapat.
Pak Devan tidak langsung pergi melainkan kini duduk di tepi ranjang yang aku tempati. Satu tangan bergerak untuk menghapus air mataku yang sesekali menetes dan yang satunya menggenggam tangan ku.
"Maafkan aku yang terlambat, seandainya aku tidak membiarkan mu pergi sendiri semua ini tidak akan terjadi," ucapnya yang merasa sangat menyesal.
Bukankah ini sebenarnya bukan kesalahannya? Aku sendiri tadi yang melarang saat dia ingin ikut, jadi pak Devan tidak salah kan?
"Apakah ada yang sakit?" tanyanya.
Aku menggeleng kecil, memang tidak ada yang parah hanya pergelangan tangan saja yang masih sakit dan terlihat merah akibat di cengkram oleh mas Aditya dan juga lutut akibat terjatuh saat ingin kabur tadi.
Tak lepas mata pak Devan melihat pergelangan tangan yang terlihat sangat merah, perlahan mengelusnya juga meniupnya.
"Apakah ini sakit?"
Ya Allah, begitu perhatiannya pak Devan padaku. Semua di tanyakan dan dia berusaha untuk membuat ku lebih tenang. Bagaimana mungkin aku masih meragukan ketulusannya?
"Kenapa, apakah ada yang sakit?" Pak Devan terlihat panik ketika aku kembali menangis, tangannya juga langsung menghapusnya lagi.
Mataku terpejam ketika tangan itu menyentuh pipi, merasakan betapa lembutnya perlakuannya meski tadi begitu keras memukul mas Aditya. Perlakuannya sangat kontras dan begitu berbanding terbalik.
Perasaan begitu campur aduk aku rasakan. Menyesal, sedih dan merasa bersalah.
Aku menangis bukan karena sakit, melainkan karena membayangkan bagaimana kalau tidak ada pak Devan yang datang dan menolongku. Pastilah aku sudah ada dengan mas Aditya yang sekarang sudah seperti monster yang begitu menyeramkan.
"Kenapa?" pak Devan terlihat bingung karena sama sekali aku tidak menjawab. Hingga akhirnya pak Devan menoleh ketika pintu terbuka dan ternyata seorang dokter yang datang.
Dokter itu terlihat sangat terkejut saat melihat ku, jelas! Siapapun pasti akan sama seperti dirinya jika melihat ada perempuan yang tiba-tiba ada di dalam kamar seorang pria bahkan dia tidak pernah memasukkannya di kamarnya sendiri seperti ku.
"Hem, jangan banyak tanya dan periksa dia dulu. Dan ya, pe_periksa kehamilannya juga." ragu pak Devan mengatakan akan kehamilan pada dokter wanita itu bahkan dia sedikit meringis juga menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, mungkin?
"Ha_hamil?" kembali sang dokter di buat terkejut karena itu, matanya juga terbelalak memandangi pak Devan.
"Udah deh, jangan banyak tanya. Dan ya! Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan dia dan anaknya, kalau sampai itu terjadi kamu yang hek!" tangan pak Devan terangkat dan mengibaratkan tangannya itu adalah sebuah pisau yang akan melukai lehernya.
"Dasar gila!" umpatnya tak terima.
Tak mau mendengar ocehan dari pak Devan lagi dokter cantik itu langsung duduk untuk memeriksa keadaan ku.
Aku terus diam dan tak mengatakan apapun meski dokter itu terus memeriksa.
"Kenapa kamu masih si sini?" dokter cantik itu menoleh ke arah pak Devan yang masih berdiri di sampingnya.
Matanya menatap tajam dengan tangan yang berhenti memeriksa.
"Ke_kenapa? Ini kamar ku kan? Jadi aku bebas dong disini?" pak Devan sepertinya tidak terima ketika dokter itu menegur.
Bagaimana mungkin dia tidak akan mengatakan itu karena sang dokter memang belum mengetahui hubunganku dan juga pak Devan. Di lihat-lihat dia begitu akrab sekali dengan pak Devan apakah mereka adalah teman?
"Bagaimana aku akan memeriksanya kalau kamu di sini? Kalian belum menikah kan?"
"Belum sih, tapi akan menikah! Bahkan apalagi yang harus di sembunyikan aku sudah melihat semuanya," katanya begitu enteng.
Mata dokter kembali terbelalak, sementara aku? Ya Allah, ingin sekali aku sembunyi di kolong ranjang atau mungkin pergi dari sini. Ucapannya sama sekali tidak di saring dulu dan asal begitu saja keluar.
"Ka_kamu... Ja_jangan-jangan anak yang dia kandung?"
"Kenapa, dia anak ku. Keren kan aku? Tanpa program langsung jadi, tokcer kan?" ucapnya tak ada rasa malu-malunya sama sekali. Dan aku yang malu.
Ada-adanya laki-laki yang sama sekali tidak punya malu seperti Pak Devan. Tidak di sangka kalau dia juga keras kepala.
Jelas, aku yakin mereka adalah teman akrab kalau tidak tidak mungkin pak Devan bisa bicara begitu padanya.
"Gila kamu, Dev."
"Hehehe, bukankah kamu sudah tau kalau aku memang gila? dan inilah kegilaan ku."
Bukannya merasa bersalah tapi pak Devan malah begitu bangga karena apa yang telah dia lakukan. Semuanya dia anggap adalah sebuah keberhasilan yang sangat besar hingga membuat aku bisa hamil meski hanya satu kali sentuhan saja.
Memang, waktu pak Devan menyentuh ku saat itu aku berada di masa subur maka dari itu langsung jadi seperti ini.
"Cepat periksa, Wil. Dan jangan sampai ada yang terlewatkan atau kamu yang akan menanggungnya." ancamnya.
Terlihat dokter itu sama sekali tidak takut dengan ancaman pak Devan, dia hanya menggeleng saja dan menggerutu tidak jelas.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....