Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kebahagiaan Ara



❃❃✧༺♥༻✧❃❃1


Setelah pernikahan telah ditetapkan oleh Pak Devan kini kedua orang tuanya Pak Abraham juga Ibu Susan kembali datang. Mereka terlihat sangat bahagia menjelang hari pernikahan yang hanya tinggal beberapa hari lagi, apalagi setelah mendengar bahwa mereka juga akan segera memiliki cucu kandung mereka berdua terlihat lebih bahagia.


Meskipun mereka sangat bahagia karena kehamilanku yang sudah mereka ketahui tetapi tidak membuat kedekatan dan kasih sayang mereka kepada Ara hilang begitu saja, mereka tetap terlihat begitu sayang kepada Ara.


Aku bener bahagia bisa melihat Ara bahagia di tengah-tengah keluarga yang sangat baik seperti keluarga Pak Devan yang sebentar lagi akan resmi menjadi keluarga kami.


Pak Abraham juga Ibu Susan juga tidak lupa membawakan oleh-oleh untuk Ara yang berupa mainan, tentu dengan hal itu Ara terlihat sangat bahagia bahkan terus nempel kepada mereka berdua.


Sementara aku yang duduk di samping Pak Devan hanya bisa tersenyum sesekali melihat kedekatan mereka bertiga.


"Nek, nenek beneran akan menjadi nenek Ara kan?" tanya Ara yang berada di pangkuan Ibu Susan.


Sementara Pak Abraham juga terlihat sangat senang yang duduk di samping Ibu Susan dan dihadapan Ara dengan memegang mainan yang tadi dia beli dan sudah dibuka dari bungkusnya.


"Tentu, mulai sekarang nenek akan selalu menjadi nenek Ara." Semakin berbinar wajah dari bocah kecil tersebut setelah mendengar jawaban dari Ibu Susan yang menyatakan dia bersedia menjadi neneknya mulai sekarang.


Aku tersenyum melihat wajah Ara yang terlihat begitu ceria dengan tangan yang terus memegang boneka Barbie_nya yang baru.


"Atau mungkin Ara tinggal dengan nenek dan kakek bagaimana?" kali ini Pak Abraham yang berbicara menawarkan untuk Ara tinggal bersama mereka. Mungkin karena di rumah mereka tidak ada anak kecil dan mungkin mereka terasa sangat kesepian.


"Boleh, kalau ayah dan ibu boleh Ara mau kok tinggal sama nenek dan kakek asal sesekali ayah dan bunda menginap di rumah nenek."


Kali ini semua yang tidak pernah didapat oleh Ara sebelumnya sekarang telah terpenuhi oleh keluarga Pak Devan. Dia mendapatkan sosok ayah yang begitu baik dari Pak Devan dan juga mendapatkan sosok nenek dan kakek yang sangat perhatian seperti Pak Abraham dan Bu Susan, bagaimana mungkin Ara tidak merasa bahagia.


"Hahaha," mereka berdua malah tertawa mendengar jawaban Ara yang begitu polos dan mau begitu saja tanpa protes atau mengajukan syarat yang berat kepada mereka.


Tertawa mereka membuat Ara terlihat bingung dan melihat ke arah wajah mereka berdua dengan bergantian.


"Ara salah ya?" tanyanya begitu polos.


"Tidak, bagaimana mungkin cucu nenek ini salah." Ara hanya diam saja ketika Bu Susan mencubit pipinya dengan begitu gemes.


"Devan, apa semuanya benar-benar sudah disiapkan? Bagaimana dengan undangan dan yang lainnya apakah benar sudah?"


Pak Abraham beralih menoleh ke arah pak Devan yang dari tadi diam dan melihat mereka bertiga yang terus bersenda gurau.


"Papa tidak usah khawatir semuanya sudah dipersiapkan dan tidak akan ada yang terlewatkan sama sekali."


Entah apa saja yang sudah Pak Devan siapkan untuk acara pernikahan kami karena dia juga sama sekali tidak mengatakan kepadaku bagaimana semua dipersiapkan dan seperti apa yang dia perlihatkan hanya pakaian saja karena membutuhkan untuk diukur ulang.


Pastilah acara pernikahan nanti akan menjadi kejutan dari Pak Devan untukku dan juga semua keluarga memang tidak mengetahui seperti apa dan mau dilakukan di mana.


"Kamu yakin tidak butuh bantuan papa?" Pak Abraham terlihat tidak mempercayai jika semua sudah disiapkan oleh Pak Devan karena biasanya apapun itu selalu saja meminta bantuan kepada Pak Abraham, hanya kali ini saja Pak depan benar-benar tidak meminta sarannya.


"Benar, Pa. Papa tidak usah khawatir seperti itu. Semuanya sudah Devan persiapkan bahkan sudah selesai hanya tinggal terlaksananya saja dua hari lagi," jawab Pak Devan.


Bu Susan berusaha memberikan pengertian kepada Pak Abraham yang masih sangat ragu dengan kemampuan anaknya tersebut, bagaimana kalau akhirnya tidak sesuai dengan yang diinginkan?


"Hem, baiklah," akhirnya Abraham pasrah dan mempercayakan semuanya kepada Pak Devan yang terlihat memang sudah sangat yakin dengan apa dia lakukan untuk acara pernikahan besok.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


POV AUTHOR.....


Menjelang hari pernikahan Devan sama sekali tidak pergi ke perusahaannya dia terus berada di rumah dan mengerjakannya di rumah saja namun jika ada berkas penting yang harus ditandatangani pastilah ada seseorang dari kantor yang akan datang.


Meski begitu sibuk dan begitu banyak pekerjaan tetapi depan sama sekali tidak pernah memperlihatkan kepada Nayla dia tidak ingin Nayla tahu bagaimana kesibukannya. Jelas Devan juga tidak mau kalau sampai Nayla merasa bersalah saat melihat Devan yang kelelahan.


Tetapi rasa lelah itu sekejap mata hilang ketika melihat Nayla yang tertidur lelap di ranjangnya. Meski mereka belum resmi menikah tetapi Nayla tetap saja tidur di satu kamar dengannya bahkan sesekali meski hanya sebentar mereka akan tidur di atas satu ranjang yang sama.


"Akhirnya," Devan merasa sangat lega ketika sudah menyelesaikan semua pekerjaan di ruang kerjanya. Biasanya dia akan membawa pekerjaannya ke kamar sekaligus untuk menjaga Nayla tetapi tidak untuk sekarang karena pekerjaannya yang banyak membuat Devan tidak mau sampai Nayla merasa terganggu dan tidak bisa beristirahat dengan baik.


Nafasnya berhembus panjang dengan punggung langsung bersandar di kursi yang terus bergerak dan tangan juga tidak lupa menutup laptop.


Wajahnya memandang langit-langit dengan kedua tangan yang kini sudah berpindah menyilang di depan dada.


"Ku tidak mengerti apakah ini benar cinta atau bukan tetapi yang jelas aku sangat bahagia ketika bersamanya dan juga sangat sakit ketika dia menangis. Hem... apakah benar ini cinta?"


Ternyata Devan masih belum menyadari kalau dirinya memang benar-benar mencintai Nayla dia belum bisa membedakan mana itu cinta dan hanya sebatas tanggung jawab yang harus dilakukan kepada Nayla karena telah membuatnya hamil.


"Lucu sekali, aku yang sama sekali tidak tertarik kepada wanita cantik yang masih single sekaligus tetapi sekarang aku tertarik kepada wanita yang sudah berstatus orang janda bahkan memiliki anak. Hem, takdir ini begitu membingungkan."


Devan hanya bisa bergumam sendiri dengan semua yang telah hadir di dalam kehidupannya yang sekarang yang sama sekali tidak bisa dia mengerti.


Semua terasa cepat.


Dia kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun di negeri orang tentu di sana begitu banyak wanita yang tergoda kepadanya bahkan juga sempat menggodanya karena ingin mendapatkan cintanya, tetapi itu tidak berhasil sama sekali.


Tetapi sekarang? Baru beberapa hari saja dia kembali ke kota kelahiran tapi sudah langsung mendapatkan seorang wanita.


Sungguh tidak terbayangkan oleh Devan sebelumnya kalau dia juga akan menikah dan memiliki anak secepat ini meskipun usianya memang sudah sangat pantas untuk dia bisa memiliki keturunan.


Dulu dia begitu tidak suka ketika ada seorang wanita yang mendekat atau mencari perhatian kepadanya, tetapi sekarang? Bahkan dia sendiri yang terus mendekati Nayla dan selalu merindukannya ketika jauh bahkan dia sendiri yang mencari perhatian. Dunia di Devan benar-benar sudah terbalik.


Jangankan dia pergi keluar untuk ke kantor di rumah saja kalau dia tidak melihat Nayla rasanya sangat merindukannya. Itulah cinta. Cinta yang belum disadari keberadaannya oleh Devan sendiri.


Kapan Devan akan menyadari kalau itu adalah cinta?


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....