
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Dari awal naik sampai akan turun aku terus diam tak pernah menanggapi semua perkataan dari Pak Devan, sementara Pak Devan dia terus saja bicara bertanya ini itu tetapi satupun tidak ada yang aku jawab. Aku melihat dia terlihat kesal dan berkali-kali menghembuskan nafas panjang karena berusaha untuk sabar tapi tetap saja aku tidak peduli.
"Astaga, aku benar-benar seperti orang gila yang terus berbicara sendiri. Seolah aku hanya bicara dengan patung hidup. Sungguh menyebalkan sekali kamu ini Nay."
Tetap saja aku tak peduli meski dia akan mengumpat atau marah-marah padaku terserah dia. Aku sangat malas menanggapi dia yang selalu saja sok ingin tahu semua tentangku dan seluruh perjalanan hidupku, apalagi tentang Ara dia sangat penasaran tapi masa bodoh.
Meski terus mengatakan ungkapan kekesalan tapi nyatanya Pak Devan mengantarkanku sampai rumah. Aku dia akan menurunkan Aku di jalan karena dia sempat mengancam ku jika aku tidak bicara tapi ternyata dia tidak setega itu.
"Aku tidak disuruh masuk, Nay?" Ucap Pak Devan yang berharap aku akan mengajaknya mampir ke rumah.
"Maaf, Pak. Ini sudah malam lebih baik Bapak pulang karena saya tidak mau sampai ada orang yang berpikiran negatif tentang saya. Apalagi jam-jam segini sudah tidak pantas pertama kan?" kataku.
Aku tampilkan senyum namun terpaksa dan itu pun cuma sebentar dan itu jelas membuat Pak Devan semakin kesal. Wajahnya begitu lucu tetapi tetap saja tidak aku merasa iba dan mengubah keputusanku.
"Kamu mengusir ku, Nay?" Mungkin pak Devan tak habis pikir dengan apa yang aku lakukan tetapi inilah yang terbaik. Aku harus menjaga baik sendiri karena tidak tahu seperti apa orang-orang yang ada di sekitarku. Hati-hati saja kadang masih diragukan apalagi tidak?
"Saya tidak berniat untuk mengusir bapak tapi saya hanya mengingatkan." Aku kembali meringis sekilas dan bergegas keluar dari mobil.
"Hem, Baru kali ini ada wanita yang tidak tertarik padaku bahkan dia mengusirku."
"Nay, ini beneran aku tidak boleh masuk?" Pak Devan masih memohon.
Lagian untuk apa juga dia ingin masuk. Hari sudah sangat malam bahkan semua sudah sepi. Kalau pak Devan masuk bisa-bisa di grebek satu kampung aku.
"Setidaknya kasih minum dulu lah, Nay?" wajahnya begitu memelas.
"Terima kasih Pak Devan sudah ngajak kami bersenang-senang hari ini. Terima kasih untuk kebahagiaan Ara hari ini. Dan terima kasih mengantarkan kami pulang dengan selamat."
"Selamat malam Pak Devan. Semoga malam bapak indah," kataku.
"Ish, kau ini. Iya iya, aku pulang. Ingat ya, besok harus berangkat pagi-pagi sampai telat lagi hukumannya akan lebih parah," ancam nya.
"Semoga, Pak. Sekali lagi selamat malam. Semoga hari bapak menyenangkan," kataku.
Padahal semua kata-kata yang aku ucapkan semata-mata untuk mempercepat Pak Devan pergi dari sini. Aku semakin sesuatu takut saja akan kata orang yang akan berpikiran negatif tentangku.
Aku tidak mau ada orang yang mengatakan kalau aku selalu membawa laki-laki pulang ke rumah Bukankah itu akan sangat berbahaya kan?
Aku masuk dengan menggendong Ara tak lagi lihat mobil Pak Devan yang masih ada di sana. Entah apa yang dia pikirkan tentangku aku yakin pikiran-pikiran negatif pasti tengah melayang-layang di kepalanya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Rasa syukur begitu besar dalam hatiku karena Mas Aditya tidak melihat Ara begitu sebaliknya Ara tidak melihat masa Aditya jika salah satunya melihat pasti mereka akan saling mengenali.
Aku bisa menyembunyikan Ara dari Mas Aditya saat ini tapi bagaimana besok, lusa atau kapanpun. Aku tidak akan pernah bisa menyembunyikan Ara dari Mas Aditya tapi aku berharap setelah mas Aditya tahu dia tetap akan berperilaku sama seperti sekarang ini dan membiarkan aku tetap bersama Ara dan bahagia.
Malam semakin larut tetapi aku sama sekali tak bisa tidur membayangkan hari-hari setelah ini. Menghadapi Mas Aditya yang sewaktu-waktu bisa saja bertemu juga menghadapi Pak Devan yang selalu saja mencari perhatian.
Bukan mas Aditya, bukan Pak Devan juga bukan laki-laki manapun. Untuk sekarang aku tidak ingin dekat pada laki-laki, apalagi memiliki hubungan yang khusus aku tidak berpikir sampai sejauh itu untuk sekarang.
Ku usap usap kening Ara dengan begitu lembut aku putuskan untuk malam ini tidur bersamanya rasanya aku begitu merindukan kehangatan di saat memeluk Ara.
"Ayah om, Ara sayang sama ayah om. Ayah om tidak akan meninggalkan Ara dan Bunda kan?"
Aku beranjak duduk menghentikan tangan di atas kening Ara dan melihatnya. Kenapa Ara sampai segitunya kepada Pak Devan hingga dia begitu takut kalau Pak Devan akan meninggalkannya.
Ternyata Ara hanya mengigau saja dia masih tidur karena matanya masih tertutup.
Sedih rasanya melihat Ara seperti ini. Dia begitu dekat dengan pak Devan meski hanya di waktu yang sangat singkat saja.
"Maafkan Bunda ya, Nak. Bunda tidak bisa membuat ayah kembali kepada kita. Tapi bunda juga tidak akan pernah berusaha untuk itu. Akan lebih baik kalau kita hidup tanpa ayah."
Ku kecup keningnya dan kembali merebahkan tubuhku dan juga kembali memeluknya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
POV Author...
Begitu kesal Devan setelah sampai di rumah. Dia benar-benar tak percaya kalau ada wanita yang berani mengusirnya.
Terganggu? Ya! Devan sangat terganggu dengan perbuatan Nayla yang berperilaku dingin bin acuh padanya.
Dia hanya bawahannya, berani sekali dia berperilaku seperti itu kepada bos nya. Dia menolaknya dan mengusirnya.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Nay," ucapnya. Kakinya terus melangkah menaiki anak tangga di rumah mewahnya yang berwarna putih itu.
Rumah yang begitu mewah dan sangat besar. Rumah yang seperti istana yang begitu megah.
Tak ada keluarga yang tinggal di sana karena itu bukanlah rumah utama, itu hanya rumah Devan saja.
Hanya dengan beberapa penjaga dan juga beberapa asisten rumah tangga saja yang tinggal di rumah itu. Tak ada nyonya rumah karena Devan memang belum bisa membawa dan menjadikan salah satu wanita di dunia ini untuk menjadi nyonya.
Entah karena doa-doa yang makbul dari para teman-temannya yang membuat Devan masih terus menjomblo seperti ini atau mungkin karena memang takdir nya saja yang tak seindah wajahnya yang begitu menawan.
"Tuan, apakah Tuan membutuhkan sesuatu?" Salah satu asisten rumah menyapa ketika berpapasan dengannya.
"Tidak, saya tidak butuh apapun. Kalian para perempuan sama saja. Sok manis karena ada maunya."
Asisten rumah itu melongo, para perempuan? Ada apa ini kenapa asisten rumah yang tak tau apa-apa jadi ikut kena amarahnya juga?
'Pak Devan kenapa, apakah dia baik-baik saja?' batinnya.
"Menjauh_lah, dan jangan mendekatiku lagi. Muak aku melihat kalian kalian!" umpatnya lagi.
Semakin tak habis pikir asisten rumah tangga itu, perkataan bosnya semakin tidak masuk akal semuanya kena marah pada mereka tidak tahu apapun.
Brakk...
Begitu kuat Devan menutup pintu kamarnya dan hal itu tentu membuat para asisten rumah tangga terperanjat kaget.
Devan benar-benar uring-uringan sendiri gara-gara Nayla yang telah berperilaku tidak sesuai apa yang dia inginkan.
"Tunggu saja ya Nay, aku akan buat perhitungan padamu besok. Enak saja kamu main-main usir begitu saja. Kau kira aku ini apa? Sopir?!"
Devan terus mondar-mandir di kamarnya, dia sungguh terbawa amarah. Dia tak rela.
Brukk...
Devan menjatuhkan tubuhnya sendiri di atas kasur yang super besar itu. Kedua tangannya terlentang dengan mata yang memandangi langit-langit.
"Sok banget dia jadi perempuan. Cantik tidak, menarik tidak, angkuh iya. Sombong iya. Benar-benar tak ada yang baik darinya."
Terus saja Devan mengeluarkan semua kritikan yang ada di hatinya untuk Nayla, dia benar-benar sangat kesal sekarang.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung......