
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Rasanya sangat menenangkan ketika berada di dekapan pak Devan. Rasanya sangat nyaman sampai-sampai rasanya tak mau terlepas meski hanya sesaat. Benarkah aku sudah begitu nyaman dengannya?
Hingga akhirnya kenyamanan itu terusik dengan kedatangan laki-laki yang sangat ingin aku jauhi, siapa lagi kalau bukan mas Aditya.
Kedatangannya selalu membuka luka lagi yang sudah sangat lama aku buang jauh-jauh. Aku tak ingin melihatnya lagi tapi kenapa rasanya di mana-mana selalu ada dia.
Di tempat reuni, tempat meeting waktu itu dan sekarang di rumah sakit, apalagi yang dia lakukan di sini.
"Oh, di sini rupanya. Aku datang ke rumah dan tidak ketemu dan ternyata di sini dan tengah bermesraan," katanya begitu sinis.
Terdengar sangat jelas kalau mas Aditya sangat tidak suka dengan kedekatan antara aku juga pak Devan. Lalu apa masalahnya? Mau aku dekat dengan siapapun seharusnya tidak menjadi masalah untuknya. Dia bebas dekat dan menikah dengan perempuan lain kenapa aku tidak bisa. Bukankah sudah tak ada lagi ikatan di antara kami?
Aku dan pak Devan seketika terkesiap dan saling melepaskan dan merenggangkan jarak kami yang semula begitu dekat. Mata kami juga langsung melihatnya dan melihat bagaimana wajah dia yang begitu besar akan amarah.
"Kenapa, apakah salah kalau saya bermesraan dengan suami ku? Bukannya kamu juga bebas bermesraan dengan istrimu?"
Selalu saja akan mudah terpancing ketika berbicara dengannya. Aku mudah kesal ketika melihatnya hingga ujung-ujungnya kata-kataku pasti akan sangat kasar.
Apapun yang keluar seolah tak pernah aku pikirkan lebih dulu selalu saja asal nyeplos begitu saja bahkan aku tidak memikirkan kenapa bisa aku mengatakan kalau aku tengah bermesraan dengan suamiku, pak Devan. Bisa-bisa dia akan besar kepala kan?
Mas Aditya terlihat semakin marah ketika aku mengatakan hal itu, entah dia marah karena apa aku sendiri tidak tau pasti tapi yang jelas semburat amarah begitu besar di wajahnya.
"Dasar wanita gatal! Baru di tinggal oleh suami saja langsung mencari laki-laki lain. Apakah kamu benar-benar tidak bisa lepas dari kehangatan di atas ranjang?! Benar-benar wanita jal*ng!"
Mataku terbelalak, jantungku berdetak hebat setelah mendengar sebutan dari mas Aditya yang dia berikan untuk ku.
Astaghfirullah, dia menganggap aku wanita yang begitu hina seperti itu?!
Padahal siapa yang gatal di sini, jelas-jelas dia yang sesuai dengan ungkapan yang dia sematkan untukku. Tapi, apapun yang dia katakan biarkan saja aku tak peduli.
Kalau dia membenciku dan menganggap seperti itu maka biarkan saja yang terpenting dia tidak akan memperpanjang lagi masalah yang sebenarnya dia buat sendiri ini.
Aku semakin muak ketika melihatnya. Ingin aku lari dari hadapan dan dari kenyataan ini tapi mau bagaimana hidup harus tetap berjalan meski selalu melihat dia dan juga menanggung semua amarah dan tuduhan yang dia layangkan atas diriku.
Aku tidak peduli dia mau menganggapku seperti apa aku hanya berharap dia tidak akan tahu kebenaran tentang Ara. Bisa jadi dia akan melakukan sesuatu jika mengetahuinya, bahkan bisa saja dia berusaha mengambil Ara dariku.
"Kalau aku jal*ng lalu kamu apa, hah! malaikat?" kata aku begitu berani, bahkan mata juga nyalang menatapnya dengan wajah yang tegak.
"Kamu!" tangan mas Aditya sudah terangkat dan siap melayangkan pukulan ke pipiku tetapi hal itu tidak dibiarkan begitu saja oleh Pak Devan, dia menghalanginya dengan menangkap tangan mas Aditya.
Memang aku sedikit menundukkan wajah ketika tangan itu akan menyapa pipi tetapi aku masih sadar dan tidak memejamkan mata sama sekali.
"Jangan pernah kamu sentuh wanitaku atau aku akan melupakan hubungan kita. Aku tidak peduli kamu mengungkit masa lalumu dengan Nayla tetapi aku tidak akan biarkan siapapun menyakitinya dan membuat dia menangis, termasuk kamu."
"Mungkin bagimu Nayla adalah wanita yang begitu buruk, tetapi tidak untukku. Aku sangat bersyukur karena kamu meninggalkannya hingga akhirnya sekarang dia bersamaku. Karena kamu memang benar-benar tidak akan pernah pantas untuk bersanding dengannya."
"Kamu lebih memilih membela perempuan seperti dia daripada aku?" Mas Aditya terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pak Devan. Amarah terlihat semakin menjadi karena Pak Devan lebih memilih membelaku daripada Dia sahabatnya.
"Iya! aku lebih memilih membela wanita yang kamu anggap buruk di matamu. Wanita yang dianggap buruk di mata dunia pun belum tentu dia buruk di mataku. Karena aku melihat seseorang dari ketulusan dan hatinya bukan dari rupa juga hartanya."
Begitu berani Pak Devan menyinggung apa yang sudah Mas Aditya lakukan kepadaku. Dia menganggapku seperti itu karena dia sudah mendapatkan yang dianggap lebih baik dan juga lebih kaya, tetapi benarkah wanita itu lebih baik dariku?
Belum tentu, tapi aku harap begitu sehingga dia tidak akan disakiti oleh Mas Aditya seperti diriku. Biarkan hanya aku saja yang menjadi wanita yang terakhir yang di sakiti jangan sampai ada korban lagi yang selanjutnya.
"Kamu benar telah dibutuhkan oleh cinta, Devan. Aku akan berdoa semoga kamu tidak akan pernah menyesal karena telah membela wanita jal*ng seperti dia."
"Amin, terima kasih atas doanya. Tapi tanpa doamu aku tetap yakin kalau aku tidak akan pernah menyesal. Tapi sebaliknya, kamu yang akan menyesal karena telah meninggalkan wanita seperti dia."
Keduanya terus beradu kata dengan sangat pedas. Saling menyahut dan menyindir satu sama lain.
Mas Aditya melenggang begitu saja pergi dari hadapan kami setelah melepaskan tangannya dari tangan Pak Devan dengan cara paksa. Dia terlihat sangat marah dan membawa bersama kepergiannya.
Aku terdiam, memikirkan kedua laki-laki yang berbeda karakter. Satunya sudah begitu lama aku kenal dan pernah memberikan cinta untukku hingga sampai sekarang hasil buah dari cinta itu berkembang dengan sangat manis yaitu Ara.Tetapi, sekarang dia menjelma menjadi laki-laki yang begitu asing seperti tidak pernah aku mengenalnya.
Tetapi di lain sisi satu laki-laki yang baru saja aku kenal, dia membelaku dan membantah semua tuduhan yang diberikan oleh Mas Aditya atas diriku. Dia begitu percaya kepadaku dan siap membela bahkan menjadi benteng di hadapanku untuk menghadapi Mas Aditya.
"Dengan orang tua pasien di dalam?" kata dokter mengejutkan kami berdua yang masih melihat kepergian Mas Aditya yang sudah semakin jauh. Tapi sekilas sebelum aku membalikan badan aku melihat Mas Aditya berhenti ketika mendengar suara dokter tetapi aku tidak memperdulikannya lagi.
"Ya, kami orang tuanya," baru saja aku mau berbicara tetapi Pak Devan sudah mendahuluinya. Dia juga langsung merangkulk_ku untuk mendekat kepada dokter yang baru saja keluar.
Dokter itu tersenyum melihat kepanikan kami berdua.
"Anak kalian hanya demam saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Setelah panasnya turun dia bisa dibawa pulang."
Kami sangat lega setelah mendengar penjelasan dari dokter. Alhamdulillah kalau tidak ada yang serius pada Ara.
Saking senangnya karena Ara tidak kenapa-napa sampai-sampai aku kelepasan dan memeluk Pak Devan dan terus tersenyum bahkan tanpa ragu aku menenggelamkan wajahku di dadanya.
Pak Devan terus diam tetapi aku merasakan bahwa dia semakin erat merangkul hingga membalas pelukanku.
"Bapak benar," kataku sembari mengangkat wajah dan melihat wajah Pak Devan, barulah aku tersadar dengan apa yang telah aku lakukan.
Perlahan aku melepaskan pelukan dari Pak Devan dan sekarang hanya tersisa rasa canggung yang menyelimuti.
"Hem, kita temui Ara?" tanya Pak Devan yang terlihat biasa-biasa saja, bahkan lebih cenderung ke arah bahagia setelah mendapatkan pelukan dariku.
Aku mengangguk, tentu aku langsung setuju untuk menemui Ara yang berada di dalam. Semoga saja dia sudah sadar sekarang.
Bersambung....
◎◎✧༺♥༻✧◎◎