
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Malam semakin larut dan Ara sudah tertidur di kamarnya sendiri setelah aku bacakan dongeng juga aku nyanyikan lagu Nina bobo kesukaannya.
Aku keluar dari kamarnya dan segera menghampiri Mbok Darmi yang masih aku minta untuk menunggu untuk jangan pulang terlebih dulu karena aku masih ingin bicara dengannya.
Kulihat Mbok Darmi masih sibuk di dapur mencuci piring kotor yang kami gunakan untuk makan malam tadi.
"Mbok," ku panggil dengan lirih supaya tidak membangunkan Ara yang baru saja tertidur.
"Iya Bu," seketika Mbok Darmi mendekatiku yang sudah duduk di ruang tengah. Beliau juga langsung duduk di hadapanku dengan rasa penasaran.
"Mbok, katakan dengan jujur sebenarnya apa yang terjadi pada Ara, dia tidak biasanya seperti tadi aku yakin ada yang dia sembunyikan dariku dan Mbok Darmi pasti tahu, Iya kan mbok?" dan perubahan Ara itulah yang membuat aku penasaran dan menahan mbok Darmi ketika ingin pulang.
"Ibu benar, sebenarnya Neng Ara merasa sangat sedih dia begitu merindukan ayahnya, Neng Ara hanya ingin membuktikan kepada teman-temannya bahwa dia memiliki ayah."
"Neng Ara selalu dibully ketika bermain dengan teman-temannya. Mereka mengatakan kalau Neng Ara tidak memiliki ayah bahkan ada yang mengatakan kalau Neng Ara adalah anak yang dibuang juga ada yang mengatakan Neng Ara adalah anak haram."
"Maaf loh bu bukan niat saya untuk membuat Ibu sedih tetapi itulah yang dikatakan oleh Neng Ara pada saya." aku tahu Mbok Darmi sangat jujur dia akan selalu mengatakan apapun yang dia ketahui. Tidak ada yang dikurang juga tidak ada yang ditambah aku sudah sangat percaya kepadanya.
"Lalu apa yang ingin Ara lakukan untuk membuktikan semua itu kepada teman-temannya?"
"Neng Ara mencari foto ayahnya di kamar ibu, tetapi dia tidak menemukannya dan karena itulah dia terus menangis sepanjang hari. Dia merasa bahwa apa yang dikatakan oleh teman-temannya itu adalah benar dan itulah yang membuat dia sedih."
Ku menghela nafas panjang dan aku keluarkan begitu perlahan. Nafasku terasa sesak begitu tercekat di tenggorokan dan terasa sangat susah sampai ke paru-paru.
Kenapa harus Ara yang mendapatkan hinaan, Kenapa bukan aku. Seketika air mataku lolos selalu saja apa yang dirasakan Ara akan lebih besar pengaruhnya di dalam hatiku.
"Apakah masih ada yang lain?" tanyaku lagi dengan mencoba sekuat tenaga untuk menahan air mata supaya tidak terjatuh.
"Hanya itu saja Bu tidak ada yang lain." jawab Mbok Darmi.
"Sekarang Mbok Darmi boleh pulang, terima kasih sudah terus menjaga Ara." Mbok Darmi adalah salah satu orang yang paling berjasa karena selalu membantuku menjaga Ara meski dia hanya bekerja tetapi dia benar-benar mengabdikan dirinya dengan benar dan selalu mengerjakan semuanya dengan hati yang tulus.
Aku beranjak setelah Mbok Darmi juga pulang bergegas ke kamar Ara dan memutuskan untuk malam ini aku akan tidur bersamanya memeluknya erat dan membuatnya merasa diperhatikan.
'Kamu tidak sendirian nak ada Bunda yang akan selalu bersamamu. Kita akan terus bersama-sama meski tanpa Ayah.' batinku setelah sampai di kamar arah.
Perlahan merebahkan lagi tubuhku di sebelah Ara kupeluk tubuh kecilnya dan kembali ku kecup pipi dan puncak kepalanya Ara merasa sedikit terganggu dan menggeliat namun itu tidak membangunkannya hanya membuat dia mengubah posisi dari terlentang menjadi miring ke arahku.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Ara selalu saja memakan apa yang sudah aku siapkan, jarang dia akan meminta ini itu.
"Nasi goreng bunda selalu paling enak," ucapnya padahal mulutnya masih penuh dan juga sembari menguyah dan itu menjadikan suaranya tidak jelas.
"Makan dulu Sayang. Kalau sudah selesai baru bicara," jawabku. Tangan ku terangkat dan membersihkan bibir yang sedikit belepotan akan nasi. Begitu menggemaskan sekali si Ara bagaimana mungkin aku akan betah lama-lama pergi, makanya waktu masih bekerja dengan pak Abra aku selalu menolak jika untuk di ajak keluar kota apalagi untuk bermalam.
Dengan berbagai alasan pasti aku katakan semua itu demi bisa selalu bersama dengan Ara. Semoga saja dengan bos baru yang sekarang ini tidak akan ada pemaksaan.
"Bunda, bunda nanti pulangnya seperti kemarin kan?" tanyanya lagi. Padahal sudah aku peringatkan untuk makan lebih dulu. Tapi ya itulah namanya anak-anak.
"Bunda usahakan. Emangnya kenapa?"
"Bunda, kemarin Susanti jalan-jalan ke taman kota. Kira-kira Ara bisa lihat taman Kota juga nggak?" suaranya terdengar berharap. Sepertinya Ara sangat ingin pergi ke sana.
"Hem..., boleh. Bagaimana kalau hari minggu?"
"Hari minggu, masih lama ya, Bunda. Apa nggak bisa nanti setelah bunda pulang bekerja?"
"Hem, doakan Bunda pulang lebih awal nanti kita pergi. Oke," aku tersenyum dengan tangan mengelus pipinya.
Seketika Ara tersenyum, dia sangat senang meski semua belum pasti. Bisa jadi aku pulang terlambat kan? tapi semoga saja tidak.
Ingin sekali sekecil apapun keinginannya aku penuhi tapi kalau memang belum bisa karena terhambat waktu mau bagaimana lagi?
'Maaf ya, Nak.'
"Beneran ya, Bun. Nanti kita ke taman kota," Ara semakin antusias.
Entah apa yang ingin dia lihat di sana tapi semoga keinginannya busa aku kabulkan.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung.....