Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Pesta kecil



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Rasanya sangat menyenangkan, bisa berkumpul bersama keluarga. Anak, suami, pada asisten dan penjaga semua berkumpul di satu tempat.


Saling bergurau di tengah-tengah menikmati hidangan untuk merayakan acara kemenangan. Kemenangan dari mas Aditya yang tak jadi bisa merebut Ada dari kami.


Semua begitu bahagia, sama seperti keluarga mereka semua bagiku. Kali ini mas Devan juga tidak begitu membedakan antara kami, dia juga lebih menghargai mereka semua.


Apalagi Ara juga semakin hari semakin sehat meski belum kembali pulih gembul seperti sedia kala, dia masih terlihat kurus, tapi dia sudah tidak pingsan-pingsan lagi.


Dia juga sudah jarang mimisan, dari pemeriksaan dokter juga katanya semua mulai membaik. Alhamdulillah, hanya itulah yang bisa terus aku ucapkan.


"Bunda, ini ada acara apa sih, kenapa kita makan-makan begini, kan Ara tidak ulang tahun?" katanya.


Ara terlihat begitu penasaran, wajahnya memandangiku dan beralih kepada semua yang ada.


"Ya, bukan apa-apa sih sayang. Hanya ada rezeki lebih aja jadinya kita makan-makan deh," jawabku.


Ara mengangguk, entah dia benar sudah mengerti atau tidak, tapi dia kembali asyik dengan makanan yang sudah aku pilihkan untuknya.


Sementara mas Devan, dia terus menatapku juga Ara yang barusan berbicara, tangan satunya merangkul ku dan yang satunya dia letakkan di lututnya sementara dia bersandar.


Dia begitu manja saat ini, dia duduk tenang tapi minta di suapi. Tapi itu tak masalah sih, aku suka melakukannya.


"Ayah, masak ayah minta di suapi bunda? padahal Ara saja makan sendiri." protesnya.


Mas Devan hanya tersenyum dan mulai duduk dengan tegak.


"Soalnya kalau makan di suapi itu sangat enak. Bagaimana kalau Ara juga suapi ayah?"


"Ih, Ayah manja!" protesnya lagi. Wajahnya terlihat begitu lucu dan sangat menggemaskan saat dia melayangkan protes itu.


Wajahnya tidak bisa, tapi mengkerut-mengkerut sangat lucu menurutku hingga aku tak tahan jika tidak tersenyum.


Daripada menyuapi mas Devan Ara malah menyuapi dirinya sendiri, dia langsung melahap apa yang ada di tangannya hingga mulutnya penuh.


Nyam nyam nyam...


Bunyi mulutnya yang sedang mengunyah. Bahkan Ara langsung menarik wadah dari meja dan meletakkan di atas pangkuannya.


"Anakku sangat menggemaskan," ucap Mas Devan dengan mata yang masih terus menatap Ara.


Ara sudah terlihat acuh sekarang, tidak melihat kami berdua dan lebih memilih menikmati makanannya.


"Dia anakku," kataku.


"iya, anak kita berdua." jawab mas Devan lagi. Aku sangat senang karena mas Devan benar-benar menganggap Ara seperti anaknya sendiri bahkan dia benar-benar mengakuinya.


Aku mengangguk pelan, kembali menyuapi mas Devan dan tentu langsung di terima olehnya.


"Akk!" aku langsung membuka mulut ketika mas Devan juga berinisiatif untuk menyuapiku. Senang rasanya.


"Enak?" tanyanya dan aku langsung mengangguk.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


"Nya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Sus Neni.


Aku terkesiap, aku pikir sudah tidak ada yang terjaga karena sudah malam tapi ternyata masih ada yaitu Sus Neni.


"Tidak ada, Sus. Sudah malam kok belum istirahat, Sus?" tanyaku.


"Ini, mau ambil air putih untuk Non Ara." jawabnya.


"Oh, ya sudah, setelah itu langsung istirahat, Sus." kataku yang langsung diangguki olehnya.


"Saya duluan ya, Sus," aku juga datang ke dapur untuk mengambil air putih saja dan setelah sudah aku dapat tentu langsung bergegas untuk kembali.


"Iya, Nya."


Langkah terus menuju kamar, aku yakin semua sudah tidur sekarang kecuali penjaga di luar dan juga aku dan Sus Neni, bahkan mas Devan juga aku yakin sudah tidur.


Sangat pelan aku masuk ke kamar tentu karena tidak mau sampai mengganggu istirahat mas Devan yang jelas sangat lelah karena sudah seharian terus sibuk.


Dan ternyata benar, ketika aku masuk dan menoleh kearahnya ternyata dia sudah terkena dengan begitu lelap. Aku tersenyum.


Ku letakan botol di atas nakas lalu ikut naik ke ranjang. Baru saja ingin merebahkan tubuhku tiba-tiba mas Devan bergerak dan langsung memeluk. Matanya juga langsung terbuka.


"Mas, belum tidur?" tanyaku.


Mas Devan menggeleng, wajahnya nampak aneh.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Mau ambil jatah dulu sebelum tidur." mas Devan tersenyum, wajahnya nampak sumringah setelah mengatakan, padahal wajahku yang langsung melongo.


"Kenapa seperti itu?" tanyanya mungkin terlihat aneh kali ya wajahku sekarang ini.


"Ti_tidak apa-apa." jawabku.


"Ambil sekarang ya," katanya.


Berarti dia dari tadi belum tidur, berarti dari tadi dia menunggu aku kembali dari dapur.


"Akk!"


Belum juga aku menjawab mas Devan sudah langsung pasang kuda-kuda untuk segera mengambil jatahnya. Sungguh terlalu emang.


"Tadi kan udah pesta untuk semuanya jadi sekarang ini adalah pesta kita."


"Akk!" jerit ku, mas Devan langsung melakukan apa yang menjadi kehendaknya.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...