
❃❃✧༺♥༻✧❃❃2
Jelas Ara akan begitu bahagia di acara ini. Aku pikir dia akan bosan tapi ternyata tidak.
Semua makanan dia lihat dengan penasaran dia begitu antusias untuk menikmati satu persatu dan sayangnya pak Devan memberikan semua yang dia minta.
Entah kue, buah, minuman juga makanan berat semua di berikan saat Ara memintanya aku sudah terus mencegah Pak Devan untuk tidak menuruti semuanya tapi dia selalu saja tak mau mendengarkan ku.
Bukannya aku tidak mau Ara mencicipi semua itu tapi aku tidak mau sampai Ara kembali sakit gigi atau sakit perut lagi. Hari-hari ini Ara selalu memiliki masalah pada giginya aku tidak mau kami begadang lagi.
"Sudah lah, Nay. Biarkan saja Ara memakan semua yang dia mau. Kamu juga boleh makan semuanya. Gratis tis tis.." katanya.
Seolah merendahkan sekali Pak Devan, aku juga belum pernah makan-makanan yang di sajikan sekarang ini tapi bukan berarti aku akan memakannya semua meski gratis.
Kata ibu asuhku dulu, jaga makan saat di rumah orang lain. Makan sewajarnya saja sebagai sebuah tindak-tanduk yang baik. Sementara kalau di rumah, tak masalah mau makan makanan sebakul sekalian karena tak ada yang tau kalau di rumah sendiri.
Aku selalu ingat kata-kata itu. Jadi seperti apapun aku menginginkan dan seenak apapun makanan itu tetap akan makan hanya sekedarnya.
Tidak boleh berlebihan karena kita tidak pernah tau isi hati orang lain. Bisa jadi mereka akan membenci dan akan membuat yang kita lakukan itu sebagai aib yang bebas mereka umbar.
"Bunda, sini Ara suapin," Ara mendekat menyuapi ku kue yang ada di tangannya.
"Enak kan, Bunda." Imbuhnya setelah aku menerima suapannya.
Kami duduk di lingkar meja yang memang di siapkan untuk satu keluarga saja. Hanya ada tiga kursi dan empat kursi di setiap lingkar meja.
Menikmati makanan dan minuman juga menikmati semua acara yang sudah di siapkan. Acara ini benar-benar luar biasa aku yakin semua teman-teman Pak Devan ini adalah orang yang kaya, kalau tidak tak akan mungkin bisa bikin acara semewah ini.
Aku melihat ada gelagat aneh pada Pak Devan. Dia terus menoleh-noleh entah dia sedang mencari apa atau siapa.
"Mau dansa denganku?" Tiba-tiba saja Pak Devan mengulurkan tangan mengajakku untuk berdansa seperti yang lain.
"Tidak, saya tidak bisa berdansa," Aku memang tak bisa berdansa juga aku tidak mau pak Devan kembali menyentuh ku.
"Aku bisa mengajarkanmu, ayo," Kembali pak Devan mengajak.
"Maaf, saya tidak bisa," Tolak ku lagi.
"Baiklah, kalau gitu bagaimana kalau Ara saja yang dansa dengan Ayah om?" Kini malah beralih mengajak Ara.
"Ara nggak bisa, Ayah om."
"Mudah kok, gini kalau dansa sama Ara," Pak Devan kembali mengangkat tubuh kecil Ara dan berlari ke tengah-tengah pasangan-pasangan yang begitu banyak yang tengah berdansa.
"Hahaha, Bunda!" Teriak Ara, tangannya melambai-lambai memanggilku untuk datang tapi tidak. Aku tidak mau datang.
Begitu senang Ara dia di gendong pak Devan satu tangan berada di atas bahu sementara yang satunya bergandengan dengan tangan pak Devan dan bergerak persis pasangan yang berdansa.
Cepat sekali Ara dekat dan nyaman dengan pak Devan. Pak Devan juga sangat pintar membuat Ara bahagia mungkin itulah yang membuat Ara semakin cepat akrab.
Keduanya terus menari, lebih tepatnya pak Devan yang menari-nari.
Pak Devan malah terlihat seperti seorang ayah yang ingin menidurkan anaknya nyatanya mata Ara sudah langsung terlihat sayu-sayu.
Tak lama Ara tertidur dengan di gendong pak Devan dan kepalanya bersandar di bahu pak Devan. Terlihat begitu nyaman sekali.
Sebenarnya apa yang di cari pak Devan, dia terlihat gelisah dari tadi. Dia juga terus menoleh-noleh ke segala penjuru.
"Aku melihat pak Devan melangkah semakin dekat dengan menggendong Ara yang tertidur.
"Pak, lebih baik kita pulang saja. Kasihan Ara," Kataku. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengajak pulang secepatnya. Aku semakin tak nyaman berasa di tempat seperti ini, apalagi melihat mata-mata yang terus memandangi ku dari tadi.
"Tapi ini belum selesai acaranya, Nay. Sebentar lagi lah," Pak Devan masih enggan.
"Ya sudah, pak Devan di sini sampai selesai biar saya dan Ara pulang. Saya bisa kok pulang sendiri," Kataku begitu lembut.
"Tidak usah, oke kita pulang sekarang," Aku merasa sangat lega akhirnya pak Devan setuju untuk pulang.
"Sini," kembali pak Devan menggandeng ku saat ingin keluar.
Aku menoleh wajahnya terlihat sangat kecewa apakah dia sedih karena harus pulang di saat acara yang belum selesai?
"Pak maaf, kita harus pulang sebelum acara ini selesai. Apakah bapak menyesal?" Tanyaku.
"Tidak, buat apa menyesal. Kamu benar, Ara pasti sangat capek. Iya kan?" Begitu manis dia tersenyum.
"Halo pak Aditya!" Suara pak Devan seketika membuat aku menoleh dan berhasil melihat orang yang di sapa oleh pak Devan.
Tangan ku yang awalnya hanya sebatas di gandeng saja oleh pak Devan kini beralih aku yang berpegang pada lengannya.
Begitu kuat hingga pak Devan meringis karena tangan ku mencengkeram kuat lengannya dengan mata penuh amarah melihat mas Aditya datang bersama seorang perempuan yang tengah hamil besar. Ternyata yang di lihat Ara kemarin adalah benar.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....