
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Ternyata pernikahan akan dilangsungkan salah satu hotel ternama di kota. Kami semua datang dengan pakaian yang biasa sementara yang akan dikenakan untuk pernikahan sudah disiapkan di hotel dan juga semua keperluannya.
Bukan hanya aku dan juga Pak Devan saja tetapi semua seisi rumah beserta pelayan dan juga penjaga semuanya datang untuk menjadi saksi dan mengikuti acara pesta yang akan dilangsungkan.
Ara terlihat sangat bahagia ketika masuk di hotel dengan menggandeng tanganku dan juga tangan Pak Devan dan arah tepat berada di tengah-tengah kami berdua.
Senyumnya begitu merekah indah dengan sesekali menoleh ke arahku dan juga ke arah Pak Devan dengan terus bergantian. Bahkan sesekali dia akan bertanya atau bahkan bersenandung dengan lagu anak-anak yang tadi diputar oleh Pak Devan di dalam mobil.
'Bunda akan selalu bahagia jika kamu bahagia, Nak. Kebahagiaan kamu akan bunda perjuangkan meski dengan cara apapun.' batinku.
Sebenarnya Pak Devan ingin menggendong Ara supaya lebih cepat dan juga dia tidak kecapean tetapi anak kecil itu sama sekali tidak mau dan lebih memilih jalan kaki. Menikmati kebersamaan yang sangat membahagiakan ini dan akan menjadi sejarah baru di kehidupan kami.
Kami terus melangkah menuju ke arah yang ditunjukkan oleh pelayan hotel yang berjalan di depan kami semua. Meski begitu jauh tetapi Ara sama sekali tidak mengeluh bahkan dia terus berbinar.
Hingga akhirnya kami sampai di salah satu kamar yang sudah disiapkan. Pelayan itu membukakan pintunya dan memintaku untuk masuk ke dalam sementara Pak Devan ditunjukkan kamar yang berada di sebelahnya.
Di sinilah berpisah, begitu juga dengan Ara yang pergi bersama para pelayan ke kamar yang ada di depan kamarku.
Semua benar-benar telah dipersiapkan dengan matang dan juga dengan baik oleh pak Devan. Sepertinya dia sangat menginginkan acara ini akan sangat mewah dan tentunya supaya menjadi kenangan indah untuk kami bersama.
Aku dibuat tercengang setelah melihat keadaan kamar di mana Aku masuk. Semua pakaian yang akan aku pakai sudah tersedia bahkan semua perlengkapan make up juga sudah ada di sana begitu juga dengan dua orang perempuan yang dulu mendadani_ku saat melakukan foto prewed sekarang juga ada di sini.
Mereka berdua begitu menyambut baik akan kedatanganku, bahkan mereka mendekat dan menuntunku dan langsung meminta aku duduk di depan meja rias.
"Kita mulai ya, Nyonya," ucapannya begitu sopan kepada ku dan juga tangan mulai bergerak setelah aku menjawab dengan mengangguk pelan.
Jantungku rasanya terus berdebar begitu cepat ketika tangan-tangan ahli itu mulai menyentuh wajahku. Pelan-pelan mengoleskan alat-alat make up yang tepat di depan mataku.
Tidak pernah bermimpi akan bisa menikah dengan seorang pria yang kaya raya dan memiliki jabatan tinggi di perusahaan besar bahkan dia sendiri yang akan menjadi pewaris dari perusahaan tersebut.
Apakah ini yang dinamakan memetik buah kesabaran?
Hatiku sakit ketika dikhianati oleh laki-laki yang sangat aku cintai. Sakitnya begitu besar hingga rasanya susah untuk bisa diobati, tetapi Alhamdulillah Tuhan memiliki cara lain untuk bisa mengobati sakit hati dari hamba-Nya.
Laki-laki lain yang lebih sempurna ternyata sudah disiapkan dan dijadikan sebagai pengganti dari laki-laki yang tidak baik bahkan tidak bertanggung jawab sama sekali.
Mungkin saatnya aku harus bersyukur dengan semua nikmat yang telah aku dapatkan saat ini. Tidak ada yang lebih baik dari ini, laki-laki yang baik, bertanggung jawab, begitu penyayang dan juga sukses ada di depan mata dan sebentar lagi akan benar-benar menjadi pelengkap hidup yang sebelumnya tidak lengkap.
'Alhamdulillah,' batinku. Meski dalam hati sama sekali belum ada cinta tapi rasa syukur harus tetap ada. Cinta memang belum bisa datang tetapi yakin seiring berjalannya waktu cinta itu akan datang sendiri, aku sangat yakin itu.
Make up natural dan juga rambut yang dijadikan sanggul juga seluruh hiasannya sudah tertempel dengan kuat, menambah kesan akan sempurnanya penampilanku saat ini.
Tidak sampai waktu satu jam riasan sudah selesai dan hanya tinggal baju saja yang perlu diganti dengan kebaya berwarna putih dan juga kain batik sebagai bawahan.
Hatiku semakin kuat bergetar ketika salah satu dari privasi itu mengambil baju tersebut dan memintaku untuk menggantinya. Tanganku rasanya panas dingin meski sekedar untuk menerima kebaya tersebut, ini benar-benar sangat luar biasa.
Aku masuk di ruangan ganti dengan membawa kebaya tersebut dan bergegas untuk menggantinya karena acara pernikahan akan segera dilaksanakan sebentar lagi.
Tak berapa lama aku kembali keluar tentu sudah siap dengan kebaya yang kemarin aku pilih sendiri, langkahku terasa berat kaki terasa kaku untuk digerakkan. Perasaanku sungguh campur aduk tidak karuan.
Kenapa perasaannya sampai seperti ini?
"Pelan-pelan, Nyonya." Kedua perias itu langsung menghampiriku setelah melihat langkah begitu ragu dan pelan.
Mereka juga tersenyum dengan mata melihat dari atas sampai bawah dan kembali lagi ke atas.
"Nyonya cantik sekali, Tuan Devan sangat beruntung menikah dengan Nyonya." pujinya.
Bibirku rasanya begitu kaku untuk bergerak meski hanya untuk tersenyum apalagi untuk menjawab ucapan dari mereka.
Ya Tuhan, apakah ini yang dirasakan ketika kita akan menikah dengan orang yang benar-benar menjadi jodoh kita?
Nyatanya aku tidak merasakan hal yang seperti ini ketika menikah dengan Mas Aditya dulu, rasanya sungguh jauh berbeda.
Semoga saja benar bahwa Pak Devan adalah jodohku yang terakhir kali dan Allah ciptakan untukku.
Setelah itu kembali aku disuruh duduk di tepi ranjang sementara mereka membereskan semua peralatan yang tadi mereka gunakan.
"Nyonya, nyonya tunggu saja di sini. Nanti pasti akan ada orang yang menjemput Nyonya." Katanya.
"Hem," Akhirnya aku bisa menjawab dan bisa mengendalikan diri dengan baik.
Kedua perias itu keluar dari tempat ini entah mau kemana tetapi mereka tidak membawa semua perlengkapannya.
Apakah mungkin akan ada acara lagi setelah acara akad, contohnya pesta resepsi mungkin? Buktinya semua baju juga masih di tinggal.
Aku rasa, hari ini akan sangat melelahkan. Dulu saja ketika menikah dengan mas Aditya dan tidak banyak acara tetap rasanya sangat lelah, bagaimana sekarang?
Eits...
Kenapa malah mengingat-ingat masa lalu?
Jangan menoleh ke belakang lagi, Nay. Supaya bisa mewujudkan masa depan yang indah dan sempurna. Dan jangan pernah banding-bandingkan antara yang dulu dan sekarang karena jelas tidak akan pernah sama.
Benar begitu kan?
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...