
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
"Nay," seketika aku menoleh ke arah pak Devan yang ada di belakang ku dan juga tengah menutup pintu kamar di rumah pak Abraham.
Kamar ini dulunya adalah kamar pak Devan dan sekarang pun juga sama. Tapi sekarang aku bisa menempati juga, jelas kan aku istrinya.
Klek klek klek...
Aku mengernyit dengan wajah yang mering ke arah pintu yang ada di belakang pak Devan. Tangannya masih di belakang tubuhnya dan ternyata tengah menguncinya.
"Kenapa?" beralih aku melihat ke wajah pak Devan. Terlihat ada sesuatu yang dia ingin katakan tapi dia masih saja diam, sebenarnya ada apa?
"Kamu tahu ini kamar siapa?" pak Devan mulai bertanya tapi dia mulai melangkah mendekat.
Tatapan matanya sangat aneh tak seperti biasanya, sebenarnya apa yang dia inginkan? Aku sangat penasaran tapi aku juga perlahan melangkah mundur karena pak Devan terus maju.
"Ini kamar pak Devan kan?" jawab ku.
"Panggil apa?" pak Devan semakin maju.
"Pak Devan kan?" jelas aku jawab seperti itu karena memang itulah biasanya aku memanggilnya. Tak ada panggilan lain selama ini kecuali itu saja jadi apakah ada yang salah?
"Berapa kali hukuman yang pantas untuk mu? Aku sudah meminta kamu untuk tidak memanggilku dengan panggilan pak. Jadi katakan, berapa kali hukuman yang pantas."
"Hu_hukuman apa?"
"Tidak ada hukuman yang pantas kecuali melakukan malam kedua. Dari kemarin kita gagal melakukannya dan sekarang aku tidak mau gagal lagi. Malam kedua harus kita lakukan sekarang," pak Devan terus maju dan tak ada jarak lagi di antara kami.
Aku terduduk di ranjang dengan wajah yang terus melihat ke arah pak Devan yang masih berdiri di hadapan ku.
Wajahnya berbinar penuh maksud penuh dengan bahagia dengan pak Devan yang mulai membungkuk dan membuat tubuh ku perlahan mundur hingga akhirnya ambruk di ranjang.
"Pa_pak..., a_aku..."
"Tidak ada alasan lagi, Nay," suara pak Devan sudah terdengar serak-serak basah sungguh aneh pokoknya.
"Kita harus sering-sering melakukannya, Nay. Untuk vitamin anak kita," katanya.
Vitamin?
Apa hubungannya berhubungan suami istri dan vitamin untuk anak yang masih di dalam kandungan. Aku yakin hanya akal-akalan pak Devan saja karena dia yang memang ingin melakukannya.
Tubuh ku rasanya panas dingin ketika wajah pak Devan mendekat ke wajahku, nafasnya perlahan menyapa wajah dan membuat tubuh dan hati semakin gemetar. Aneh, kenapa bisa seperti ini?
"Siap beri vitamin ya?" katanya.
"Hah! Vitamin?" mataku terbelalak melihat pak Devan dengan masih sangat bingung, sebenarnya apa yang dia maksud aku tak mengerti.
Belum juga mendapatkan jawaban dari pikiran ku sendiri pak Devan sudah mulai mendekatkan wajah dan juga perlahan menyatukan bibirku dengannya.
Sentuhannya begitu lembut, sangat berbeda dengan yang kemarin. Jelas, yang kemarin di penuhi dengan amarah dan jelas melakukannya dengan kasar tapi sekarang? Sejarah penuh dengan keinginan yang di sadari kasih jelas melakukannya dengan penuh kelembutan.
Jantung ku semakin berdebar-debar tidak karuan, nafas rasanya perlahan menjadi tersengal dan dada seolah naik turun dengan sangat jelas dan itu membuat pak Devan semakin gencar melakukannya.
Matanya sudah memerah, nafasnya juga sama seperti nafasku yang tersengal hingga akhirnya ciuman kami terpisah karena pak Devan ingin memberikan kesempatan padaku untuk mengambil nafas panjang-panjang.
Mata kami saling bertemu beberapa detik dan pak Devan aki lihat dia tersenyum begitu manis di atasku. Aku seakan mulai tegang karena pak Devan mulai mendekat lagi.
"Rileks, Nay," katanya yang seolah tau apa yang aku rasakan saat ini. Tapi aku dana saja gak bisa melakukan hal itu.
Tok tok tok...
"Bunda, ayah! Ara pengen bobok bareng!" teriakan itu terlihat sangat jelas kami dengar dengan sangat lantang, suara itu adalah suara Ara.
"Pak, Ada datang," kataku.
"Biarkan saja, ada mama dan papa yang akan mengurusnya. Lagian ada suster Neni juga," pak Devan tetap kekeuh dan tetap ingin melakukan apa yang sudah di mulai dan mulai memanas.
Tok tok tok...
"Ayah, Bunda! Ara pengen bobok sama ayah dan bunda!"
"Sayang, bobok sama nenek ya. Ayah sama bunda pasti sudah bobok karena kecapean," suara bu Susan yang membujuk Ara. Terdengar sangat lembut sekali.
"Nggak mau, Ara pengen bobok sama ayah dan bunda," rengeknya lagi.
Jelas aku tidak tega jika lama-lama mendengar rengekannya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi tangis yang sangat besar.
Semua isi rumah tidak akan bisa tidur kalau sampai dia menangis, aku juga juga tidak akan bisa.
"Pak, Ara menangis," kataku pelan, "kita bisa lakukan besok, ya."
"Tidak, Nay. Tanggung. Junior sudah bangun," katanya.
"Tapi, Pak. Kalau sampai Ara nangis semua tidak akan bisa istirahat. Nay mohon, please..."
Dengan wajah memelas pak Devan menggeleng dia pasti sangat menolak karena dari kemarin selalu gagal apakah sekarang akan gagal lagi setalah sudah di mulai?
"Lanjut ya, Nay. Please," pak Devan memohon dengan wajah yang sangat memelas.
"Please, besok. Jangan sampai Ara menangis," aku tidak mau menolak keinginannya tapi juga tidak mau kalau sampai Ara menangis.
"Huff... Iya deh, aku yang ngalah," Pak Devan segera ambruk do sebelah ku dengan sangat malas. Dia terlihat gak semangat dan sangat pasrah, "gagal lagi gagal lagi."
Aku benahi baju yang sedikit amburadul karena perbuatan pak Devan barusan bergegas untuk beranjak dan menghampiri Ara yang masih ada di depan pintu dengan terus merengek saat bu Susan membujuknya.
Aku menoleh sebelum membuka pintu dan pak Devan sudah berpindah tempat dengan benar, tidur dan juga menyelimuti dirinya sendiri juga memunggungi pintu. Apakah dia marah?
Tok...
"Sayang, kenapa nangis?" baru saja ketukan pertama dan pintu sudah aku buka dan benar Ara sudah menangis dengan air mata yang terus mengalir.
Mungkin Ara memang sangat merindukan ku karena kami memang tak pernah berpisah selama tiga hari, ini adalah pertama kalinya kami berpisah. Meski hany tiga hari rapi rasanya memang sangat lama.
"Ara pengen bobok sama bunda dan ayah, boleh kan?"
Aku melirik ke arah bu Susan dan dia diam membiarkan aku memilih keputusan.
"Boleh dong, kenapa tidak. Yuk," ajakku.
"Beneran, Nay?" bu Susan yang terlihat ragu dia melongok ke dalam dan jelas dia akan melihat punggung pak Devan yang begitu tenang dan pasti bu Susan akan mengira kalau pak Devan sudah tidur.
"Iya, M_ma.." rasanya susah untuk menyebutnya mama tapi itu harus tetap aku lakukan.
"Baiklah, ini sudah malam dan istirahat lah. Kalau begitu mama kembali ke kamar," bu Susan segera pergi.
"Iya ma, terima kasih," segera aku masuk dan menutup pintu setelah bu Susan pergi. Menuntun Ara yang menunggu.
"Ayah sudah tidur ya, Bun?" Ara mendongak dan setelahnya melihat ke arah pak Devan.
"Sepertinya sudah. Sekarang Ara bobok ya," Ara naik ke kasur dan mengambil posisi di tengah-tengah antara kami.
"Ayah, Ara izin bobok bareng ya. Besok-besok tidak lagi deh," Ara miring ke arah pak Devan dan juga langsung memeluk lehernya juga menyembunyikan wajahnya.
Aku tersenyum melihat Ara yang langsung seperti itu aku pikir dia akan memeluk ku tapi malah ke pak Devan.
Tiba-tiba saja pak Devan membalas pelukannya meski tidak membuka mata, mungkin takut kalau sampai Ara akan bergerak dan tau kalau ternyata dia hanya pura-pura tidur.
Aku merebahkan diri juga dan miring ke arah mereka berdua yang terlihat begitu dekat. Tangan pak Devan ternyata juga meraih tangan ku dan dia genggam, dia baru membuka mata lalu tersenyum.
Alhamdulillah, aku pikir dia marah karena gagal lagi.
"Maaf," hanya satu kata yang mampu aku ucapkan.
"Hem," Pak Devan membalas dengan senyuman dan tangannya beralih mengelus pipi sebentar dan kembali lagi menggenggam tangan ku.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....