Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Tekat Aditya 2



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Tidak akan Aditya yang menyerah begitu saja meski para penjaga melarang dia untuk masuk ke dalam rumah Devan saat ini.


Dia malah terus berteriak memanggil Nayla dan juga memanggil Ara yang dia yakini saat ini mereka ada di dalam, dengan dia berteriak pasti akan didengar dan mereka akan segera keluar.


Namun sudah beberapa kali Aditya berteriak satu diantara mereka berdua tidak ada yang keluar, apakah memang benar mereka tidak ada di rumah itu atau hanya mereka yang tidak ingin datang menemuinya. Entahlah.


"Nayla! aku datang untuk menjemput mu!"


"Ara sayang, keluarlah ayah datang untuk mengajak kamu pulang!'


Aditya bener-bener seperti orang yang tidak memiliki rasa malu karena terus berteriak di depan rumah orang lain bahkan memanggil istri dan anak orang lain untuk datang kepadanya untuk diajak pulang.


"Dasar nggak waras!" satu penjaga sangat kesal karena mendengar teriakan Aditya yang begitu lantang dan begitu berisik.


Bukan hanya mereka saja yang mendengar teriakan itu jelas para orang-orang yang lewat dengan mobil dan motor mereka akan mendengar, bahkan ada salah satu dari mereka yang menyempatkan berhenti sekedar untuk melihat kejadian itu.


Di katain orang tidak waras tentu Aditya sangat kesal, matanya melotot terang karena marah.


"Apa kamu bilang!" matanya melotot dengan tangannya memegang pagar seolah ingin menghajar penjaga. Seandainya saja tak ada pagar pasti itu benar-benar di lakukan.


"Kenapa, bukankah benar seperti itu? Orang waras tidak akan membuat keonaran di rumah orang."


Tak ada rasa takut penjaga itu menghina Aditya yang bertingkah seperti itu, tapi kalau di pikir-pikir lagi memang benar ya.


Semakin kesal Aditya namun tetap tidak di hiraukan oleh penjaga dan malah di tinggal pergi oleh penjaga.


"Hey, hey!" teriak Aditya memanggil tapi sama sekali tidak di hiraukan. Meski tangannya terus menerus mengerjakan gerbang seolah ingin mendobrak tapi tetap saja mereka semua abaikan, nanti juga lelah sendiri.


"Hey! Awas ya kalian!" ancam Aditya yang tetap tak di gubris oleh semuanya.


Lelah karena tidak di hiraukan Aditya menoleh dan ternyata sudah banyak orang yang tengah mengamati dirinya yang seperti orang kesurupan.


"Apa lihat-lihat!" Aditya semakin tambah marah karena di tambah orang-orang yang melihat dirinya seperti ingin mengintimidasinya.


"Huu!" sorak semua orang yang ada di sana.


Seandainya saja mereka semua tau siapa laki-laki yang ada di hadapannya ini adalah seorang pemimpin perusahaan besar pasti mereka akan semakin sinis karena tak percaya. Bagaimana mungkin ada seorang pemimpin tapi tingkah lakunya seperti itu.


Setelah menyoraki Aditya semua pada pergi karena tak mau ikut campur dengan urusannya. Untung saja tidak ada orang yang mengambil video kalau ada pasti akan viral nantinya.


"Hem, ke tempat pak Abraham saja. Mungkin aku bisa mendapatkan sesuatu darinya,"


Aditya benar-benar pergi ke tempat pak Abraham siapa tau siapa bisa membuat mereka menjadi marah lagi dan Devan akan melepaskan Nayla. Pikirnya.


Dengan tekat dan niat yang sangat besar dan tentunya juga sangat buruk Aditya menjalankan mobilnya untuk mendatangi rumah pak Abraham yang sebenarnya tak terlalu jauh, hanya lima belas menit saja akan sampai.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Di kediaman Pak Abraham kali ini tengah sangat ramai dan penuh dengan tawa dari anak kecil, siapa lagi kalau Ara yang saat ini ada di sana.


Ara bukan seperti cucu sambung saja bagi mereka tapi sudah seperti cucu kandung yang di penuhi dengan kasih sayang yang sangat melimpah ruah.


"Hahaha, nenek jangan di gelitikin, Ara nanti ngompol," teriaknya karena apa yang di lakukan oleh bu Susan saat ini.


Belum juga selesai bermain bu Susan menggelitiki Ara karena tidak mau membuka mulut ketika ingin di suapin buah. Begitu sayangnya sampai-sampai Bu Susan sangat memperhatikan Ara.


"Hak dulu makanya sayang," kata Bu Susan.


"Akk," akhirnya Ara bersedia setelah sempat di gelitikin oleh bu Susan, dia tentu tidak mau kalau sampai bu Susan melakukan hal itu lagi padanya. Ara tidak akan berhenti tertawa.


Dengan terus bermain dengan semua mainannya Ara juga memakan buah dari tangan Bu Susan yang terus menyuapi, sementara suster Neni dia hanya menemani saja dan ikut bermain bersama Ara.


Bu Susan begitu senang akan kedatangan dari Ara ke rumahnya. Rumah itu terlihat begitu ramai akan tawa dan riang anak itu.


Biasanya hanya akan ada dia dan juga suami juga beberapa para pelayan yang membantu mengurus rumah. Bagaimana mungkin rumah akan terlihat berwarna seperti sekarang ini?


Kedatangan Ara sangat menjadi kesan indah untuk dirinya dan juga suaminya dan membuat mereka merasa sangat betah berada di rumah, meskipun saat-saat seperti ini tidak akan bertahan lama karena setelah Devan dan Nayla kembali ke rumah pasti Ara akan dijemput oleh mereka. Rumah akan kembali sepi lagi.


Pak Abraham yang juga sudah pensiun dari pekerjaannya hanya terus berada di rumah dan menikmati kebersamaan dengan cucu barunya tersebut. Bahkan saking senangnya setiap malam selama dua malam ini Ara tidur bersama mereka di tengah-tengah mereka berdua.


Ara juga sangat bahagia dengan kebaikan mereka karena Ara merasa mendapatkan kasih sayang yang sangat sempurna, bukan dari ayah dan bundanya saja tetapi juga dari kakek dan neneknya. Bagaimana mungkin Ara tidak akan betah di sana meski tanpa bundanya?


Pak Abraham yang sedang melihat pemandangan indah itu di kejutkan dengan kedatangan salah satu penjaga yang seketika masuk karena ingin mengatakan sesuatu.


Tau karena Ara masih di sana penjaga itu memanggil pak Abraham dengan lirih kemudian membisikkan sesuatu pada pak Abraham setelah pak Abraham menoleh ke arahnya.


"Lima menit lagi baru suruh dia masuk," jawab Pak Abraham, entah siapa yang di suruh masuk.


"Baik tuan," penjaga itu juga langsung pergi dari hadapan pak Abraham.


"Ma, mau ada tamu sebentar. Bisa mama ajak Ara masuk ke kamar saja?" tanya pak Abraham.


"Siapa, Pa?"


"Nanti papa ceritakan semuanya, sekarang ajak Ara ke kamar," pinta pak Abraham yang terlihat sangat mengharuskan untuk bu Susan melakukan apa yang dia minta.


"Sayang, kita ke kamar yuk. Ajak semua bonekanya istirahat," ajak bu Susan.


Mendengar kata itu Ara langsung mengangguk, memunguti satu persatu mainannya dan dia peluk sendiri. Itulah yang membuat mereka semua senang, Ara memiliki rasa tangung jawab yang besar meski masih di usia yang masih kecil.


"Iya, Nek," katanya bersedia.


"Biar Sus bantu?" suster Neni menawarkan diri.


"Boleh, sedikit aja ya, Sus," jawabnya dan hanya memberikan beberapa saja sementara Ara yang membawa lebih banyak.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung.....