
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Tidak pulang ke rumah yang dulu di tempati sengaja aku mengontrak di tempat lain yang tidak akan di temukan oleh pak Devan ataupun mas Aditya. Sebisa mungkin aku akan menjauh dari mereka berdua, tidak ingin berurusan lagi dengan mereka.
Aku ingin fokus dengan Ara, membesarkan dia tanpa gangguan dari siapapun.
Memang tidak mudah untuk Ara bisa melupakan pak Devan mengingat akan kedekatan mereka berdua dan juga kasih sayang yang sudah selalu dia berikan untuk Ara. Tapi, dengan cara apapun Ara harus bisa melupakan pak Devan.
Setelah mendapatkan kunci dari pemilik kontrakan aku mengajak Ara masuk ke dalam rumah sederhana yang lebih kecil dari rumah ku yang dulu. Tidak akan masalah untuk ku karena hanya kami berdua juga yang tinggal jadi akan cukup.
Baru saja kaki ingin melangkah untuk membuka pintu Ara menarik tangan ku dan menahan untuk tidak melanjutkan langkah tentu apa yang dia lakukan membuat aku berhenti dan langsung menoleh ke arahnya.
"Bunda, ini rumah siapa kenapa kita kita kesini? Katanya mau bertemu dengan tante Mika?" tanyanya yang ternyata ingat akan tujuan yang sebelumnya.
"Tante Mika di mana, Bunda? Ini juga bukan rumah tante Mika?" imbuhnya lagi.
Aku tau Ara bukan anak yang mudah lupa jadi dia akan ingat rumah Mika yang sebenarnya.
"Ara sayang, ini rumah kita sekarang. Mulai sekarang kita akan tinggal di rumah ini. Kita berdua saja," kataku dengan sangat lembut.
"Terus ayah om?" terlihat Ara sangat menginginkan kalau pak Devan juga akan tinggal bersama kami tapi itu jelas tidak akan mungkin terjadi.
"Tidak, ayah om tidak akan tinggal dengan kita," kepalaku menggeleng semakin meyakinkan kalau memang akan seperti itu.
Aku sudah berjongkok di hadapan Ara memberikan pengertian kepadanya. Semoga saja tidak akan susah.
"Kenapa, Bunda. Kenapa kita tinggal di sini kenapa tidak dengan ayah om. Apakah dia tidak sayang lagi sama Ara?" katanya dengan raut wajah yang langsung berubah sedih.
Bagaimana aku bisa menjelaskan kalau memang tidak seharusnya kami tinggal bersama lagi. Bahkan memang tidak pantas dari kemarin sampai sekarang.
"Bunda, jawab! Kenapa ayah om tidak mau tinggal dengan Ara lagi," mata Ara sudah langsung berkaca-kaca karena rengekan dari pertanyaannya.
"Bunda ayo kita kembali ke rumah ayah om, ayah pasti akan sedih karena kita pergi. Ayo bunda," rengeknya yang semakin menjadi.
"Sayang, kita tidak bisa kembali ke rumah ayah om lagi. Rumah itu bukan rumah kita jadi kita tidak bisa tinggal di sana lagi. Dan di sinilah rumah kita sekarang. Ara nurut ya sama bunda, Ara sayang kan sama bunda," kataku.
Mungkin terkesan memaksa tapi memang harus seperti ini. Ara tidak boleh selalu tergantung kepada pak Devan atau siapapun. Tidak boleh.
"Tidak mau, Ara mau sama ayah om," Ara masih saja merengek bahkan sekarang sudah menangis.
"Tidak bisa sayang. Sekarang kita harus tinggal di sini. Ara nurut ya sama bunda," bujuk_ku.
"Tapi, Bunda."
Ara adalah anak yang begitu penurut pasti tidak akan susah untuk membujuknya dan sepertinya benar. Ara bisa mudah luluh dengan permintaan ku.
"Nurut sama bunda ya, mulai sekarang kita tinggal di sini. Lihatlah di depan itu, itu adalah sekolah besok Ara akan bersekolah di sana."
Tangan ku menunjukkan sekolah yang sudah sepi akan penghuninya. Pasti lah sepi karena hari juga sudah siang semua pasti sudah pulang.
Ara menoleh ke arah sekolah tersebut melihat semua wahana yang sudah tersedia. Wajahnya nampak berganti dengan binar ceria ketika sudah melihatnya.
"Ara besok bisa sekolah di sana, Bunda! Apakah Ara akan punya temen?" tanyanya dengan begitu antusias.
"Iya, Ara akan sekolah di sana. Jadi sekarang kita tinggal di sini supaya Ara bisa dekat kalau sekolah."
"Mau-mau!" Ara memang sudah sangat menginginkan untuk bisa sekolah pastilah dia akan sangat senang karena rumah barunya ini di depannya adalah sekolah TK.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Aku melihat Ara masih terus diam jika sedang sendiri dan saat aku meninggalkannya untuk beres-beres semua barang-barang kami juga membereskan semua perlengkapan dapur setelah makan malam.
Tentu, dia merasa kesepian karena biasanya akan ada banyak orang yang bermain dengannya ketika berada di rumah pak Devan, tapi sekarang?
Aku menghampiri dengan membawakan susu untuknya dan Ara masih duduk di kursi dekat jendela dan melihat ke arah luar, melihat wahana di sekolah itu yang kini hanya terdapat lampu remang-remang untuk meneranginya.
"Sayang, minum susunya lalu kita bobok yuk. Ini sudah malam loh," aku duduk di bangku sebelahnya dengan tangan yang masih memegang gelas.
Ara masih terdiam, sepertinya dia melamun hingga tidak mendengar panggilan diriku. Aku tau, dia pasti sangat sedih.
"Ara sayang. Kamu kenapa?" tanyaku dengan begitu lembut.
"Bunda, Ara kangen sama ayah om. Bagaimana kabarnya sekarang ya Bunda, apakah dia tidak mencari Ara? apa dia tidak merindukan Ara?"
Jelas ini yang akan dia pikirkan. Dia akan lebih memikirkan pak Devan daripada memikirkan ayah kandungnya sendiri sekarang.
Aku juga tidak tau kenapa Ara menjadi takut dengan mas Aditya dan tidak sekalipun bertanya lagi tentangnya, mungkinkah karena mimpinya waktu itu?
Tapi, sebenarnya Ara mimpi apa sampai dia begitu takut dengan mas Aditya. Aku sangat penasaran tapi tidak mau bertanya karena takut Ara akan semakin sedih.
"Kalau ayah om mencari pasti akan ketemu kan bunda sudah kasih alamatnya sama ayah om. Mungkin sekarang dia sedang sibuk bekerja jadi tidak sempat mencari Ara," jawab ku beralasan.
"Kenapa sih orang dewasa selalu bekerja. Mereka bekerja tapi ujung-ujungnya melupakan Ara dan lebih sayang pada pekerjaannya. Ayah pergi karena bekerja dan sekarang ayah om juga tidak menemui Ara karena sibuk bekerja. Apakah nanti kalau bunda bekerja juga akan meninggalkan Ara sendiri?"
"Bunda mungkin akan bekerja, tapi bunda tidak akan pernah meninggalkan apalagi lupa dengan Ara. Bukankah bunda selalu ada untuk Ara?"
Ara mengangguk dan kini mendekati ku.
"Bunda, jangan pernah tinggalkan Ara sendiri ya," Ara memeluk ku dengan erat membuat gelas susu yang aku pegang hampir saja tumpah susu di dalamnya.
"Tidak akan sayang, bunda tidak akan pernah meninggalkan Ara. Ara tidak usah khawatir."
"Sekarang minum susunya dan segera bobok. Bukankah besok Ara pengen ke sekolah?"
Mendengar aku menyebutkan nama sekolah Ara kembali ceria dia langsung melepaskan pelukan dan mengambil susu dari tanganku.
Aku lihat bagaimana dia minum hingga tandas tak bersisa, sepertinya dia sangat senang hanya karena sekolah. Aku yakin, Ara akan betah di sini meski tetap membutuhkan waktu.
"Bunda, susunya udah habis ayo kita bobok. Takut besok kesiangan," Aku tersenyum senang melihat keceriaannya yang seperti ini. Hanya inilah yang aku butuhkan dan akan akan usahakan untuk bisa selalu seperti ini.
Hanya Ara lah yang menjadi kekuatan untuk hidup ku dan aku tidak ingin kekuatanku ini layu dan kehilangan senyum semangatnya.
Mungkin dia akan sedih acap kali mengingat pak Devan tapi aku yakin seiring berjalannya waktu dia akan bisa terbiasa tanpanya dan akan segera melupakan. Begitu juga denganku yang harus melupakan semua, melupakan mas Aditya juga melupakan pak Devan.
Aku letakkan gelas di meja dan aku tinggalkan di sana. Aku gendong Ara dan ku bawa ke kamar yang akan menjadi tempat istirahat untuk kami berdua.
Memang ada dua kamar di rumah ini tapi untuk kali ini aku ingin tidur bersama Ara dan menemaninya. Aku tidak ingin dia merasa kesepian.
"Bunda, nyanyikan lagu Nina bobok ya," pintanya.
"Iya," Aku rebahkan tubuh di kasur dan aku juga menyusul berbaring di sebelahnya. Ku tarik selimut untuk menghangatkan tubuh kami berdua dan mengusap kening Ara perlahan.
Bibir mulai terbuka dan mulai menyanyikan lagu yang Ara inginkan. Nina bobok.
"Nina bobok oh Nina bobok... Kalau tidak bobok di gigit nyamuk..."
Tak butuh waktu lama untuk Ara tidur setelah mendengar aku menyanyikan lagu Nina bobok untuknya. Tidak sampai lima menit Ara sudah terlelap dan menjemput mimpi.
"Mimpi indah Ara sayangnya bunda," ku kecup keningnya dengan sangat perlahan.
Tidak seperti Ara yang sangat mudah untuk tidur tapi aku? Aku sama sekali susah untuk bisa memejamkan mata. Kenapa bisa susah seperti ini?
Malam terasa begitu sepi dan sunyi seolah tak ada lagi kehidupan manusia di sekitarnya hanya beberapa hewan malam saja yang masih terjaga dan bernyanyi mengiringi malam.
Ku raih ponsel yang sudah dari tadi aku matikan. Aku sengaja tak menyalakan karena tau pasti pak Devan akan terus menghubungi.
Aku buka dan ternyata benar, satu persatu pesan masuk hingga begitu banyak. Dan juga pemberitahuan panggilan masuk juga tak kalah banyaknya dan semua hanya dari pak Devan saja, itu artinya pak Devan belum menemui Mika.
'Nay, kamu dimana. Kamu pergi kemana dengan Ara.'
'Nay, balas pesanku.'
'Nay, aku minta maaf jika aku bersalah. Aku mohon kembalilah!'
'Nay, atau katakan kamu di mana, aku akan menjemput mu. Nay!'
Begitu banyak pesan masuk dari pak Devan dan itu hanya sebagian saja.
Kring... Kring... Kring....
Hingga akhirnya panggilan masuk tepat setelah aku menyalakan ponsel, jelas pak Devan tau kalau aku sedang aktif dan membuka juga membaca pesannya satu persatu.
Aku abaikan panggilannya tak ada niat untuk mengangkatnya.
Ting...
'Nay, aku mohon. Angkat panggilan ku.'
Hingga akhirnya pesannya yang masuk setelah panggilannya tidak aku angkat.
Kring... Kring... Kring...
Kembali pak Devan memanggil tapi tetap aku abaikan. Hingga aku putuskan untuk membalas pesannya saja sekali.
'[Jangan hubungi saya lagi, dan lupakan semua yang sudah terjadi. Anggap saja kita tidak pernah bertemu seperti sebelumnya.]'
Aku lihat centang dua hitam langsung berubah menjadi biru pak Devan langsung membacanya. Aku lihat pak Devan tengah mengetik namun belum sampai pesannya kembali terkirim ponsel sudah kembali aku matikan.
"Maafkan Nayla, Pak. Tapi sudah cukup sampai sini pertemuan kita," gumam ku.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...