
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Semakin tak sabar untuk aku makan makanan berkuah yang baru saja di racik oleh penjual, melihatnya saja sudah membuat perut terus berbunyi.
Mulut sudah terus berkecamuk tak sabar menantikan makanan yang sangat segar ketika hangat.
Dudukku sudah tidak bisa diam karena ingin secepatnya mendapatkan makanan itu, tapi entah sampai kapan akan bisa selesai dan juga bisa aku nikmati.
Sus Neni yang melihat hanya terus tersenyum setiap kali aku menatapnya, mungkin dia berpikir sesuatu namun tak berani mengatakannya.
Kembali aku menoleh ke jalan raya, mobil mas Devan sama sekali belum terlihat. Katanya akan datang? Tapi sampai sekarang belum juga terlihat, benarkah dia akan datang atau hanya mengatakan seperti tadi supaya aku tidak membelinya? Mungkin.
Bibirku menarik senyum ketika penjual itu datang dengan mangkuk yang ada di tangannya, berjalan mendekat dengan perlahan karena tak mau sampai ada yang tumpah.
"Ini pesanannya, Mbak," katanya dengan begitu ramah. Perlahan dia menaruhnya di depan ku, pelan sekali.
"Terima kasih, Pak," Aku pun juga sama, menjawab dengan ramah dan berhiaskan senyum.
"Sama-sama, silahkan di nikmati semoga tidak mengecewakan rasanya." Ibu jarinya terulur mempersilahkan untuk mulai mencoba buatannya. Tak lama penjual itu kembali ke gerobaknya setelah aku membalasnya dengan mengangguk.
Asap masih mengepul penuh di atas mangkuk, kuah merahnya terlihat sangat nikmat begitu juga dengan bahan-bahan lain yang sudah ikut menyatu di dalamnya.
Sosis, telur juga irisan bakso ikut menyatu dan seolah berenang-renang di dalam kuat merah hangat tersebut, terlihat semakin menggugah selera di tambah dengan beberapa perlengkapan lain seperti sayur hijau juga kerupuk, pasti sungguh nikmat rasanya.
Makaroni juga tidak ketinggalan untuk memenuhi mangkuk itu, entah berapa jenis yang ada di satu wadah saja. Baunya sangat nikmat, masuk ke dalam hidungku dengan sangat pelan hingga membuat perut rasanya mulai di gelitik.
Seandainya perut ini bisa bicara, mungkin dia akan memaki karena tak sabar untuk bisa merasakan makanan yang ada di hadapan ku yang sangat di inginkan.
Tidak langsung menikmati, dengan iseng aku ambil ponsel lalu aku ambil satu kali saja jepretan dan aku dapat gambarnya. Kembali bibir mengulas senyum dengan niat untuk mengirimkan gambar itu pada mas Devan, semoga saja dia tidak ngamuk nantinya.
"Gimana, Mas. Melihat gambarnya sudah membuat lapar kan?" Aku tersenyum melihat gambar itu yang sudah berhasil terkirim ke nomornya.
Sekarang benar-benar sudah tidak sabar dan sudah siap untuk mengeksekusi seblak yang masih hangat ini. Sebelumnya kembali aku simpan ponsel di dalam tas.
"Uh, nikmatnya." Kembali aku menelan ludah sendiri ketika melihatnya, tangan sudah mulai berkerja, mencampur hingga benar-benar tercampur.
"Kita makan ya, Nak," Sejenak aku melihat perut sebelum benar-benar memakannya. Akhirnya, aku bisa makan juga tanpa di ganggu siapapun termasuk mas Devan.
"Eh!" pekik ku. Sendok yang sudah terisi dan juga sudah tepat di depan mulut tiba-tiba berbelok arah karena perbuatan tangan seseorang.
Reflek aku menoleh ke arah sendok kesasar itu dan ternyata sudah mendarat di mulut seseorang. Aku melotot, tentu sangat kesal. Baru saja senang tak ada pengganggu dan ternyata dia nongol di saat yang tidak tepat.
"Mas Devan!" Pekik ku. Main sambar aja tuh mas Devan.
Tapi seketika aku juga merasa sangat kasihan melihatnya. Mulut mas Devan menganga lebar dengan asap yang meletup-letup keluar, mas Devan kepanasan.
Ingin aku tertawa terpingkal melihatnya, tapi juga kasihan. Sungguh, lucu sekali wajahnya sekarang ini. Bukan hanya bibirnya saja yang menjadi merah tapi pipi juga matanya ikutan juga.
"Lah mas nggak nanya bagaimana aku bilang? Lagian mas juga main nyosor aja, siapa yang salah coba," ketusku.
"Lah, aku hanya ingin memastikan makanan ini aman atau tidak, enak atau tidak. Kalau bahaya bagaimana?" Kilahnya.
"Ya sudah, sekarang apa jawabannya?"
"Jawabannya? Panas!" jawab mas Devan dengan sewot. Mas Devan juga langsung duduk vid sebelah ku dengan wajahnya yang terlipat-lipat.
"Hahaha! Kan memang panas. Tuh lihat, asapnya aja masih kayak gini mas main sambar aja."
Kembali aku melihat seblak di hadapan ku, sudah tak sabar ingin segera menikmati hingga aku kembali mengangkat sendok yang sudah terisi lagi. Semoga saja tidak di ganggu lagi.
"Ehhh! Bentar-bentar, siapa yang izinin kamu makan?" Mas Devan mengambil sendoknya lagi dari tanganku. Nah kan tertunda lagi.
"Mas, nanti keburu dingin nggak enak," protes ku.
"Justru biar dingin dulu. Panas-panas gini main di makan kalau lidahnya melepuh bagaimana, nih lihat! Akk!" Mas Devan benar-benar menunjukkan lidahnya sendiri yang tadi kepanasan.
"Aku kan bisa pelan-pelan, Mas," jawabku. Semakin lama semakin kesal juga nih, padahal hanya tinggal makan aja lama bener.
"Sebentar Nayla sayang, biar dingin dulu," ucapnya dengan nada yang menurun.
"Dah lah, nggak mood lagi!" Aku bergegas beranjak untuk pergi, untuk apa juga tetap berada di sini kalau tidak boleh memakannya.
"Eh, jangan marah dong," Kembali aku duduk karena di tarik oleh mas Devan.
Semua mata melihat ke arah kamu, mereka juga tersenyum karena apa yang terjadi. Mungkin lucu kali ya untuk mereka, bahkan Sus Neni pun juga ikut tersenyum.
Lucu juga sih, seorang laki-laki tampan berjas rapi komplit dengan dasi juga semua pakaian mahalnya bisa nyasar di pinggir jalan seperti ini. Tidak dikatakan pun mereka sudah pasti tau kalau mas Devan orang kaya.
"Jangan marah ya. Hem, begini saja, biar mas suapin, mau?" ucapnya menawarkan.
"Kok nggak di jawab, berarti nggak mau ya? Hitungan sampai tiga nggak jawab berarti udah nggak boleh makan. Satu... dua... ti... "
"Akk!" mulut seketika terbuka lebar menghadap kearahnya. Mas Devan tersenyum laku mencubit pipi dengan gemas. "Mas!" protesku dan berusaha menghindar.
"Hahaha, iya maaf." Perlahan mas Devan menyuapi ku, memastikan lebih dulu agak dingin baru benar-benar memasukkan ke dalam mulutku.
Mata terus menatap wajahnya, sungguh pria idaman para kaum hawa dan sekarang pria idaman ini adalah suamiku.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...