Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kepanikan



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Sarapan yang sangat menyenangkan, bersama istri juga anak tercinta. Mengawali hari dengan begitu ceria dan terus tersenyum.


Kesibukan akan segera di mulai, meski seperti itu Mas Devan selalu saja menyempatkan waktu untuk kami berdua, aku dan Ara. Bahkan dia akan menyempatkan waktu untuk pulang di saat siang hanya untuk bisa makan siang bersama, dia benar-benar ingin kami selalu bahagia dan merasa diperhatikan.


Ara sudah komplit dengan seragamnya, begitu juga dengan Mas Devan yang sudah komplit dengan pakaian kerjanya. Tas masing-masing juga sudah ada di ruang tengah, hanya tinggal bawa saja.


Bukan itu saja, tapi makanan bekal untuk mereka juga sudah aku siapkan. Meski pas makan siang semua ada di rumah tapi aku tetap bawakan untuk mereka makanan ringan saja, dan selalu seperti itu supaya mereka tidak berpikir untuk jajan di luar.


Bukannya aku ingin mereka irit, tapi aku hanya ingin mereka benar-benar bisa mengonsumsi makanan yang aman.


"Bunda, Bunda nanti nganter Ara lagi kan?" Ara berbicara.


Aku dan Mas Devan menoleh bersamaan.


"Iya, Sayang. Bunda akan nganter Ara, tapi bunda akan pulang lagi, tidak apa-apa kan?" jawabku. Aku tidak boleh di luar terlalu lama oleh Mas Devan, dia sangat takut kalau aku akan menginginkan hal-hal yang aneh seperti kemarin. Tapi itukan murni, di rumah pun kalau lagi ingin juga tetap ingin.


"Nggak apa-apa kok, Bun. Ara senang kalau Bunda mau anter," Ara tersenyum sumringah, jelas membuat kami para orang tua juga ikut tersenyum.


Mas Devan langsung mengulurkan tangan dan mengelus kepala belakang Ara seketika itu, membuat Ara semakin bahagia.


"Ara tidak usah takut, meski Bunda pulang lagi tapi ada Sus Neni dan juga ada om-om yang akan jagain Ara. Kalau Ara ada apa-apa, langsung aja nanti bilang sama om-om atau sama Sus Neni, sama bu Guru juga boleh," ucap Mas Devan.


"Iya, Yah," Ara mengangguk antusias.


Keheningan terjadi lagi dan menyisakan suara-suara gesekan antara sendok dengan piring yang kami gunakan.


Tak lama makanan kami habis, dan kami mulai beranjak dan sibuk dengan barang-barang kami masing-masing. Sementara semua piring kotor sudah ada mbak-mbak yang membersihkan.


Seperti biasa, kamu akan berangkat ke sekolah Ara di antar Mas Devan, itupun sekalian Mas Devan berangkat ke kantor karena memang searah jalannya.


"Sayang, ingat ya, kamu tidak boleh capek-capek nanti di rumah. Aku tidak mau kamu ikut-ikutan mengerjakan pekerjaan." Mas Devan menegaskan.


"Iya, Mas. Nanti paling hanya masak saja. Selain itu mbak-mbak yang akan kerjakan," jawabku.


Mobil terus berjalan, menyusuri jalanan yang memang sangat ramai dan padat karena kegiatan semua orang yang juga sibuk dan akan pergi ke tempat mereka masing-masing.


Jalanan begitu ramai, bahkan terlihat tak bercelah dari mobil safi ke yang lainnya, benar-benar sangat padat.


"Bunda, Ara kok pusing ya," tiba-tiba Ara berbicara di tengah-tengah keheningan di dalam mobil.


Aku menunduk melihat wajah Ara yang terlihat begitu pucat, begitu juga dengan Mas Devan yang langsung menoleh untuk memastikan ketika mobil berhenti tepat di depan lampu merah.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" aku langsung panik mendengar Ara pusing. Kenapa selalu seperti ini, padahal Ara sudah rutin minum obat yang di berikan oleh dokter.


Aku angkat tubuh kecilnya untuk kepangkuan ku, aku periksa wajahnya dan memang panas.


"Mas, Ara panas banget," aku mulai panik.


"Ara sayang, kita ke rumah sakit saja ya sekarang?" tawar Mas Devan.


"Tidak mau, Ara mau sekolah," bagaimana mungkin Ara bisa sekolah dalam keadaan lemah seperti sekarang ini. Wajahnya semakin pucat.


Uhuk uhuk uhuk....


Tangan Ara bergerak untuk menutup hidungnya sendiri ketika dia batuk, dan saat di jauhkan dari bibirnya membuat aku semakin panik. Bukan hanya mimisan saja, tapi Ara juga muntah darah.


"Mas," aku panik, menoleh ke arah Mas Devan yang juga terlihat sama.


"Kita ke rumah sakit sekarang," Mobil kembali berjalan setelah lampu sudah berganti menjadi hijau. Untung saja kami tepat paling depan jadi tidak butuh menunggu lagi.


"Sayang, jamu tahan sebentar ya. Sebentar lagi kita ke rumah sakit," ucapan ku pastilah gemetar karena takut. Tangan ku juga terus bergerak membersihkan hidung Ara yang masih terus mimisan.


"Bunda, Ara pengen sekolah," masih saja doa ingin pergi ke sekolah meski keadaannya yang tidak memungkinkan.


"Ara sayang, kita akan ke sekolah nanti tapi setelah Ara si periksa dulu sama dokter. Oke," Mas Devan berbicara, tangan satunya menyentuh Ara meski dia juga harus fokus dengan menyetir.


Ara sudah tidak lagi berbicara, dia sudah semakin lemah.


"Mas, cepat sedikit," pintaku. Wajah Ara yang semakin pucat juga matanya yang kadang-kadang ingin terpejam membuat aku takut. Pikiran ku sudah macam-macam sekarang ini.


"Iya, Mas akan cepat," Mas Devan semakin mempercepat laju mobilnya, namun dia juga terlihat waspada karena tidak ingin kalau terjadi apa-apa dengan kami.


Aku melirik dari kaca depan, ternyata mobil para pengawal juga mengikuti kami, aku yakin mereka bertanya-tanya karena kami sudah berbelok arah ketempat lain. Tapi aku tidak pedulikan itu, yang aku pedulikan adalah Ara sekarang.


"Bunda, Ara pusing," ucapnya lagi. Ara semakin pucat sekarang ini.


"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai." terus ku peluk tubuh Ara yang semakin lemah, sementara yang satu masih dengan tisu dan ada di depan hidungnya.


Mas Devan tidak mengatakan apapun, tapi dia terus fokus para jalan raya dan terus menjalankan mobilnya lebih cepat dan menyelip kendaraan yang ada di depan kami.


Bukan hanya itu saja, tapi Mas Devan juga terus membunyikan klakson untuk mengisyaratkan pada mobil di depan kalau ki benar-benar sedang buru-buru.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...