
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Mas Aditya begitu ngotot di dalam ruang persidangan. Dia terus saja mengatakan kalau aku tak pernah memberitahu akan keberadaan Ara di dunia ini, dia terus mengatakan kalau aku yang salah dan dia yang benar.
Jelas saja itu akan dia katakan, karena dengan kata-kata seperti itulah yang akan menjatuhkan ku dan akan membuat dia menang di hadapan hakim.
Bukan itu saja, tapi kadang dia juga akan memelas. Mengatakan kalau dia begitu sayang pada Ara dan sangat merindukannya tapi aku tak memperbolehkan dia ketemu.
Ingin rasanya marah saat ini juga, mengatakan bahwa semua yang dia katakan itu adalah salah besar. Apalagi ketika dia mengatakan aku menolak nafkah darinya, siapa yang tidak akan tumbuh emosi.
Kapan dia mau menafkahi, jangankan menafkahi, datang saja tidak pernah. Dia hanya mengatakan kebohongan tanpa melihat betapa susah payah aku untuk bisa membesarkannya.
"Dia, bahkan dia tidak mau menerima nafkah yang ingin saya berikan, Yang Mulia. Dia sudah merasa cukup padahal saya sudah bekerja keras untuk mendapatkan uang untuknya dan juga anak kami."
"Dan ya, dia malah bermain belakang dengan laki-laki itu. Apa yang mulia tau, mereka itu bukan pasangan suami istri, mereka hanya tinggal di satu atap yang sama. Mereka hanya kumpul kebo, Yang Mulai."
Langsung darah seketika mendidih karena perkataannya. Dia tidak tau kebenarannya hubunganku dengan Mas Devan, tapi dia tega mengatakan kata tak pantas seperti itu.
"Bohong, Yang Mulia. Kami adalah pasangan suami istri, dan kami tidak melakukan apa yang dia tuduhkan!"
Seketika semua menoleh ke arahku, aku tak lagi bisa menahan amarah lagi. Tidak bisa.
Meski mas Devan terus berusaha menenangkan ku tapi tetap saja, akhirnya amarah itu keluar juga.
"Dia yang bohong, Yang Mulia. Jelas-jelas ayah dari laki-laki itu sendiri yang bilang kalau anaknya belum menikah!" Mas Aditya juga tak mau kalah, ucapannya begitu menggelegar memenuhi ruang persidangan.
Tok tok tok...
"Tenang tenang! Ini tempat persidangan bukan rumah kalian. Ibu Nayla, saya minta anda diam."
Aku kembali duduk di sebelah mas Devan. Rasanya ingin marah, tapi juga ingin nangis. Tak percaya orang yang dulu begitu lemah lembut tapi sekarang menjadi seperti ini. Egois dan tak punya rasa empati sedikitpun.
"Sudah, tenangkan dirimu dulu. Biarkan dia mengatakan semua yang dia mau. Biarkan semua kebohongan yang dia buat selesai dia katakan. Kamu tenang, aku bawa semua bukti yang akan menjatuhkannya." Bisik mas Devan.
Sedikit tenang, tapi rasa kesal masih terus menyelimuti hatiku. Ingin rasanya aku hajar itu mas Aditya, mengatakan semua kebohongan tentang keburukan ku juga mas Devan.
"Berkali-kali, Yang Mulia. Saya ingin bertemu dengan anak saya, tapi mereka tidak pernah mengizinkan. Bahkan mereka mengusir saya dengan paksa, bahkan laki-laki itu juga pernah menghajar saya."
Wajahnya kembali memelas, sungguh menjijikkan.
"Cukup! Silahkan."
"Tuan Aditya. Anda mengatakan mereka bukan pasangan suami istri, tapi kenyataannya di sini tertulis bahwa mereka adalah pasangan suami istri."
Mas Aditya melongo melihat akta nikah punyaku juga mas Devan. Dia terlihat tak percaya meski pak Hakim itu memperlihatkannya dengan jelas.
Dia menggeleng dengan kasar, aku sangat yakin dia sangat syok dengan apa yang dia lihat barusan.
Dengan kilat dia menoleh kearah_ku juga mas Devan, semakin nyalang penuh kebencian matanya menatap kami. Tapi itu tak masalah, aku senang dia terkejut seperti orang bodoh, sementara mas Devan, dia juga sudah tersenyum sinis pada mas Aditya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Lagi-lagi mas Aditya membuat masalah ketika sudah ada di luar persidangan. Dia terus berteriak memanggilku namun tetap aku abaikan.
Tubuhku di dorong dan hampir terjatuh seandainya mas Devan tidak sigap menangkap, mas Aditya memang sangat keterlaluan. Setelah dia kalah dia marah dengan kami, lalu apa salah kami? Semua memang benar kan?
"Aditya!" Mas Devan begitu marah, jelas saja dia akan terpancing emosi karena perbuatan mas Aditya. Dia bisa tenang jika mas Aditya mengganggunya, tapi sepertinya tidak jika dia menggangguku atau Ara.
"Diam kamu, ini urusanku dengannya," Mas Aditya mendorong mas Devan hingga mundur satu langkah. Begitu kuat dia melakukan karena biasanya mas Devan tidak pernah mundur saat di dorong.
Mungkin mas Aditya sedang di ambang kemarahan, jadi menumbuhkan tenaga yang sangat besar.
"Berani kamu mengganggu istriku! maka kamu akan berhadapan denganku."
Mas Devan kembali maju, menghadang mas Aditya yang ingin mendekatiku. Tubuh keduanya saling berhadapan, tentunya juga dengan amarah yang ada di antara keduanya.
"Kalian boleh saja menang hari ini, tapi saya? Saya tidak akan pernah biarkan kalian menang. Ara akan menjadi milikku."
Jari telunjuk mas Aditya mengacung tinggi tepat di wajah mas Devan, dia mengancamnya dan mas Devan hanya menyeringai saja.
"Berusahalah, saya masih menghargai usaha Anda. Tapi setelah itu, menyesal lah anda di dalam penjara."
Mas Devan langsung membalik, menyambar tanganku dan langsung menuntunku pergi dari hadapannya. Aku pikir akan terjadi perkelahian sengit di sini, tapi ternyata tidak! Mas Devan masih bisa menahan emosinya, entah sampai kapan dia akan terus menahannya.
Seandainya aku menjadi mas Devan mungkin mas Aditya sudah babak belur, mungkin karena itulah Allah menciptakan aku sebagai perempuan, karena aku tak bisa menahan amarahku sama seperti mas Devan.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....