Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Devan Mahendra



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


POV AUTHOR....


Di rumah Ara terlihat kebingungan, dia masuk ke kamar sang bunda untuk mencari sesuatu. Entah apa yang di cari oleh gadis berusia lima tahun itu.


Matanya terus celingukan dengan kaki yang terus berjalan ke sana-sini dan membuat mbok Darmi merasa sangat bingung.


"Neng, neng mencari apa?" Mbok Darmi akhirnya ikut berjalan di belakang Ara matanya ikut mengawasi beberapa tempat meski dia tunggu tau apa tidak di cari.


Mungkin ada salah satu mainan yang tertinggal di kamar bundanya maka dari itu Ara terus mencari dengan kebingungan.


Ara terus ke sana-sini mencari apa yang ada di dalam pikirannya tanpa mengatakan pada mbok Darmi yang jelas sangat kebingungan.


"Neng, neng mencari apa sih?" Mbok Darmi berdiri di belakangnya dan bocah itu terus saja mencari sesuatu bahkan dia juga membuka laci milik bundanya.


"Mbok, foto ayah dimana sih? Ara pengen memperlihatkan sama temen-temen kalau Ara itu punya ayah. Mereka selalu saja mengatakan kalau Ara tidak punya Ayah. Ara pengen buktikan ke mereka, Mbok."


Terkejut mendengar penjelasan Ara, dan ternyata foto ayahnya yang dia cari sedari tadi. Dia terus mencari-cari sementara mbok Darmi masih tercengang.


"Mbok, bantuin Ara. Ara harus menemukan foto ayah. Ara nggak mau di kata-katain kalau Ara nggak punya ayah. Ara punya ayah kan, mbok?"


Gadis itu menoleh ke arah mbok Darmi sementara yang dia ajak bicara masih terus terdiam.


"Mbok, kenapa mbok malah melamun. Bantuin Ara!" Matanya sudah gelisah, sudah berkaca-kaca ingin sekali air mata itu lepas dari matanya.


"I_iya, Neng," Terpaksa mbok Darmi mencari meski dia sendiri tidak yakin kalau dia akan menemukan foto ayahnya Ara yang sekarang pun entah di mana.


Mbok Darmi jelas tau apa yang menjadi penyebab bundanya menyembunyikan semuanya, atau malah mungkin membuang dan memusnahkannya, itu semua karena sudah gak ada lagi harapan untuk kedepannya. Tetapi, melihat Ara yang seperti ini membuat hati mbok Darmi juga terasa sangat sakit. Kasihan.


"Di mana sih foto ayah, kemarin kan ada di sini? Mbok sudah menemukan foto ayah belum?"


Ara menoleh, dia sangat berharap akan menemukan foto ayahnya yang ingin dia tunjukkan pada teman-temannya.


Setiap hari Ara hanya mendapat hinaan dari semuanya, ada yang mengatakan nggak punya ayah, ada yang mengatakan anak yang di buang bahkan ada yang mengatakan Ara adalah anak haram.


Meski belum tau semua itu tapi Ara tetap merasa sedih, dia tau kalau dia punya ayah dan kelak ayahnya akan kembali.


Hiks hiks hiks....


"Mbok, fotonya nggak ada. Ara nggak bisa buktikan pada mereka kalau Ara punya ayah. Apa yang mereka katakan salah kan, mbok? Ara punya ayah kan?"


Air matanya lolos begitu saja. Dia menangis karena tak bisa menemukan foto ayahnya yang selama ini selalu dia lihat ada di meja rias dan ada di nakas bundanya.


"Bunda taruh mana sih, mbok?" Tangisnya semakin pecah tangannya terangkat dan berusaha menahan air mata yang terus saja ingin keluar.


"Sttss..., neng punya ayah kok. Kata bunda kan ayah neng lagi kerja jadi tunggu saja ayah pulang. Dan setelah ayah pulang neng bisa tunjukkan pada teman-teman kalau apa yang mereka katakan itu tidaklah benar." Mbok Darmi berusaha menenangkan hati Ara.


"Tapi mbok, kapan ayah akan pulang," Hidung, kedua pipi, mata juga bibir Ara terlihat begitu merah karena tangisnya yang tak kunjung berhenti.


Sekecil apapun usia Ara dia adalah anak yang cerdas dia akan tau dan akan sakit hati ketika di kata-katain oleh teman-teman bermainnya.


Bukan itu saja, tapi karena Ara yang tidak ada ayah sendiri dia sering di bully dan di kucilkan. Ara selalu di ejek hingga dia menangis.


Tapi apa yang di alami Ara selalu saja dia tahan dan tidak dia ceritakan pada bundanya, dia tidak mau bundanya sedih dan marah-marah pada temannya.


"Mbok, kapan ayah akan pulang," Katanya lagi.


Tubuhnya seakan lemas karena rasa putus asa.


Harapan kecil tapi tak mudah di wujudkan bagi Ara.


"Sabar ya, Neng. Neng berdoa ya, semoga bunda secepatnya menemukan ayah dan ayah bisa segera pulang."


Mbok Darmi memeluk Ara dengan erat, meski hanya anak dari majikannya tapi mbok Darmi begitu sayang pada Ara. Sudah sejak bayi mbok Darmi membantu mengurus Ara jadi kedekatan mereka kadang sudah seperti ibu dan anak.


"Sekarang neng bobok saja ya, biar mbok temenin?" Tawar mbok Darmi.


Seketika Ara mengangguk dan setelah itu mbok Darmi mengangkat tubuh kecil yang lemas itu. Ara masih saja tersedu-sedu hingga ke kamarnya sendiri.


"Mbok, jangan tinggalkan Ara sendiri ya. Ara hanya punya bunda, mbok, sama tante Mika."


"Iya, mbok tidak akan meninggalkan neng. Sekarang neng bobok ya," Di turunkan tubuh Ara dengan sangat pelan dan mbok Darmi mulai menidurkan nya, mengelus kening Ara hingga perlahan mata itu terpejam dengan cepat, mungkin karena lelah menangis.


Normal......


◌◌✧༺♥༻✧◌◌


Aku pikir acara meeting saat ini hanya benar-benar dari pemegang saham saja tapi ternyata, ada orang baru yang datang.


Aku sangat tidak mengenali orang itu tapi setelah di ingat-ingat ternyata dia adalah orang yang menyelamatkan Ara kemarin.


Dengan balutan jas nya yang hitam dia terlihat semakin berkharisma dia sangat tampan. Aku tidak bohong, dia memang sangat tampan bahkan lebih daripada mas Aditya mantan suamiku.


Senyumnya juga sangat manis meski melekat sifat dingin di dalamnya juga ada sedikit keangkuhan yang terlihat sangat jelas. Tapi, kelebihan yang di miliki olehnya sama sekali tidak membuat aku tertarik padanya. Jelas, aku masih punya trauma akan masalah percintaan.


Tak terbesit rasa tertarik pada lawan jenis sekarang aku masih trauma dan tak akan mudah untuk bisa membina cinta baru lagi meski di menjanjikan kesetiaan dan juga tanggung jawab.


Matanya terlihat memicing ke arah ku, aku yakin dia sangat mengenal dan juga sangat ingat, tidak mungkin dia akan melupakan kejadian yang baru kemarin itu.


Terlihat matanya semakin menyipit benarkah dia lupa? Tapi itu tidak mungkin kan.


"Nay, dia adalah anak yang aku katakan tadi, Devan Mahendra. Bagaimana, sama kan sepertiku?" Bisik pak Abra.


"Hem," Aku hanya mengangguk tak berani mengatakan apapun lagi lagian aku juga masih sangat malas untuk banyak bicara.


"Bagaimana, apakah kamu tidak tertarik padanya?" Imbuhnya lagi.


Aku terkesiap, tertarik?


Ada hal yang aku lupakan, ketika aku masuk ke perusahaan ini, aku memakai identitas palsu. Dalam identitas aku masih belum menikah apakah karena identitas palsu ku itu yang membuat pak Abra mengatakan itu?


"Maaf, Pak. Lebih baik acara segera di mulai," Kataku mengalihkan pembicaraan.


Aku harus menjitak Mika nanti setelah istirahat dia yang telah menyarankan aku untuk membuat identitas palsu karena saat itu perusahaan ini tidak menerima pekerja yang sudah menikah di posisiku saat ini.


Bagaimana kalau pak Abra tau, apakah dia akan memecat ku? Semoga saja tidak.


"Hem, kamu benar," Jawab pak Abra.


"Terima kasih untuk kedatangan kalian semua. Perkenalkan ini adalah anak saya, Devan Mahendra. Dia yang akan menggantikan saya setelah ini."


Aku terus diam dalam pikiran yang terus berkelana ke tempat lain. Aku sangat yakin setelah ini masalah masalah pasti akan aku dapat. Tapi semoga saja tidak akan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...