Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Ingin Mencari Ayah



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Awalnya aku tak percaya kalau Pak Devan akan menunggu kami dan akan mengantarkan kami ke taman tetapi ternyata beliau benar-benar menunggu dengan sabar hingga kini menuju taman dengan mengendarai mobilnya.


Ara begitu bahagia karena bisa naik mobil yang begitu nyaman dan juga harum. Jelaslah, kan mobil Pak Devan mobil mahal tentu semua yang ada di dalamnya adalah yang paling istimewa.


Bukan itu saja yang membuat Ara terlihat bahagia tetapi aku sangat yakin dia bahagia karena keinginannya untuk pergi ke taman sebentar lagi akan terwujud, entah apa sebenarnya yang membuat dia begitu ingin ke tempat itu.


Karena tidak mau dianggap sebagai sopir pak Devan meminta untuk duduk di samping pengemudi. Awalnya aku ingin menolak tetapi Ara begitu bahagia dan terus menarik tangan hingga membuatku tak bisa mengelak lagi kecuali menerima keinginan dari Pak Devan.


"Pada hari minggu ku turut ayah ke kota naik delman istimewa ku duduk di muka ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja mengendarai kuda supaya jalannya... Ceter..."


Sesekali suara Ara begitu melengking tinggi dan juga sesekali terdengar sangat cempreng begitu menggemaskan dan sangat lucu membuat aku tidak tahan untuk tidak tertawa.


"Bagaimana, Bunda. Suara Ara bagus kan?" Tanya Ara begitu antusias. Dia menoleh ke arahku dengan wajah yang begitu berbinar terang.


"Bagus, sudah cocok jadi idola cilik," kataku dengan tersenyum dan menyembunyikan tawa.


Aku yakin jika sampai aku tertawa pasti Ara akan berpikir kalau suaranya tidaklah bagus jelas aku tidak mau itu terjadi dan membuatnya sedih.


"Suaraku benar-benar bagus kan om?" Kini Ara meminta pendapat dari Pak Devan yang dari tadi hanya diam dan fokus menyetir dan sesekali dia tersenyum karena mendengar nyanyian Ara.


"Hem, bagus sih. Tapi Ara masih harus banyak belajar lagi. Kata bunda benar kamu sudah cocok menjadi idola kecil."


"Yee! Setelah aku sekolah nanti aku ingin menjadi idola cilik yang terkenal supaya ayah bisa melihat Ara dan dia bangga lalu pulang dan bisa bersama-sama Ara dan Bunda. Iya kan, Bunda?"


Seketika aku terdiam Ara berbicara seperti itu, aku sangat yakin dia memiliki harapan yang sangat besar untuk bisa bertemu dengan ayahnya bahkan bisa berkumpul sebagaimana keluarga yang semestinya, lengkap dan bahagia.


Aku hanya bisa tersenyum dengan sangat terpaksa tidak mungkin aku mengatakan tidak karena itu pasti akan mengecilkan hatinya dan dia akan kembali sedih.


Aku tidak mau dia kembali sedih seperti kemarin ketika dihina oleh teman-temannya dan dikatakan kalau dia tidak memiliki ayah. Hal itulah yang membuat aku ingin marah, bagaimana bisa Ayah yang ditunggu-tunggu oleh Ara ternyata sudah menjadi suami orang lain.


Lalu, bagaimana dengan mimpi Ara?


'Ya Allah, maafkan aku yang tak akan bisa mewujudkan mimpi Ara. Aku tak akan bisa membawa mas Aditya pulang untuk bersama-sama kami dan mengakui aku juga Ara,' batin ku kembali tersayat.


Sampailah kami di taman yang sudah menjadi tujuan. Mobil berhenti dan Ara begitu antusias keluar dari mobil dia sangat tidak sabar ingin masuk ke taman entah apa yang membuatnya menjadi begitu semangat seperti sekarang ini.


"Bunda, ayo cepat masuk!" Ara terus menarik tanganku hingga membuat kaki langsung berjalan tanpa menghiraukan keberadaan Pak Devan yang masih tertinggal.


Aku menoleh sebentar ke arah Pak Devan dan ternyata dia juga turun dan mengikuti kami masuk ke dalam taman.


'Kenapa pak Devan ikut juga?'batin ku.


"Bunda, ayo cepat!" Ara semakin kekeuh dan terus menarik tanganku yang sudah kembali berjalan.


Begitu bahagia Ara ketika sampai di taman wajahnya terus menoleh entah ke arah mana yang akan dia tuju sekarang ini tapi yang jelas aku akan selalu mengikutinya karena tidak mau sampai kejadian waktu itu kembali terulang aku tidak ingin Ara kenapa-napa.


Dan akhirnya aku tahu apa yang menjadi tujuan Ara mengajak ke taman dia ingin bisa bertemu dengan Mas Aditya lagi.


Kenapa harus seperti ini lagi Ara begitu berharap bisa melihat ayahnya sementara dia sendiri? apakah dia peduli dengan kami, dengan kebahagiaan Ara.


Aku berjongkok di hadapan Ara membelai rambut dan berpindah ke pipinya dengan perlahan niat ingin memberi pengertian kepadanya kalau Ayahnya mungkin tidak akan kembali dan itu memang sudah tidak bisa lagi. Tetapi, belum mengatakan saja hatiku sudah merasa sakit.


"Ara sayang, untuk sekarang lebih baik kita bersenang-senang berdua jangan cari ayah, oke." Kataku dengan lembut.


"Emangnya kenapa, Bunda. Ara_kan kangen sama Ayah, Ara juga pengen seperti teman-teman yang punya ayah. Mereka selalu pergi dan bermain dengan ayah sementara Ara? Kapan ayah akan pulang dan menemui Ara."


"Ara benar-benar punya ayah kan Bunda? Lalu di mana Ayah kenapa ayah tidak pernah pulang, apakah Ayah tidak sayang sama Ara? Apakah ayah tidak merindukan Ara. Ara_kan tidak nakal Bunda, Kenapa Ayah tidak mau pulang menemui Ara?"


Air mata perlahan keluar dari pelupuk mata bidadari kecil, Ara. Aku tahu dia sangat sedih Dia sangat berharap akan bisa bertemu dengan ayahnya, tapi mau bagaimana lagi semuanya tidak akan mungkin bisa terjadi dan aku tidak akan membiarkan Ara bertemu dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti Mas Aditya.


"Bunda, Ara kangen sama ayah. Ayo kita cari ayah."


"Atau jangan-jangan bunda memang tidak pernah mencari ayah, apakah Bunda yang telah mengusir ayah sampai-sampai Ayah juga marah sama Ara?"


"Bukan seperti itu, Sayang. Tapi ayah memang belum bisa pulang saat ini, Ara kan tahu kalau Ayah sedang bekerja."


Sama sekali aku belum sanggup mengucapkan kejujuran kepada Ara kalau Ayahnya tidak akan pernah pulang dan tidak akan pernah menemuinya.


"Ara tidak minta apapun dari ayah, Bunda. Ara tidak butuh mainan banyak Ara juga tidak butuh bisa sekolah, yang terpenting Ara bisa berkumpul bersama ayah."


Bagaimana aku harus memberikan pengertian kepada Ara. Aku ingin Ara mengerti dengan semua keadaan ini tetapi di usianya sekarang dia tidak akan bisa mengerti.


"Sayang, dengerin Bunda. Kita doakan ayah semoga ayah bisa secepatnya menyelesaikan pekerjaan dan bisa cepat pulang dan berkumpul lagi dengan kita. Ara pengen jadi anak baik kan? Maka nurut ya sama Bunda."


"Tidak, Ara hanya mau Ayah!"


Begitu keras aku menahan air mataku supaya tidak keluar tetapi pada akhirnya aku juga tidak sanggup menahan semua ini. Ini begitu menyakitkan bagi seorang ibu dan juga bagi seorang perempuan yang tidak dianggap dan ditinggalkan.


"Aku mau cari ayah!" Ara berlari pergi.


"Ara!" Aku berteriak yang begitu keras ketika Ara tiba-tiba lari menjauh dengan tangis sungguh hatiku semakin hancur.


Aku ingin berlari mengejar Ara tetapi langkahku terhenti karena mendengar Pak Devan yang mencegahku.


"Biar aku saja." Ucapnya.


Pak Devan langsung berlari mengejar Ara, sementara aku terpaku dalam isak tangis yang begitu menyakitkan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...