Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Astaghfirullah, Pak Devan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Ingin sekali langsung di muntah_kan ketika mencicipi hasil mahakarya dari pak Devan. Dilihat-lihat dari penyajiannya sih oke banget karena di hias dengan berbagai tambahan yang di jadikan hiasan. Tapi nyatanya, hiasan itu tidak akan berpengaruh apapun pada cita rasanya.


Rasanya benar-benar luar binasa, bahkan Ara saja yang baru mencicipi kuah matanya langsung terbelalak begitu saja.


Lidahnya menjulur keluar dan tentu kuah itu kembali lagi masuk ke dalam piringnya.


"Kenapa sayang, masih panas ya? Kan ayah sudah bilang tunggu dingin dulu," katanya yang mengira kalau Ara kepanasan bukan karena rasanya yang beneran tidak enak.


Mungkin karena garam adalah bumbu yang paling murah jadi pak Devan menaruhnya lebih banyak.


Padahal semua bumbu juga di habiskan oleh pak Devan tapi nyatanya rasanya sangat luar biasa. Asinnya..


"Ayah, masakan ayah benar-benar luar biasa. Garamnya kurang banyak, Yah." celoteh Ara.


Ya Allah, siapa yang mengajari Ara seperti ini. Ini mengejek atau terlalu memuji?


"Benarkah! Coba ayah cicipi," begitu semangat pak Devan mengambil masakannya sendiri dengan sendok sayur dan dia tuang di dalam piringnya. Bergegas dia merasakan.


Seketika matanya terbelalak dengan lidah yang sama seperti Ara, menjulur keluar dengan begitu panjang. Seperti lidah ular yang sedang mengincar mangsa.


"Hahaha! Enak kan, Yah!"


Ara malah tertawa terpingkal karena berhasil membuat pak Devan ikut merasakan masakannya sendiri. Padahal tadi dia bilang tidak akan makan sebelum aku dan Ara kenyang, tapi sekarang? Apakah benar akan membiarkan aku dan Ara memakannya.


"Kenapa bisa jadi seperti ini?" pak Devan malah terlihat bingung. Dia sendiri yang masak dia sendiri yang menambahkan garam terus menerus dan sekarang dia bingung sendiri.


"Bagaimana, Yah. Enak kan?" kembali Ara tertawa.


Melihat Ara yang terus tertawa dan juga melihat wajah pak Devan yang begitu aneh membuat ku tak mampu untuk menahannya, aku ikut tersenyum bahkan suaranya pasti di dengar oleh pak Devan.


Pak Devan menoleh ke arah ku, antara terkejut tapi juga terlihat senang bisa melihat ku yang tersenyum.


Karena tak mau membuat pak Devan besar kepala senyum kembali aku tarik dan bibirku kembali seperti sebelumnya.


Matanya terlihat terpana melihat ku, juga bibirnya yang tersenyum simpul begitu manis membuat ku menjadi salah tingkah namun jelas dengan pipi yang juga memerah.


"Teruslah tersenyum seperti ini, Nay. Dan apapun akan aku lakukan untuk bisa membuat kamu terus tersenyum," katanya.


"Kamu cantik," ucapan begitu tulus, benar-benar dari dalam hatinya yang terdalam.


"Apa sih," wajah aku palingkan dengan cepat, tentu tak mau sampai wajah yang merona ini terlihat oleh dirinya.


Karena tatapan matanya yang terus mengarah padaku dan juga tidak berkedip membuat ku langsung beranjak. Rasanya sungguh bagaimana gitu ketika di tatap sedemikian rupa olehnya.


"Mau kemana, Nay?" tanyanya dengan tangan yang menarik cepat tangan sebelum benar-benar pergi dari hadapannya.


"Mau masak, kalau tidak bisa mati kelaparan aku dan Ara," kataku.


Memang benar kepergian ku dari hadapannya untuk masak tapi yang paling utama adalah untuk menghindar dari pak Devan. Malu rasanya telah kepergok.


"Biar aku bantu," pak Devan ikut beranjak.


"Mau bantu atau mau mengacaukan semuanya?" langkah terhenti dengan tubuh yang setengah membalik dan melihat ke Ara pak Devan.


"Hehehe, mau bantu. Sekalian mau belajar," Sok manis dia meringis tapi membuat ku menggeleng geli rasanya.


"Ya Tuhan, aku benar-benar di buat gila olehnya," gumamnya yang samar-samar aku dengar tapi tetap aku abaikan.


Pak Devan benar-benar mengikuti ku masuk ke dapur, semoga saja dia tidak mengacaukan segalanya lagi.


"Apa yang harus aku bantu?" tanyanya begitu antusias.


"Duduk di situ dengan tenang dan itu sudah sangat membantuku." kataku dengan tangan menunjuk ke arah kursi yang tadi aku duduki.


"Hah! Kok duduk sih, nggak bisa gitu dong!"


"Sudah ya, Pak. Saya lapar, dan saya sudah tidak tahan lagi. Apa bapak mau saya kelaparan di sini?"


"Tidak dong. Hem... Bagaimana kalau aku pesan saja makanan dari luar. Kamu mau apa?" tangannya sudah siap dengan ponsel dan siap memesan apa saja yang mungkin aku inginkan.


"Saya hanya mau masak sen_di_ri," begitu menegaskan di akhir kalimat dan kini pak Devan terlihat pasrah.


"Baik deh, asal kamu bahagia kenapa tidak," pak Devan duduk dengan tenang di tempat yang tadi dan terus mengamati ku yang kini mulai bekerja.


Mengambil dan mulai memasak sisa-sisa bahan yang ada. Semoga saja cukup untuk kami makan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


"Mbak, mbak beneran mau pergi ya. Padahal baru saja kenal dan anak saya juga baru saja senang karena dapat teman baru eh udah mau pergi lagi."


Seketika mataku melotot ke arah pak Devan, aku yakin dia akan melakukan ini dan selalu saja semaunya sendiri. Selalu memaksakan kehendak tanpa bertanya dan meminta pendapat dulu pada orang yang bersangkutan.


"Sa_saya belum ada re..."


"Iya, maaf ya, Bu. Kesalahpahaman antara kami sudah kami selesaikan dan kami harus kembali ke rumah. Tidak mungkin kan kami akan tinggal di tempat yang berbeda, kasihan dengan anak kami," Ucap pak Devan.


Sok lembut sekali dia bicara. Bahkan untuk meyakinkan ibu kontrakan dia sampai menggeser duduknya dan merangkul pinggang ku. Dia juga merengkuh kepalaku lalu mengecup kening dengan tiba-tiba. Jelas tak ada waktu untuk mengelak darinya.


Nih orang... Astaghfirullah..


Ngelus dada terus karena kelakuannya yang melenceng ini. Dia begitu percaya diri dan begitu enteng mengatakan kebohongan.


"Ya syukur deh kalau begitu. Saya ikut seneng dengernya, semoga saja tak akan ada lagi masalah yang serius lagi setelah ini. Dan untuk mbak Nayla, kalau ada masalah di selesaikan baik-baik jangan kabur-kaburan seperti ini, tidak baik, Mbak."


Dan ujung-ujungnya aku yang salah.


"Tuh Bun, dengerin kata ibu kontrakan. Jangan kabur-kaburan lagi. Kan ayah udah minta maaf kemarin."


Kembali aku menoleh, semakin jengah aku melihatnya. Mulutnya lemes banget deh melebihi emak-emak tukang ghibah.


"Untung saja suaminya sayang banget sama mbak Nayla. Kalau tidak! Ya di biarin begitu saja kalau mbak pergi."


Ibu kontrakan itu terlihat malu sendiri setelah mengatakan hal itu.


Sayang?


"Sekali lagi saya berterima kasih ya, Bu. Sudah memberikan tempat untuk anak dan istri saya. Kalau tidak ada Ibu entah di mana lagi mereka akan tinggal. Panas kepanasan, hujan pasti kehujanan. Untung sekali kamu, Yang."


Ingin sekali aku ambil sendal dan langsung aku lempar ke wajahnya. Kenapa gini banget sih nih laki-laki.


"Kira-kira kalian pergi jam berapa?" tanya ibu kontrakan.


"Kami pulang besok, Bu. Ini sudah petang jadi di sini dulu. Tidak apa-apa kan Bu?"


"Tidak apa-apa, mau sampai kapanpun juga boleh."


Wajahku sedikit menjauh karena wajah pak Devan yang mendekat, aku curiga dia pasti akan membisikkan sesuatu padaku.


"Kita nginap semalam lagi di sini. Kita coba dulu ranjang bergoyang_nya, kira-kira kuat tidak kalau kita bergoyang di atasnya selama satu jam saja," bisiknya.


Bisikannya seketika membuat ku merinding darahku berdesir panas tapi jelas karena marah. Takut, jelas aku rasakan, bagaimana kalau yang dia katakan benar akan dia lakukan.


Mati aku!


"Ini sebagai hukuman karena kamu kabur dariku." imbuhnya lagi.


"Wah, sepertinya saya mengganggu ya di sini. Kalau begitu saya pulang dulu." Ibu kontrakan cepat beranjak.


"Ti_tidak kok..."


"Terima kasih ya bu untuk pengertiannya," ucap pak Devan memotong perkataan ku yang belum selesai.


"Tenang, Mas. Saya tau kok. Atau mungkin Ara biar main sama Asma dulu di rumah saya?"


"Boleh bu, Ara menginap dulu di rumah Ibu juga boleh."


Semakin mendidih ubun-ubun ku karenanya seketika tangan ku bergerak ke atas dan aku tarik telinga pak Devan kuat.


"Aw! Sakit-sakit!" protesnya.


"Ara, ayo main dulu ke rumah Asma," ajak ibu kontrakan.


"Hah!" Mataku terbelalak namun Ara nurut begitu saja dan berdiri meninggalkan semua buku-bukunya.


"Ayah Bunda, Ara main dulu ke tempat Asma ya. Ayah dan bunda jangan nakal-nakalan."


Mataku cengo melihat kepergian Ara, dia benar-benar pergi.


"Iya sayang, selamat bersenang-senang ya," Pak Devan kembali bersuara dan berhasil menyadarkan ku.


"Aw, sakit-sakit! Lepas Nay!"


Pak Devan terus mengeluh sakit tapi aku abaikan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung.....