
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
"Ayah, ayah jangan sakiti bunda. Lepaskan Bunda, yah. Lepaskan bunda..."
"Bunda...!"
Seketika aku begitu terperanjat dari tidur ketika mendengar suara Ara yang terdengar merintih juga sesekali menjerit ketika dia tidur.
Baru saja mata ini terpejam di sebelahnya dan kini sudah kembali terbuka dengan paksa karena suara Ara yang sangat mengejutkan.
Dalam keadaan tidur Ara terus menggeleng namun dengan mata yang masih tertutup. Ara terus berteriak dan suaranya semakin sering juga semakin lantang.
"Ara, Ara sayang," sontak aku terbangun dan berusaha untuk membangunkan Ara.
"Ayah, lepaskan bunda. Jangan sakiti bunda!" terus Ara berteriak.
Brakk...
"Nay, apa yang terjadi pada Ara!" Pak Devan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Dia langsung berlari menghampiri dan lompat begitu saja ke kasur.
Aku melirik ke arah pak Devan, dia terlihat sangat khawatir melihat Ara yang terus berteriak.
Pak Devan menyentuh keningnya yang ternyata suhu tubuhnya panas tinggi karena aku juga pas kebetulan menyentuhnya. Ya! begitu sangat tinggi pantesan Ara terus meracau dalam tidak sadar.
Memang biasanya seperti itu kalau dia sedang demam tapi tidak seperti ini bunyinya. Tak pernah Ara terlihat begitu ketakutan akan hal yang aku sendiri tidak tau. Pastilah Ara bermimpi buruk tentangku juga tentang Ayahnya.
Ayah? Apakah dia bermimpi tentang mas Aditya? Tapi mimpi apa, kenapa dia sampai begitu takut seperti ini sekarang.
"Sayang, Ara Ara," Pak Devan terus panik melihat Ara yang seperti itu sementara aku malah terpaku sendiri melihat pak Devan yang begitu peduli dengan Ara.
"Astaga, Nay. Kita tak bawa Ara ke rumah sakit sekarang."
Tanpa berpikir lagi pak Devan langsung mengangkat tubuh Ara yang tidur dan terus meracau.
"Kita bawa ke rumah sakit," katanya lagi yang sudah berhasil mengangkat tubuh Ara.
Apakah aku harus senang atau sedih melihat Pak Devan yang seperti ini. Benarkah dia sangat peduli dengan Ara atau hanya karena menginginkan sesuatu dariku saja?
Mungkin memang aku sudah begitu susah untuk membedakan di antara ketulusan dan juga yang hanya memiliki niat terselubung saja. Bagaimana caranya supaya aku bisa benar-benar membedakan orang yang bener tulus atau tidak. Bagaimana?
"Nay, Ayo kita bawa Ara ke rumah sakit!"
Pak Devan menoleh dan melihatku yang masih terpaku antara percaya dan juga tidak. Antara syok juga terkejut melihat Pak Devan yang begitu antusias untuk membawa Ara ke rumah sakit.
"I_iya." jawaban ku tergagap juga langsung turun untuk mengejar pak Devan yang membawa Ara dengan jalan cepat.
Kami benar-benar membawa Ara ke rumah sakit karena rasa khawatir yang sangat besar dari kami berdua. Dengan memangku Ara yang tetap tertidur sesekali aku melihat ke arah Pak Devan dan beralih lagi melihat Ara yang mulai menggigil.
Apakah aku begitu keterlaluan karena dari kemarin tak kunjung memaafkan Pak Devan yang terus meminta maaf. Semua cara dia lakukan untuk bisa mendapatkan kata maaf dariku, bukan hanya hal baik yang dia lakukan untukku tetapi juga untuk Ara. Bahkan sekarang?
Sekarang Pak Devan terlihat begitu mengkhawatirkan Ara yang sakit, dia benar-benar seperti seorang ayah yang menghawatirkan anaknya yang telah sakit. Apakah dia benar-benar menyayangi Ara sebesar itu?
"Kamu jangan khawatir Ara pasti akan baik-baik saja," Pak Devan menyentuh bahuku, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja dan arah pasti akan segera sembuh.
Aku memang sangat khawatir dengan keadaan Ara maka dari itu aku terus diam tetapi bukan hanya itu saja melainkan aku memikirkan sikap Pak Devan.
Sikap yang seperti inilah yang selalu membuatku merasa tersanjung, merasa dipedulikan, merasa mendapatkan kasih sayang juga merasa lengkap dalam hidup. Seandainya saja orang yang ada bersamaku ini adalah Mas Aditya pastilah aku benar-benar sangat bahagia, tetapi ternyata tidak! Yang berada di hadapanku adalah orang lain.
'Ya Allah, takdir apa yang telah Engkau siapkan untukku juga untuk Ara. Engkau pisahkan aku dengan mas Aditya dan sekarang Engkau kirimkan laki-laki yang selalu melimpahkan kasih sayang kepada Ara meski mereka tak saling kenal sebelumnya. Apakah memang Engkau sengaja mengirimkannya untuk kami?' batinku seraya menoleh ke arah pak Devan.
Wajah tampan yang terselimuti dengan rasa khawatir yang begitu besar yang diperuntukkan untuk Ara apakah benar aku masih tidak bisa menerima kenyataan ini bahwa Pak Devan benar-benar sangat sayang dan peduli kepada Ara?
Apalagi yang perlu aku ragukan dari Pak Devan, kini aku bisa melihat kasih sayang yang sangat besar juga ketulusan untuk kami berdua bukan semata-mata hanya karena menginginkan sesuatu dari kami.
Mata ini rasanya sangat susah untuk berpaling dan melihat semua kebenaran dari Pak Devan. Tetapi kenapa ketika aku mulai menerima ketulusan yang dia perlihatkan hati ini merasa ingin menolak bahkan terasa sangat sakit mengingat semua yang telah dia lakukan kepadaku.
"Kamu tenang saja, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Saya akan pastikan bahwa Ara akan mendapatkan perawatan terbaik, kamu tenang saja semua pasti akan baik-baik saja," kata pak Devan.
Pak Devan kembali berbicara untuk menguatkan_ku supaya tidak terlalu sedih karena apa yang terjadi kepada Ara, tetapi mana mungkin seorang ibu tidak akan pernah baik-baik saja ketika melihat sang buah hati sakit seperti ini.
Hati seorang ibu akan merasa sangat sakit dan tersiksa ketika melihat anaknya sakit apalagi terus diam dengan keadaan yang begitu menyedihkan seperti Ara saat ini.
Seandainya bisa, seorang ibu akan menggantikan rasa sakit yang dialami oleh anaknya tapi bagaimana lagi semua sudah menjadi kehendak Sang Maha Kuasa dan tidak akan pernah bisa untuk diubah dan juga tidak bisa dipindahkan begitu saja seperti kita memindahkan sesuatu dengan mudah.
Tetapi Alhamdulillah sedikit perkataan dari Pak Devan mampu membuat hatiku menjadi begitu kuat dan tidak terlalu rapuh seperti biasanya ketika Ara sakit.
Aku merasa mendapatkan kekuatan baru, mendapatkan seorang teman yang mau menemani untuk menjaga dan merawat Ara. Apakah aku salah jika perlahan hati ini mulai nyaman dan mulai terbiasa dengan semua sikap yang diberikan dan ditunjukkan oleh Pak Devan kepadaku?
Tetapi, apakah secepat ini hatiku merasa nyaman berhadapan dengan seorang laki-laki setelah beberapa saat aku dikhianati?
Aku semakin terdiam tanpa kata namun menyembunyikan sejuta kata di dalam hati ketika Pak Devan menggenggam tanganku dengan begitu erat.
Aku melihat tangannya yang terus berada di tanganku dengan mata yang fokus ke arah jalan raya dan satu tangannya lagi terus fokus untuk menyetir.
"Kamu jangan pernah merasa sendiri lagi ada aku bersamamu."
Aku terus saja terdiam dengan sesekali melihat ke arah Pak Devan lalu ke arah tangan kami berdua dan beralih ke arah wajah Ara yang saat ini sudah bernafas dengan sangat teratur dan juga tidak meracau lagi seperti sebelumnya.
"Pa_pak, kita sudah sampai di rumah sakit." kataku dengan perlahan mulai melepaskan tangan kami yang terus menyatu.
"Iya," jawab Pak Devan yang melirik sebentar ke arah tangan kami yang perlahan mulai terpisah. Pak Devan perlahan melepas tangannya dan membiarkan aku lebih mudah untuk menarik tangan.
Keheningan terjadi sampai mobil benar-benar berhenti di depan rumah sakit. Pak Devan turun lebih dulu lalu berlari memutar menuju ke tempatku dan membuka pintu.
"Sini, biar aku yang menggendong Ara," Pak Devan langsung menarik Ara dari pangkuanku dan saat itu aku juga tidak bisa menolak dan aku biarkan Ara digendong olehnya.
Kami pun bergegas masuk ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Ara yang sebenarnya sudah lebih tenang meskipun panasnya tak kunjung turun.
Bersambung.....
◎◎✧༺♥༻✧◎◎