
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
AUTHOR POV..
Begitu besar kesedihan Jihan setelah mengetahui akan anak yang dia tunggu-tunggu ternyata sudah tiada. Meninggalkan dirinya bahkan sebelum dia sempat hidup di dunia. Bahkan Jihan juga tidak sempat menyapa seperti apa wajah tampan anaknya yang sebenarnya berjenis kelamin laki-laki.
Seorang anak yang benar-benar akan menjadi pewaris keluarga Pratama dan sekarang pewaris itu sudah pergi.
Apakah mungkin masih ada kesempatan lagi, apakah akan di beri kepercayaan lagi dan di rumah tangga Aditya dan Jihan akan di karuniai seorang anak yang akan menjadi pewaris?
Bukan hanya sedih saja tetapi Jihan juga sangat marah kepada Aditya yang telah membuat semua ini terjadi. Jika saja Aditya tidak egois pasti mereka tidak akan kehilangan anaknya jelas semua kesalahan yang akan dilimpahkan pada Aditya oleh Jihan.
Bukan hanya Jihan saja yang marah dengan Aditya tetapi juga kedua orang tuanya Jihan yang sangat marah dan kecewa kepada Aditya.
Semua kesalahan benar-benar dilimpahkan kepada Aditya hingga Jihan sendiri tidak mau berbicara apalagi bertemu dengan Aditya saat ini.
Begitu juga dengan orang tua Jihan yang tidak mengizinkan Aditya untuk bertemu dengan putrinya yang sedang berduka saat ini.
Dalam penyesalan Aditya hanya menunggu di luar ruangan saja sama sekali tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam rumah.
Rasa lelah juga menyesal membuat Aditya keluar dari rumah sakit untuk menenangkan diri. Bukan hanya kedua orang tua dan Jihan sendiri yang berduka atas meninggalnya anaknya tetapi Aditya sendiri dia juga sangat berduka bahkan dari tadi dia terus mengeluarkan air mata.
Mungkin saat inilah hati Aditya yang benar-benar hancur dia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya karena dia memang merasa bahwa dia hanya memiliki anak dari Jihan saja. Berarti Aditya di sebuah taman besar di kota Dia turun dari mobil dengan keadaan yang benar-benar sangat berantakan.
Langkah kakinya tertatih begitu susah untuk bergerak tetapi tetap dia paksakan untuk bisa sampai di tengah-tengah taman di mana awal pertemuan dirinya dengan Jihan saat itu.
Semua kenangan yang indah masih terpatri dalam ingatan Aditya dan masih tertata rapi, satupun belum ada yang menghilang dari pikirannya.
Aditya terduduk dengan sangat lemas mengingat akan kebahagiaan yang ditunggu-tunggu kini telah musnah karena keegoisan dirinya. Aditya memang gila harta bahkan dia menikahi Jihan juga awalnya karena kekayaannya.
Tapi seorang laki-laki dia juga punya mimpi untuk bisa sukses dalam berkeluarga juga dalam bisnisnya. Dia ingin memiliki keluarga bahagia yang lengkap tapi dia juga ingin memiliki harta juga tahta yang tinggi supaya tak ada yang berani merendahkan dirinya.
Aditya memang sangat cerdas, itu sebabnya hanya dalam empat tahun saja menjadi pemimpin di perusahaan Pratama perusahaan itu maju dengan pesat. Kedua orang tuanya juga juga sangat bangga dan bahagia karena anaknya telah mempunyai suami yang benar-benar berkualitas.
Tapi kebanggaan itu sekarang bagaimana? Apakah masih ada, atau malah sudah berubah menjadi kebencian?
"Om, om kenapa menangis," Tanya seorang anak perempuan kecil mungkin berumur lima tahun.
"Kata Bunda, nangis itu tidak baik dan akan membuat wajah menjadi cepat tua. Jadi om jangan nangis ya. Atau Om mau Ara kasih lolipop?"
Lolipop bulat dengan berwarna-warni itu di sodorkan pada Aditya, anak kecil yang mengaku nama Ara itu benar-benar ingin memberikan permen kesukaannya itu pada Aditya.
"Ti_tidak, om tidak menangis. Om hanya kelilipan," jawab Aditya berbohong. Tangannya bergerak cepat menghapus air mata supaya tidak bisa di lihat lagi oleh Ara.
"Nah, gitu dong. Kalau begitu kan tambah tampan, Om. Oh iya Om, om kok mirip dengan ayah Ara ya?" Celetuknya.
"Benarkah?" Aditya mengernyit dia jelas tidak percaya kalau ada orang yang begitu mirip di dunia ini. Bahkan anak kembar pun pasti ada perbedaannya.
"Tapi nggak sih ya, Ayah kan agak cokelat kulitnya juga masih sangat muda." ucapnya dengan terus menikmati lolipop yang sudah dia buka sebelumnya.
"Nih Om. Ara kasih permen loli," Kembali Ara menyodorkan kepada Aditya.
"Tapi Om tidak makan permen."
"Ini enak loh, Om. Manis sekali. Permen loli ini bisa loh buat orang jadi senang," katanya yang begitu menggemaskan.
"Benarkah?"
"He'em. Coba saja," terlihat sangat meyakinkan hingga akhirnya Aditya tak sanggup untuk menolak lagi dan langsung menerima permen loli itu dari tangan Ara.
"Non, Non Ara!" terdengar suara perempuan yang memanggil Ara.
"Dah ya Om, Ara di panggil sama Sus Neny," Ara ingin berlari menghampiri arah sumber suara dan beliau juga benar-benar pergi dari sana suster Neny datang.
"Astaga, Non. Kan Sus sudah bilang jangan jauh-jauh. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Non pasti ayah akan sangat marah sama Sus Neny," katanya.
"Maaf ya, Sus. Tadi Ara lihat kupu-kupu bagus sekali."
"Ya sudah, sekarang kita pulang ya. Ayah dan Bunda sudah nungguin di rumah," Begitu lembut dan penuh kasih perlakuan Neny kepada Ara.
Tangannya seketika menggandeng tangan Ara dan menuntunnya untuk segera pulang. Sudah berkali-kali Devan menghubunginya dan dia tak bisa lebih lama lagi. Harus pulang.
Di tempat tadi Aditya masih mengamati Ara yang semakin jauh. Bibirnya tiba-tiba tersenyum setelah mengingat kata-katanya, bukan itu saja tapi juga melihat permen loli yang kini ada di tangannya.
Ada yang terlewatkan dimata Aditya, dia tidak melihat kebenaran akan kemiripan anak kecil itu pada dirinya. Seandainya dia melihat jelas-jelas dia akan mudah menebak tapi ternyata tidak, matanya masih tertutup akan suka yang dalam akibat kehilangan anaknya yang lain.
"Maafkan papa, Nak. Semua ini memang salah papa."
"Bukan bukan, semua ini gara-gara wanita itu. Semua ini gara-gara dia!" Matanya kian melotot melihat ke arah yang ada. Menyalahkan Nayla akan apa yang dia lakukan sendiri. Bukankah sangat jelas kalau dia sendiri yang bersalah tapi kenapa malah menyalahkan Nayla?
"Kamu harus bertanggung jawab, Nay," Hatinya kembali di penuhi dengan kabut amarah yang sangat besar kepada Nayla. Mantan istrinya.
----------Normal--------
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Aku terus mondar-mandir karena menunggu Ara yang tak kunjung pulang. Katanya hanya ke taman saja sebentar tapi nyatanya tak kunjung kembali.
Semua ini gara-gara pak Devan, kalau dia tidak menyuruh Ara untuk jalan-jalan dengan suster Neny, suster Nina juga dua penjaga pasti aku tidak akan menjadi khawatir seperti ini.
"Ini gara-gara bapak ya, kalau sampai terjadi apa-apa pada Ara pak Devan yang harus bertanggung jawab," Aku menoleh ke arah pak Devan yang begitu santai dengan pekerjaannya di ruang tengah.
"Lebih baik kamu duduk saja Nayla daripada terus mondar-mandir dan akan membuat kamu sendiri lelah nantinya. Tenang saja sebentar lagi Ara pulang tidak perlu terlalu berlebihan seperti ini."
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....