
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Beberapa hari aku memang tidak berangkat bekerja semua ini karena kejadian kemarin yang telah membuatku merasa sangat takut untuk datang bekerja apalagi untuk bertemu dengan Pak Devan rasanya masih sama marah.
Meski seperti itu tetapi Pak Devan tetap setiap hari datang ke rumah dan seperti biasa dia akan selalu membujukku untuk kembali bekerja dan yang paling penting dia terus meminta maaf dan merasa sangat menyesal.
Sementara Mika Dia juga sering datang sekedar ingin tahu apa yang terjadi kepadaku karena tidak pernah berangkat bekerja. Dia begitu penasaran dengan apa yang aku alami karena untuk masalah yang satu ini aku benar-benar menutup rapat dan tidak mengatakan kepada Mika.
Setiap hari aku hanya menghabiskan waktu dengan Ara. Bersenang-senang dengannya supaya bisa melupakan semua yang telah terjadi meski hanya dalam sejenak tapi setidaknya sempat terlupa dan aku bisa tersenyum.
Ara juga terlihat begitu senang karena aku terus berada di rumah dia selalu mengatakan merasa bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama denganku dan juga bisa belajar hal-hal baru yang belum pernah kami lakukan.
Kami benar-benar memanfaatkan waktu bersama untuk mewujudkan kebahagiaan kami. Meski tidak sempurna tetapi rasanya begitu menyempurnakan untuk hidupkan kami.
Hanya berdua saja bukan berarti kami tidak bahagia kami sangat bahagia meski tidak ada suami yang menjadi sosok pendamping dan juga pelindungku. Tidak ada yang menjadi sosok seorang ayah untuk Ara yang akan selalu bermain dengannya, memberikan kasih sayang yang melimpah dan juga menuruti apa yang menjadi keinginannya. Tetapi kami tetap bahagia meski tidak ada sosok itu.
Meski mulut mengatakan kami tidak membutuhkan seseorang yang akan menjadi kepala rumah tangga di rumah ini tetapi hati sangat menginginkan. Bohong kalau kita tidak menginginkan, karena seburuk apapun nasib seseorang pastilah menginginkan hal itu meski terkadang hanya berhenti di dunia khayal juga di dalam dunia mimpi.
Tapi tidak salah kan jika memiliki sebuah mimpi bahkan berkhayal? Semua orang bebas memiliki dua hal tersebut dalam hidup meski apa yang akan terjadi tidak akan sesuai dengan apa yang ada dalam mimpi dan di dalam dunia khayal.
Keadaan rumah semuanya sudah bersih karena kami membersihkan bersama-sama tentu dengan dibantu oleh Mbok Darmi. Kali ini aku duduk sendiri di ruang tengah sementara Ara berada di luar dan bermain bersama teman-teman setelah selesai membantu, sementara Mbok Darmi ada di dapur untuk menyiapkan makan siang untuk kami semua.
Setelah kejadian kemarin aku menjadi begitu pemalas dan sering berdiam diri di satu tempat memeluk kedua kaki dan melamun tanpa memikirkan apa yang lebih baik dilakukan daripada melamun seperti ini.
"Tidak! Ara punya ayah!"
Aku terperanjat ketika mendengar suara teriakan dari Ara yang berada di luar. Suara teriakan juga suara tawa dari teman-temannya membuat aku ingin cepat berlari keluar dan melihat apa yang terjadi.
Tetapi belum juga aku berjalan Ara sudah masuk dengan menangis dan kembali pada teriak.
"Tidak! Ara punya ayah!" kata-katanya kembali mengulang yang tadi.
"Sayang, ada apa?" aku juga berlari untuk menghampiri Ara yang juga berlari ke arahku. Kini dia berhenti setelah aku juga berhenti di hadapannya dan berjongkok sembari meminta dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.
"Sayang, ada apa?" tanyaku lagi.
Ara terus menangis sampai dia sesuenggukan dan seperti begitu susah untuk bicara. Sebenarnya ada apa lagi ini? Satu masalah belum selesai dan kini satu masalah lagi datang.
"Bunda, teman-teman mengejek Ara lagi, kata mereka Ara tidak punya ayah. Itu tidak benar kan Bunda?"
Kemarin aku hanya mendengar cerita ini dari Mbok Darmi saja sementara sekarang aku benar-benar mendengar sendiri, menyaksikan sendiri bagaimana hancurnya hati Ara ketika teman-temannya terus mengejeknya yang tidak memiliki seorang ayah.
"Ayo bunda, katakan kepada mereka semua kalau Ara punya ayah."
Dengan semangat Ara menarik tanganku dan mengajaknya keluar untuk mengatakan semua kepada teman-temannya bahwa dia memiliki ayah. Aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana kalau mereka menanyakan keberadaan ayahnya yang sama sekali tidak aku ketahui dan aku juga tidak ingin mengetahuinya.
"Ayo bunda," kembali Ara menarik tanganku semakin kuat lagi hingga membuatku tidak bisa melihat dan dengan terpaksa mengikutinya.
Bagaimanapun keadaannya sekarang aku harus mengatakan kalau Ara memiliki ayah, kalau tidak mereka pasti akan terus mengejeknya seperti ini.
"Huu... Katanya punya ayah tapi nyatanya tidak pernah pulang kan? Paling kamu hanya di bohongin saja, Ra!"
"Ayo dong, katakan di mana ayahnya! Dia benar tidak punya ayah kan? Kamu hanya berbohong kan?"
Laki-laki yang usianya mungkin baru menginjak sepuluh tahun itu begitu berani bahkan dia tidak takut menjadi provokator dari anak-anak kecil yang usianya di bawahnya.
Entah anak siapa itu sampai begitu tega mengatakan hal itu kepadaku dan Ara. Apakah kedua orang tuanya sama sekali tidak mengajarkan tata krama atau sopan santun yang baik sehingga dia bisa mengatakan hal yang tidak sepantasnya dia katakan di usianya yang sekarang?
"Huu... Dasar pembohong!"
"Tidak ada yang pembohong di sini!" kami semua menoleh ke arah sumber suara dan ternyata melihat Pak Devan yang keluar dari dalam mobil dan bergegas mendekati kami semua.
Mataku terus melihatnya hingga akhirnya dia berhenti di sebelah Ara dan langsung mengangkat tubuh kecil Ara.
"Akulah ayahnya. Ara adalah anakku dan sekarang aku telah kembali dan kami tidak akan bisa tinggal di sini lagi. Aku ayahnya akan membawa dia pulang ke rumah yang sebenarnya."
Seketika mataku melotot mendengar Pak Devan akan membawa kami pulang ke rumahnya. Bagaimana mungkin?
Pria kecil sepuluh tahun tadi langsung terdiam dan tidak berani mengatakan apapun lagi dan itu jelas membuat yang lain juga berdiam.
"Ayo sayang, kita bersiap untuk pulang ke rumah Ayah. Kita tidak pantas tinggal di sini lagi," Pak Devan langsung membalikkan badan dan melangkah masuk ke rumah.
Aku yang masih syok dengan ucapan Pak Devan langsung mengikuti langkahnya.
"Kita beneran akan pindah, Yah!" Ara begitu antusias mengatakan hal itu. Wajahnya begitu bahagia dengan mata melihat ke wajah Pak Devan yang juga sedang sumringah.
"Iya, Ara akan pindah di rumah Ayah Om yang sangat besar dan sangat indah. Ara pasti akan sangat senang dan juga akan betah tinggal di rumah Ayah Om."
"Sekarang Ara pergi ke kamar dan bereskan semua barang-barang kesukaan Ara, tidak usah dibawa semua karena Ayah Om sudah menyiapkan semua kebutuhan Ara di rumah Ayah. Nanti Ayah bantu tapi untuk saat ini ayah Om ingin bicara dulu sama Bunda oke."
"Oke, Ayah."
Ara sedikit meronta untuk turun dari gendongan Pak Devan dan setelah diturunkan dia langsung berlari masuk ke dalam kamar dengan begitu senang.
"Apa-apaan ini, Pak?!" Aku langsung mencerca dengan pertanyaan pada pak Devan tapi pria itu malah meringis begitu saja seolah tak punya dosa.
"Sudah, jangan banyak bertanya. Bukankah dari kemarin aku selalu mengatakan ingin menebus semua kesalahan ku? Dan semua itu akan aku mulai dari hari ini."
"Lebih baik sekarang kamu juga bersiap seperti Ara. Secepatnya kita pindah."
"Tidak, saya tidak mau!" aku begitu kekeuh menolak.
"Mau tidak mau kamu harus mau. Aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun." dengan santainya pak Devan malah masuk ke kamar ku, entah apa yang akan dia lakukan.
"Pak! Apa yang akan bapak lakukan!" Aku berlari mengikutinya, tentu tidak akan membiarkan dia melakukan apa yang menjadi kehendaknya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...