
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Kebahagiaan benar-benar telah aku dan juga Mas Devan rasakan ketika bisa melihat Ara tertidur dengan nyenyak di dalam dekapan kami berdua.
Kami tidak merasa keberatan sama sekali ketika dia meminta untuk tidur bersama di kamar kami, bahkan Kami merasa sangat bahagia karena bisa tidur bertiga. Mas Devan juga tidak keberatan sama sekali dia malah terlihat begitu sangat senang karena bisa bersama denganku juga Ara.
Rasanya begitu sempurna kebahagiaan kami, seandainya saja Ara tidak sedang mengalami hal yang begitu menyakitkan maka kebahagiaan kami benar-benarlah nyata. Tetapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi kehendak Tuhan yang harus kami berterima dengan lapang dada, dan kami harus berusaha supaya Ara bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala.
"Tidurlah, biar aku yang menjaga kalian," ucap Mas Devan dengan senyum yang begitu manis. Bukan hanya itu saja tetapi tangannya juga terulur untuk menyentuh tanganku yang memeluk Ara.
Sejenak aku terdiam, melihat dirinya yang terlihat belum mengantuk sama sekali. Matanya masih terlihat begitu bulat dan wajahnya masih begitu bersinar seolah tidak ada rasa lelah sama sekali.
"Apa Mas tidak mengantuk?" tanya aku dengan begitu lirih, aku sudah mengantuk sebenarnya tetapi melihat Mas Devan yang belum mengantuk membuat aku sangat enggan untuk menutup mata. Rasanya tidak tega meninggalkan dia terjaga sendiri Sementara aku tidur begitu saja.
Mas Devan yang sudah seharian bekerja bahkan juga mengurus kami berdua saja dia masih belum mengantuk sama sekali, bahkan berniat untuk menjaga kami berdua bagaimana mungkin aku akan tidur begitu saja. Aku tidak mungkin menikmati kenyamanan ini sementara dia sendiri selalu saja berkorban untuk kami.
"Tidurlah dulu, nanti aku juga akan tidur," tangannya beralih menuju ke keningku, bahkan mengelus pelan menggunakan jari telunjuknya seperti tengah menidurkan anak kecil.
"Tapi aku juga belum mengantuk," kataku berbohong, Kubuka mata lebar-lebar untuk meyakinkan Mas Devan bawa aku benar-benar belum merasakan ngantuk sama sekali.
Tapi tidak mudah membuat Mas Devan percaya, karena dia menggeleng karena tidak percaya dengan apa yang sudah aku katakan barusan.
"Ngantuk dan tidaknya kamu harus tetap tidur. Ini sudah malam dan kamu harus tidur. Ingat, ada nyawa yang membutuhkan istirahat juga yang ada di dalam perutmu. Kalau kamu tidak tidur bagaimana dia akan istirahat," rayunya. Aku pikir memang benar, tapi aku benar-benar tidak tega.
aku terdiam sejenak, menatapnya dengan begitu lekat dan membuat Mas Devan malah mengernyit karena tatapan mataku.
"Mas, jika suatu saat nanti anak kandungmu lahir apakah kamu akan tetap memperlakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan sekarang kepada Ara?" jelas aku juga sangat khawatir dengan hal itu, bukan hanya Ara saja tetapi aku juga.
"Apa kamu katakan ini sayang, sekarang, besok dan selamanya Ara tetaplah anakku. Anak yang ada dalam kandunganmu sekarang dia memang anakku, tetapi anak pertamaku adalah Ara, dan akan selalu seperti itu sampai aku tua nanti."
"Apa Mas yakin?" aku ingin benar-benar menegaskan kepada Mas Devan, aku tidak mau kalau sikapnya akan berubah setelah anak kandungnya lahir.
Mendengar aku yang masih belum percaya sepenuhnya, kini Mas Devan beralih duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Satu tangannya memeluk Ara dan satunya lagi dia gunakan untuk mengelus keningku dengan mata yang terus menata penuh keyakinan.
"Apa yang aku katakan akan selalu aku lakukan, Aku tidak akan mungkin menghianati apa yang sudah aku katakan. Percayalah, bahwa Ara dan juga anak yang masih ada dalam kandunganmu akan mendapatkan hak yang sama sebagai anakku."
Kata-kata Mas Devan begitu meyakinkan, dan kini membuat aku percaya kalau Mas Devan benar-benar sangat menyayangi Ara sampai kapanpun.
"Terima kasih, Mas. Dan... maaf, aku hanya terlalu khawatir."
"Aku tau, siapapun pasti akan berpikir hal yang seperti itu. Sekarang tidurlah."
"Hem, Mas juga jangan malam-malam tidurnya." Aku tersenyum, dan di balas dengan hal yang sama.
◌◌✧༺♥༻✧◌◌
Bersambung..