Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Tak bisa melakukan apapun



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Mataku perlahan terbuka, aku merasa ada sebuah kain yang melekat di atas kening ku.


Ketika aku ingin mengambilnya untuk sekedar memastikan tiba-tiba sebuah tangan menghentikan pergerakan dari tangan.


"Jangan di ambil, biarkan seperti ini dulu. Kamu demam dan harus di kompres," katanya.


Sembari menoleh aku mencerna akan suara yang aku dengar barusan. Sepertinya bukan suara yang asing aku sangat mengenalnya. Tapi aku tak mau memutuskan lebih dulu sebelum benar-benar melihat dengan benar siapa dia.


"Apa yang kamu lakukan di sini!" seketika aku mundur dan menjauh dari hadapannya. Ternyata benar, dia adalah orang yang sangat aku kenal, dia pak Devan yang sudah mendapatkan daftar hitam di dalam hidupku.


"Emang apa lagi yang aku lakukan, aku hanya ingin merawat mu saja. Lihatlah semua luka yang ad di tubuhmu, seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini. Ini tidak baik untuk mu, Nay," katanya yang berusaha sok manis.


Aku semakin menjauh saat tangannya terulur aku sudah salah paham aku pikir dia akan menyentuh ku dan ternyata dia hanya mengambil kain yang dia gunakan untuk mengompresk_ku yang sudah terjatuh di kasur dan aku abaikan.


"Lebih baik Pak Devan pergi dari sini, saya tidak mau melihat bapak lagi. Aku benci sama bapak, aku benci!"


Suaraku melengking tinggi untuk mengusir pak Devan dari hadapan ku. Begitu besar kebencian ini hingga aku tak sanggup untuk melihat wajahnya meski dia sangat tampan.


"Oh iya Nay, aku sudah buatkan kamu bubur nih. Cobalah, kamu pasti akan sangat menyukainya. Gini-gini aku juga jago masak loh," dengan bangga dia memperlihatkan mangkok yang penuh dengan bubur.


Tangannya juga bergerak untuk menyendok dan sepertinya mau menyuapi ku tapi aku tak akan sudi menerimanya.


Apapun yang menyangkut akan dirinya tidak bakal aku terima.


"Pergi! saya tidak butuh apapun dari laki-laki seperti mu, pergi!"


Tetap tak peduli meski dia sudah berusaha untuk menyuapi ku, aku tepis sendok yang sudah dekat tapi dia begitu pintar dan menjauhkan dari tangan ku.


"Setidaknya baru coba dulu lah, Nay." katanya lagi. Berusaha untuk membujuk ku untuk menerima, tapi aku mah ogah


"Aku tidak sudi menerima apapun dari mu, pergi!!"


Prankk...


Akhirnya tangan ku berhasil menyingkirkan sendok dari hadapan ku. Sendok itu terbang jauh dan tepat di depan pintu.


Mataku melotot melihatnya tapi pak Devan terus berusaha bersabar. Dia tidak terpancing dengan semua perbuatan juga kata-kataku yang kasar dia tetap sabar dan terus bicara dengan lembut.


"Bunda, kenapa bunda marah-marah sama ayah om?"


Seketika wajah menoleh begitu juga dengan pak Devan. Tidak menyangka kalau ternyata Ara sudah kembali dan kini harus melihat apa yang aku lakukan.


"Bunda kan sering bilang untuk tidak marah-marah pada siapapun. Kata bunda Ara juga harus selalu memaafkan teman-teman Ara yang nakal. Jadi kalau ayah om nakal Bunda juga harus memaafkannya kan?"


Aku terdiam, aku kena sendiri dengan semua kata-kata yang selalu aku katakan kepada Ara. Mungkin kalau kenakalan anak-anak seusia Ara bisa di maafkan karena kenakalannya juga hanya kenakalan anak kecil yang akan mudah untuk hilang, tapi kenakalan pak Devan?


Air mata yang sudah keluar sejak tadi aku hapus hingga benar-benar kering. Aku sambut kedatangan Ara yang akhirnya naik ke ranjang dan duduk di sebelah ku.


"Bunda, jangan marah-marah lagi ya sama ayah om. Kalau bunda marah-marah terus nanti bunda sakit loh. Kata bunda kalau orang marah-marah juga cepat tua, nanti wajah bunda keriput loh," kata dari bibir mungil hanya begitu menggemaskan itu.


Bagaimana mungkin aku akan tahan untuk tidak tersenyum jika ada Ara yang selalu menghiburku seperti ini.


Ara meraih tangan Pak Devan dan juga tanganku, menyatukannya seperti kamu tengah bersalaman.


"Nah, sekarang bunda dan ayah om sudah saling memaafkan. Kalian berdua sudah kembali menjadi teman."


Begitu bahagia Ara saat melihat tangan kamu menyatu.


Pak Devan tersenyum karena perbuatan Ara yang mungkin sesuai dengan keinginannya dan juga merasa di bela oleh Ara, tapi aku? aku masih tetap tidak menyukai ini.


"Ayah om, sekarang suapi bunda lagi ya. Nanti kalau bunda nggak mau nanti Ara yang jewer. Kalau bunda tidak mau berarti bunda yang nakal," ucapnya dan tersenyum ke arah pak Devan.


Ya Allah, apakah tidak menyesal mas Aditya jika mengetahui dia punya anak yang begitu pintar seperti ini. Dia sangat lucu, baik, menggemaskan dan yang jelas sangat pintar. Dia benar menjadi pelita hatiku. Yang akan selalu menjadi penerang di saat kegelapan datang di kehidupan ku.


"Ayah om tunggu sini dulu ya. Ara ambilkan sendok baru," Ara kembali turun dari ranjang dengan cara mundur. Sungguh menggemaskan sekali.


"Hem," pak Devan mengangguk ragu.


Apa yang dia ragukan? apakah dia takut aku tolak lagi?


"Jangan besar kepala dan merasa menang karena apa yang Ara lakukan. Sampai kapanpun saya tidak akan memaafkan bapak."


"Aku mengerti, kesalahan ku sangat besar dan akan sangat susah untuk di maafkan. Tapi jika bisa maafkan aku, dan izinkan aku menebus semua kesalahan ku. Aku akan bertanggung jawab dengan semua yang sudah aku lakukan padamu."


Wajahnya begitu mengisyaratkan penuh dengan penyesalan dia juga menunduk tak berani memandang wajahku. Berarti dia benar-benar merasa sangat menyesal dengan semua perbuatannya. Tapi benarkah orang angkuh seperti dia punya rasa menyesal?


"Hem, tanggung jawab? Laki-laki seperti kalian semuanya sama saja. hanya bisa menyakiti perempuan sesuka hati."


"Beneran Nay. Saya akan bertanggung jawab. coba katakan apa yang bisa bisa lakukan? saya janji akan menanggung semuanya."


"Saya tidak butuh!"


"saya... "


"Bunda, Ayah om ini sendok barunya."


Kedatangan Ara kembali membuat kami berdua diam, rasanya sangat ingin mengusirnya tapi tidak karena Ara pasti tidak akan membiarkan itu, dia juga akan sedih nantinya.


Di mata Ara pak Devan adalah laki-laki yang sempurna. Tampan, kaya, mempesona dan tentunya juga sangat cerdas. Pak Devan juga sangat baik di mata Ara.


Sesuatu yang tidak di dapatkan dari ayah kandung di dapat dari pak Devan.


Sebenarnya dia sangat baik dia bisa menjadi sosok ayah yang sempurna untuk Ara atau untuk anak siapapun dan di manapun, tapi mengingat kelakuannya yang lain?


"Ayah om, ayo suapi bunda lagi. Biar Ara tunggu di sini kalau bunda menolak nanti biar Ara jewer," katanya.


Ara sudah duduk di sebelah ku menunggu Pak Devan menyuapi ku.


'Sial, aku tak bisa berbuat apa-apa kalau ada Ara,' batinku.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....