
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Memang kamar kami adalah kamar yang sama, kamar yang kemarin sudah aku tempati sebelum hari pernikahan tiba. Tapi terlihat ada yang aneh, aku melihat di depan pintu saja sudah berbeda.
Kemarin yang hanya polos tanpa apapun sekarang ada aksesoris buatan yang berbentuk bunga-bunga. Ternyata pak Devan orangnya sangat romantis juga, aku pikir dia akan terus berwajah dingin juga sangat jutek.
Diam ku hanya terus di tanggapi dengan senyuman oleh pak Devan, setiap kali dia menoleh maka senyumnya yang selalu terlihat.
Perlahan pintu terbuka dan pak Devan semakin menarik ku untuk masuk dan melihat kamar kami yang entah seperti apa sekarang.
Kembali aku di buat terperangah, aku begitu terkagum-kagum dengan keadaan kamar yang sekarang. Kamar yang kemarin hanya biasa-biasa saja tapi sekarang terlihat sangat indah dengan perubahan warna baru yang lebih cerah.
Bukan hanya itu saja, banyak foto-foto pernikahan kami yang terpajang dan juga hanya di taruh di atas nakas atau di meja rias saja. Ya, meja rias itu sudah berganti sekarang.
Semuanya di ganti dengan warna baru dan juga dengan nuansa yang baru, sungguh indah tidak hanya seperti kemarin hanya hanya satu warna saja. Bahkan seperti tanpa warna.
"Pa_pak, ini?" aku seperti tak mampu untuk berkata-kata lagi, semua kata seakan tertelan karena melihat semua yang ada di kamar ini sekarang.
"Iya, inilah kamar kita sekarang. Kemarin itu masih kamar ku dan sekarang ini menjadi kamar kita."
"Aku ingin hal baru, dan juga hidup baru kita ini akan membawa kebaikan di setiap harinya, aku juga ingin kamar ini akan selalu menjadi saksi tumbuhnya cinta kita di dalam halal."
Pak Devan kembali menarik ku, menuntun hingga berhenti di depan meja rias dan berhenti tegak menghadap pantulan ku sendiri.
Pak Devan berdiri di belakang melihat pantulan kami dengan kebahagiaan yang belum juga luntur apalagi hilang.
Tangannya perlahan terangkat, aku tak tau apa yang ingin dia lakukan hingga akhirnya kedua tangan berasa di dia sisi yang berbeda.
"Ini untuk istriku, ibu dari anak-anakku."
Sebuah kalung yang sangat indah, ini adalah hadiah pertama dari pak Devan. Sangat indah hingga membuat aku terperangah.
"Pa_pak ini terlalu berlebihan. Nayla tidak terbiasa memakai barang-barang seperti ini, ini pasti sangat mahal kan? Seharusnya tidak usah."
Apa yang aku katakan hanya seperti angin lalu untuk pak Devan, dia sama sekali tidak menjawab tapi juga tidak marah. Tangannya hanya terus bergerak hingga kalung itu terpakai begitu sempurna di leherku dan menghiasinya.
"Kamu sangat cantik," hanya yang pak Devan katakan. Kedua tangannya beralih di kedua bahuku dan mengarahkan aku ke cermin.
Aku masih terus terpaku namun dengan rona merah di kedua pipi sekarang, aku sangat malu. Perlakuan ini sangat lembut sekali hingga membuat ku tak mampu berkata-kata.
"Mau di pakai atau tidak tak masalah, yang terpenting aku berikan ini untuk mu. Kamu bebas memakainya kapanpun juga."
"Kalau kamu malu, kamu boleh menyimpannya. Pakai ini ataupun tidak kamu tetap cantik," pujinya. Semakin membuat aku melayang tinggi sekarang.
Perlahan wajahnya mendekat ke pipi ku, memberikan tiupan lembut dan membuat aku merinding di buatnya. Mataku jelas seketika tertutup dengan jantung yang mulai berdetak, apalagi mulai merasakan bibirnya menyapa pipi.
Sejenak hanya pipi namun tak lama aku merasakan hembusan itu perlahan berpindah di atas bahu dan dinginnya sangat terasa.
Ada yang merambat naik hingga ke puncak kepalaku bersama dengan darah, aneh tapi sangat mendebarkan.
Cup...
Mataku terbelalak merasakan pak Devan melakukan sesuatu di leher ku, pastilah dia membuat tanda lagi di sana.
"Eh, maaf kelepasan," katanya dengan cengengesan dan menghapus bibirnya sendiri yang basah.
Bukan apa-apa dan juga bukan masalah besar jika tidak di ketahui oleh Ara, tapi kalau sampai Ara tau? Bisa malu aku karena akan membuat semua orang tersenyum nantinya.
Pak Devan yang tau dengan itu kembali menutup leher ku dengan baju dan akhirnya tidak akan terlihat cap merah itu.
"Ti_tidak apa-apa," entah apa yang membuat ku menjawab dengan kata ini.
"Kalau tidak apa-apa berarti boleh buat di tempat yang satunya lagi dong?"
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Ternyata semua juga sudah di siapkan, makan malam kami juga sudah ada dan berjajar rapi di atas meja.
Pak Devan duduk di kursi yang hanya ada satu itu saja di sisi meja yang berbentuk persegi panjang berwarna hitam ini, sementara aku di sebelahnya dan Ara beras di sebelah yang lain. Kalau di lihat dari sisi satunya lagi jelas terlihat pak Devan seperti berada di tengah-tengah.
"Makan yang banyak ya, Sayang. Biar boboknya bisa nyenyak," katanya yang begitu memperhatikan Ara yang makan sendiri.
"Iya, Ayah."
"Bunda juga harus makan yang banyak, bahkan bunda harus makan double mulai sekarang. Karena bunda juga harus memberikan makan dedek," kali ini pak Devan menoleh ke arahku.
Dia tersenyum meski dengan tangan yang bergerak menyendok makan yang ada di piringnya.
"Akk!" tiba-tiba saja sendok itu tertuju ke mulut ku yang baru mengunyah.
"Makan di suapi sama suami pasti lebih enak, ak!!" katanya lagi.
Tak mau membuat dia kecewa aku menerima suapannya. Memang lebih enak sih makan di suapi juga lebih irit menggerakkan tangan juga sih.
Bukan hanya sekali saja pak Devan melakukannya tapi berulang kali bahkan makannya sampai mau habis dan aku yang habiskan.
"Cukup, Pak. Saya sudah kenyang," tolak ku saat pak Devan akan menyuapi lagi.
"Satu lagi, akk!" kekeuhnya.
"Ta_tapi..." tetap saja aku tak bisa menolak dan ternyata benar hanya satu kali saja dan itu adalah yang terakhir.
Aku pikir makan yang ada di hadapan ku akan di buang tapi ternyata pak Devan mengambilnya dan mulai memakannya sendiri. Jadi kayak tukeran ya, hanya saja aku tidak menyuapi pak Devan.
"Ayah, apakah Ara bisa sekolah lagi?"
Pak Devan menghentikan makannya karena mendengar penuturan dari Ara. Ya! Aku_pun juga ingin menanyakan hal ini karena Ara memang sudah harus sekolah.
"Tentu, Ara akan sekolah lagi besok. Besok biar ayah dan bunda yang antar Ara ke sekolah, oke?"
"Terima kasih Ayah!" begitu bahagianya Ara sampai dia turun dari kursi lalu menghampiri pak Devan dan memeluknya. Bukan hanya memeluk saja bahkan Ara sampai menciumnya juga.
"Sama-sama sayang. Sekarang Ara minum air putih dulu lalu bergegas untuk tidur. Oh iya, jangan lupa sikat gigi dan juga bersih-bersih dulu ya sebelum tidur."
Ternyata pak Devan benar-benar memperhatikan Ara dia juga sudah muka hafal dengan kebiasaan Ara yang sudah aku ajarkan sejak lama. Pak Devan hanya meneruskan saja dan mengingatkan.
"Iya, Ayah." kembali Ara mencium pak Devan sekali lagi lalu berlari ke arah ku dan berganti memeluk juga mencium ku sama.
"Bunda, Ara bobok dulu ya. Berjumpa lagi besok."
"Iya, Sayang. Jangan lupa berdoa ya," kataku. Aku juga langsung membalas dengan memberikan kecupan pada kening dan juga kedua pipinya.
"Ayo, Sus," segera Ara menghampiri Sus Neni yang selalu stay di dekatnya, meraih tangan dan juga menuntunnya.
Berapa beruntungnya Ara sekarang ini, dia mendapatkan semua dari pak Devan.
"Terima kasih, Ma_mas..." kataku.
Pak Devan yang masih melihat kepergian Ara menoleh dengan cepat, mungkin karena mendengar aku memanggilnya mas untuk yang pertama kalinya. Bahkan tanpa dia minta.
Pak Devan tersenyum, jelas dia sangat senang. "Sama-sama."
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....