Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Haruskah menyembunyikannya



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


"Ayah, terima kasih ya sudah mau gendong Ara dan juga mau jagain Ara. Ara sangat senang sekali bisa ada ayah."


Terlihat Ara begitu senang ketika berada di gendongan pak Devan yang terus melangkah untuk keluar dari rumah sakit.


Dari awal masuk sampai sekarang kami kembali keluar karena sudah di perbolehkan untuk pulang pak Devan selalu saja ada untuk Ara. Dia sama sekali tidak pernah meninggalkan Ara sedikitpun.


"Sama-sama, Sayang. Bukankah Ayah sudah selalu katakan untuk terus menjaga Ara?" tanyanya sembari sedikit menoleh ke arah Ara yang terus saja menatap wajahnya.


"Iya, ayah yang terbaik untuk Ara," Ara tersenyum dia begitu senang.


Bukan hanya Ara yang merasa senang tapi juga aku sendiri. Aku sangat senang bisa melihat Ara begitu bahagia seperti ini.


Begitu tulus pak Devan melakukan semua kepada Ara membuat gadis kecilku itu begitu nyaman dan sangat suka padanya. Tapi aku? aku masih ragu untuk bisa menerimanya.


Bayang-bayang akan pengkhianatan masih sangat jelas melekat di ingatan ku. Semua kenangan dari hal yang paling manis hingga akhirnya berujung pahit semua masih tertata rapi dan tak akan mungkin bisa aku lupakan.


Seketika senyum ku pudar ketika melihat ada yang menghadang langkah kami, membuat langkah kami terhenti tepat di depan pintu rumah sakit. Dia adalah mas Aditya.


Ada urusan apa lagi dia di sini?


Aku yang semula berada di belakang pak Devan kini beralih untuk berdiri di sampingnya. Jantungku bekerja lebih cepat sekarang antara takut Ara akan mengenalinya dan akan memanggilnya ayah tapi juga ada rasa marah dan juga kecewa.


Aku menoleh ke arah Ara, matanya memang terus melihat ke arah mas Aditya tanpa berkedip tapi kedua tangannya kini memeluk pak Devan begitu erat bahkan wajah dia hampir di sembunyikan di ceruk leher pak Devan.


Apakah Ara begitu takut pada Mas Aditya, tapi kenapa?


Bukankah kemarin dia begitu senang dan begitu berharap untuk bisa bertemu dengan mas Aditya? kenapa sekarang dia menjadi takut seperti ini?


Aku berganti menoleh ke arah mas Aditya, dia juga tidak berkedip melihat Ara. Apakah dia menyadari sekarang akan kemiripan mereka berdua?


Aku melangkah maju ketika mas Aditya juga semakin mendekat. Aku beralih berdiri di hadapan pak Devan yang tetap menggendong Ara dan seolah melindunginya.


"Biarkan aku melihatnya, Nay," katanya. Terus mas Aditya mencari celah untuk bisa melihat Ara tapi aku terus menghalanginya. Tak akan aku biarkan dia melihatnya.


"Untuk apa?!" jawabku dengan sangat tegas.


"Biarkan aku melihatnya, Nay!" suaranya sudah berganti menjadi kasar dan begitu melengking begitu tinggi.


"Tidak!" aku juga lebih tegas melarangnya. Tak akan aku biarkan mas Aditya mengenali Ara sebagai anaknya.


"Kenapa, apakah kamu takut aku melihat dan mengenalnya? Kenapa, hah!"


"Bukan urusan mu! lebih baik mas minggir dan jangan halangi kami untuk pulang."


"Tidak! sebelum aku melihatnya," begitu kekeuh mas Aditya untuk bisa melihat Ara. Dia tak akan pernah berhenti sebelum dia berhasil melihat Ara sepertinya.


"Saya juga tidak akan pernah mengizinkan kamu melihat apalagi menyentuhnya!" mataku begitu nyalang penuh dengan amarah.


Kenapa baru sekarang dia ingin melihatnya, kenapa tidak dari dulu, sejak dia lahir dan melihat semua perkembangannya sampai sekarang.


Kenapa sekarang dia datang setelah sekian lama, setelah memberikan status lain untuk ku karena dia lebih memilih wanita lain yang lebih kaya.


"Biarkan aku melihatnya!" dengan gerakan cepat dan juga kasar mas Aditya tiba-tiba mencengkram lengan ku lalu menarik ku untuk menghindar dari hadapannya. Jelas aku langsung bergeser karena tenaganya yang tidak sebanding.


"Jangan sakiti bunda!!" teriak Ara histeris dia juga langsung menangis melihat begitu jelas bagaimana sikap mas Aditya yang begitu kasar.


Kini mas Aditya benar-benar melihat semua wajah Ara dan melihat kemiripan mereka. Mas Aditya terpaku diam sementara mata Ara sudah berderai air mata.


"Stts... jangan takut, ada ayah di sini," ucap pak Devan menenangkan Ara.


Mas Aditya mendekat dengan diam dia ingin lebih jelas melihat Ara, setelah sampai di hadapannya dia ingin menyentuh wajahnya tetapi Ara menolaknya.


"Nay, di_dia anakku kan?" tangan mas Aditya berusaha untuk menyentuh Ara tetapi Ara tidak mengizinkan begitu juga dengan pak Devan yang melangkah mundur.


"Bukan, dia bukan anak kamu. Dia anakku dan Mas Devan!" kataku dengan berbohong. Aku kembali menghampiri dan berdiri di depan Ara.


"Tidak, kamu bohong. Dia anakku," mas Aditya menggeleng kasar dengan tersenyum pilu.


"Aku tidak bohong, dia bukan anakmu!" aku terus membantah.


Mas Aditya tidak mendengar perkataan ku, dia seolah menutup telinga rapat-rapat dan kini kembali mendorong ku dengan kasar hingga aku terjatuh.


"Hey, jangan kasar kamu ya!" pak Devan juga langsung tersulut emosi melihat mas Aditya yang begitu kasar. Dia juga terus menjauhkan Ara dari mas Aditya.


"Sayang, kamu manis sekali. Kamu begitu mirip dengan ku," katanya dengan sangat lembut di barengi dengan senyuman yang begitu manis.


Tetapi, senyum itu malah seperti hantu bagi Ara, dia ketakutan dan memeluk pak Devan semakin erat.


"Sayang, lihatlah. Kita benar-benar mirip kamu pasti anakku," katanya.


Ara menggeleng dengan kasar. Entah kenapa Ara begitu ketakutan melihat mas Aditya sangat berbeda dengan Ara yang kemarin.


"Sini ikut ayah," kedua tangan mas Aditya sudah menjulur ke depan untuk mengambil Ara dari Pak Devan tapi aku kembali menghalanginya.


"Jangan sentuh anakku!" aku semakin jengah dengan mas Aditya.


"Minggir!" lagi mas Aditya ingin mendorong ku tapi aku tidak terjatuh karena pak Devan segera menangkap lenganku.


Pak Devan terlihat sangat marah, mungkin tadi dia bisa bersabar tapi sepertinya tidak untuk sekarang. Pak Devan memberikan Ara padaku dan beralih dia yang berdiri di hadapan ku dan juga Ara.


"Bukankah aku sudah katakan untuk tidak mengganggu wanita ku dan juga anakku?"


Begitu kasar pak Devan mencengkram kerah dari kemeja mas Aditya. Sepertinya amarah dia benar-benar meledak saat ini.


"Hem, anakmu? apa kamu buta, lihatlah baik-baik wajahnya! lihatlah dengan benar! satupun dari dia tak ada yang mirip dengan mu. Tapi dengan ku!"


"Terus kenapa kalau mirip dengan mu, bukan berarti dia anakmu kan? karena kamu memang tidak pernah pantas menjadi seorang ayah. Nyatanya anak yang masih ada di dalam kandungan istrimu juga meninggal kan?" pak Devan begitu sinis.


Mata mas Aditya terlihat semakin nyalang penuh dengan amarah mendengar penuturan dari pak Devan yang menyangkut anaknya.


Aku terkesiap mendengarnya. Ja_jadi mas Aditya di sini karena dia baru saja kehilangan anaknya yang lain?


"Jangan kamu bawa-bawa anakku!"


"Kenapa, memang begitu kan? kamu tidak akan pernah pantas menjadi seorang ayah."


Pak Devan melepaskan cengkeramannya lalu mendorong mas Aditya dengan kasar hingga membuat dia mundur beberapa langkah.


"Kurang ajar!" mas Aditya kembali dan siap melayangkan pukulan pada wajah pak Devan tapi dengan gesit pak Devan yang lebih dulu berhasil memukul perut mas Aditya hingga membuat dia kembali mundur.


"Jangan harap kamu bisa menang melawan ku, Aditya. Dari dulu hingga sekarang kamu tidak akan pernah menang melawan ku. Dan aku tidak akan pernah biarkan kamu menang dalam hal apapun diriku."


"Kita pulang sekarang," pak Devan cepat membalik dan merangkul ku, menuntun untuk segera pergi dari tempat itu.


Sementara Ara, dia terus bersembunyi dan tak mau melihat mas Aditya lagi.


Alhamdulillah, ketakutan ku tidak terjadi. Aku takut Ara akan memanggilnya ayah dan membuat dia tau akan hubungan mereka sebenarnya tapi alhamdulillah itu tidak terjadi.


"Nay, katakan padaku! dia anakku kan?! Nay!" teriak mas Aditya memanggil tapi aku terus melangkah.


"Nay!" terus mas Aditya berteriak bahkan dia berlari mengejar kami sampai mobil, tetapi untung saja kami buru-buru masuk mobil lalu pak Devan menjalankan mobilnya.


"Nay!!" teriakan itu tetap kami abaikan.


Mobil terus berjalan.


Aku menangis dengan terus memeluk Ara.


"Bunda, Ara takut." katanya.


"Stts.., jangan takut ada bunda di sini," berusaha aku menenangkannya meski Ara terus memeluk ku.


"Jangan takut ya, Ayah akan selalu melindungi kalian," tangan pak Devan menjulur dan mengusap rambut Ara dengan lembut dan penuh kasih.


Aku menoleh kearah pak Devan, dia tersenyum kepadaku, "jangan takut, ada aku yang akan selalu bersama kalian."


Aku tidak membalas senyumnya, masih begitu enggan untuk melakukan itu.


'Apakah ini benar? apakah aku harus menyembunyikan kebenaran ini dari mas Aditya, tapi sampai kapan? Melihat Ara saat ini mas Aditya tidak akan diam begitu saja. Dia pasti akan mencari tau hubungannya dengan Ara. Bagaimana kalau mas Devan mengambil Ara dariku,' batinku.


Aku terisak membayangkan apabila semua itu akan menjadi nyata. Aku takut.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung.....