
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Jenuh dan juga sangat bosan. Setiap hari hanya di dalam rumah tanpa melakukan apapun.
setiap ingin membantu pekerjaan yang ada di rumah mewah itu pastilah tak dapat izin dari pak Devan. Hanya ingin melakukan pekerjaan di dapur yang memang sudah menjadi kegiatan sehari-hari pun juga tidak bisa, benar-benar sangat membosankan.
Sudah di batasi tak boleh pergi kemanapun dan sekarang juga di batasi tak boleh melakukan apapun. Enak sih sebenarnya karena hanya duduk saja tapi justru hal itu hanya membuat rasa bosan itu cepat datang.
Sebenarnya aku ingin pulang saja ke rumah ku yang entah bagaimana sekarang, tapi selalu saja Pak Devan mencegah.
"Bunda, kemarin saat pergi ke taman Ara bertemu dengan orang yang mirip sekali sama Ayah. Dia sedang menangis bunda, terus Ada kasih deh permen loli punya Ara."
Ara mengejutkan ku yang tengah melamun sementara dia juga menoleh dan menghentikan aktivitas mainnya.
Bukan hanya sebuah perhatian dan kasih sayang yang pak Devan berikan untuk Ara, tapi semua kebutuhan dia berikan bahkan dia juga menyiapkan begitu banyak mainan, bagaimana mungkin Ara akan merengek pulang kalau begini?
"Terus?" jantung ku seolah langsung berpacu dengan begitu cepat setelah mendengar ucapan Ara barusan.
Aku yakin Ara tidak salah lihat dia pasti mas Aditya.
"Ya, setelah Ara kasih permen loli dia berhenti menangis, Bunda. bahkan dia juga tersenyum," ceritanya dan mulai lagi dengan mainannya.
"Dia mirip sekali dama Ayah loh, Bun. Hanya saja dia sedikit tua dan juga berantakan. Kalau Ayah Ara kan masih muda dan juga selalu rapi, iya kan Bunda?"
"I_iya," aku tergagap.
Jelas mas Aditya sedikit tua karena Ara melihat masih muda ketika di foto sebelum dia pergi. Tapi kenapa Ara melihat dia terlihat berantakan?
"Jelas dong, ayah Ara kan masih muda dan sangat tampan. Ayah Ara kan Ayah om?"
Nah, dia datang lagi. Setiap melihat pak Devan kenapa rasanya ingin sekali nyaplok tuh orang. Pengen aku telen kalau bisa.
"Ayah, Ayah kok sudah pulang kerjanya! Katanya tadi bilang mau pulang malam," Ara meningkatkan.
Pak Devan terus berjalan dan berhenti di tempat kami. Dengan begitu santainya dia duduk di sebelah ku di belakang Ara.
"Ayah kangen sama Ara. Jadinya pengen pulang lebih awal," kedua tangan langsung memeluk Ara dari belakang dan mencium pipi Ara sebelah kanan.
"Ayah lepas! geli, Yah." protes Ara. Bagaimana tidak merasa geli kalau ada brewok yang beberapa hari telah di cukur itu kini mulai tumbuh lagi.
"Nggak mau," pak Devan merengek seperti anak kecil. Sungguh lucu sebenarnya tapi aku tak mau tersenyum nanti dia besar kepala lagi.
"Ara kan sudah, sekarang ganti ke bunda, Yah!" Ara memekik dengan terus menghindar dari serangan kecupan oleh pak Devan.
"Ide bagus," wajah berubah sumringah dia juga melepaskan Ara dan menghadap ke arah ku.
"Apa!?" mataku langsung melotot terang ke arahnya. Enak saja aku mau dong perlakukan seperti Ara.
"Mau cup cup lah, kan udah dapat izin dari Ara," katanya dengan membuat bibir ikan yang kian monyong.
"Awas saja kalau berani," ancam ku.
"Oh, nantangin ya. Jelas lah aku berani," wajahnya semakin mendekat membuat aku panik hingga akhirnya aku ambil bantal sofa dan aku buat untuk menghalangi wajahku supaya tidak terkena olehnya.
"Ayo Nay sayang, sekarang giliran mu," katanya. Meski tidak melihat tapi aku merasakan kalau pak Devan semakin dekat.
Aku ingin kabur tapi nihil, tidak bisa karena aku yang duduk mojok di sofa dan kedua tangan pak Devan sudah berada di dua sisi kanan dan kiri.
"Nay," panggilnya dengan begitu pelan.
"Hahaha, pak Devan! lepas, hahaha!" aku tak tahan hingga akhirnya tertawa begitu lepas juga bantal tadi sudah jatuh.
Melihat aku yang seperti itu Ara juga tertarik, bukannya membantu ku dia malah ikut menggelitik_ku.
"Hahaha, bunda bisa tertawa lagi. Hahaha!" katanya di selang tawa.
Etdah, nih anak. Bukannya nolong bundanya tapo malah ikut ngerjain.
"Ayo Ara sayang, kita buat Bunda terus tertawa," titah pak Devan yang terus di laksanakan oleh Ara.
"Ara, stop! pak Devan, stop!" teriak ku tapi mereka tetap tidak peduli.
"Stop!!!" kali ini benar-benar melengking begitu tinggi.
Keduanya langsung melepaskan dengan wajah menunduk. Kompak banget mereka berdua seperti orang yang sudah janjian untuk melakukan itu. Mereka terdiam seperti anak yang ketakutan karena di marahi orang tua.
"Maaf, Bunda," ucap keduanya.
Aku masih terengah karena perbuatan mereka, aku ingin sekali pergi dari hadapan mereka dan sudah berdiri tapi tangan langsung di tangkap oleh pak Devan.
"Maaf, aku hanya ingin melihat kamu tersenyum lagi. Aku tau aku salah, maaf," katanya.
"Iya, Bunda. Ara juga minta maaf. Ara juga tidak mau Bunda terus sedih, Ara ingin bunda selalu tersenyum dan bisa main lagi dengan Ara." katanya.
Aku kembali duduk, tapi bukan karena pak Devan tapi karena Ara. Ya! karena masalah ku dengan pak Devan aku melupakan Ara, aku sering mengabaikannya.
"Maaf Bunda juga, Ya," aku rengkuh tubuh kecil itu dan aku angkat ke pangkuan ku.
"Bunda, aku mau juga," kembali aku menoleh ke arah pak Devan. Enak sekali dia ngomong.
"Oke, sekarang Bunda akan bermain sama Ara. Sekarang Ara mau apa?"
"Beneran Ara boleh minta apa aja, Bunda?!" Ara begitu semangat tapi dia yang seperti itu kenapa malah membuat aku jadi takut?
"Bo_boleh, emang Ara mau apa?"
"Ara..." Ara menghentikan perkataannya dan tersenyum begitu manis. Entah apa yang dia pikirkan.
"Hehehe, Ara pengen adik," katanya.
"Hah!" bukan hanya aku saja yang melongo tapi pak Devan juga sama.
"Kan sekarang ayah dan Bunda sudah tinggal satu rumah jadi Ara bisa dong punya adik," katanya dengan begitu polos.
"Ara jangan khawatir, adik Ara lagi dalam perjalanan. Lagi otewe," kata pak Devan.
Cetakk...
Aku sentil kening pak Devan tapi dia malah terkekeh karenanya.
"Bunda jangan nakal sama ayah!" Ara yang berteriak tidak terima karena apa yang aku lakukan.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...