Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Ara pulang



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Pemeriksaan selanjutnya untuk Ara tidak ada yang serius hingga akhirnya dia diperbolehkan pulang setelah tiga hari berada di rumah sakit.


Begitu bahagia anak kecil itu setelah dia diperbolehkan pulang, apalagi setelah semua alat-alat yang menempel sudah dilepaskan dan dia bebas melakukan pergerakan apapun.


"Bunda, Ara boleh pulang. Ayah, Ara sudah boleh pulang!"


Begitu antusias Ara untuk bisa pulang hari ini. Wajah. ya begitu berbinar dengan dia terus bergerak tiada henti di atas ranjang rumah sakit juga dengan memeluk boneka yang Mas Devan berikan kemarin.


Bukan hanya satu saja, tapi ada banyak mainan di kamar ini. Setiap mas Devan keluar pasti dia akan masuk dengan membawa mainan baru. Mas Devan benar-benar memanjakan Ara, hal ini dia lakukan mungkin supaya Ara tidak merasa bosan.


"Iya benar, Sayang. Bagaimana, apakah Ara senang?" mas Devan yang lebih awal menjawab juga menanyakan perasaan Ara yang ingin pulang.


"Senang dong Yah, Ara sudah sangat bosan di sini, nggak enak dan juga sangat bau," pipinya menggembung dengan lubang hidung yang kembang kempis karena rasa tak sukanya.


Sangat menggemaskan hingga membuat aku juga mas Devan tertawa.


Aku menoleh ke arah mas Devan yang berdiri di sebelah ku duduk, merangkul pundak dengan satu tangan yang lain berada di kantong celananya.


"Alhamdulillah. Tapi Ara harus ingat ya, Ara tidak boleh makan jajal sembarangan lagi. Ara harus makan yang dari ayah atau bunda beri saja."


Aku tegaskan pada Ara, dengan ini aku yakin diam tidak akan melanggar apa yang sudah aku katakan.


Ara terdiam sejenak dia berpikir sesuatu, aku tau di pasti berpikir akan mas Aditya yang mungkin akan datang ke sekolah lagi dan akan membiarkan makanan untuknya.


"Tapi, Bun?" msh kan benar, nyatanya Ara seakan ingin bernegosiasi dengan ku.


"Tidak ada tapi-tapi Ara sayang. Kalau kamu memang tidak mau kembali ke sini lagi jadi kamu tidak boleh makan makanan yang sembarangan. Kamu sayang kan sama bunda?" jelas Ara langsung mengangguk.


"Kalau begitu kamu harus nurut sama, Bunda." tegasku lagi.


"Iya, Bunda." jawabnya meski dengan suara yang sangat pelan juga wajah yang menunduk.


"Sayang, jangan terlalu keras dengan Ara, Kasian dia."


Mas Devan menegurku. Mungkin kata-kata ku memang lebih tegas atau keras menurutnya tapi itu aku lakukan supaya Ara mengingat-ingat lagi setelah dia keluar dari rumah sakit ini. Biasanya dia juga seperti itu kan.


"Hem, maaf ya sayang." kataku menyesal. Mungkin memang keterlaluan apa yang ki katakan buktinya Ara langsung lesu seperti itu.


Semua ini hanya karena rasa khawatir juga rasa takut dari seorang ibu yang anaknya baru saja mengalami hal yang membuat hati seorang ibu seperti di cabik-cabik.


"Ara juga minta maaf ya, Bunda. Ara tidak mendengarkan kata-kata bunda. Semua ini...? sebenarnya ayah yang memberikannya."


Aku dan mas Devan saling pandang setelah mendengar pengakuan dari Ara. Ku pikir dia akan terus menyembunyikan semua ini namun ternyata tidak.


"Ayah?" pura-pura aku tidak tau dan juga pura-pura terkejut.


Ara mengangguk dengan pelan tapi rasa menyesal itu sangat besar di wajahnya.


Ku menghela nafas panjang, ku tata hati supaya bisa lebih tenang dalam mengahadapi masalah ini. aku tidak boleh bersikap kasar pada Ara kalau tidak doa bisa saja akan takut padaku.


"Tidak apa-apa, yang terpenting sekarang Ara jangan ulangi lagi ya. Ara tidak mau buat Bunda sedih kan?"


Ara mengangguk dia juga langsung memeluk ku, melingkarkan kedua tangan di leher ku, "maafkan Ara yang, Bunda. Ara janji tidak akan mengulangi lagi. Ara janji."


"Iya, Sayang. Bunda tau kok Ara anak baik dann tidak akan melanggar lagi kata-kata bunda." ku balas pelukannya dan membuat dia tidak larut dalam rasa bersalahnya juga penyesalan.


"Sudah-sudah, lebih baik sekarang kota pulang. Nenek sama kakek ada di rumah loh, mereka sangat merindukan Ara."


"Benarkah!?" kembali kecerian itu datang lagi di wajah Ara. Mas Devan memang sangat pintar dalam mengembalikan senyum Ara yang selalu hilang.


Kalau orang yang belum mengenalnya pasti tidak akan percaya kalau mas Devan orangnya seperti ini. Bisa begitu hangat dan penuh kasih sayang pada keluarga. Jelas, mas Devan selalu berwajah tegas dan dingin ketika di luar rumah.


"Iya, mereka juga bawa sesuatu untuk Ara. Yuk kota pulang."


Kedua tangan mas Devan langsung terulur kepada Ara, Ara langsung berdiri dan menyambut meminta di angkat olehnya dengan begitu manja.


'Kenapa mas, kenapa kamu ganggu kebahagiaan kami ini. Aku juga Ara sudah sangat bahagia dengan kehidupan kami, jangan campuri lagi kehidupan kami apalagi berniat untuk menghancurkan kebahagiaan kami.' batin ku.


Jika saja mas Aditya ada mungkin akan aku katakan langsung padanya, tapi ternyata tidak! mas Aditya tidak ada di tempat tapi aku juga tidak menginginkan dia ada.


"Yuk sayang kita pulang," giliran satu tangannya menggandeng tangan ku yang satu sementara yang satu masih memegangi barang-barang Ara.


"Biar saya saja yang bawa, Nya." pinta sopir yang ada di luar ruangan.


Aku tersenyum dan ku berikan ransel itu padanya dan kembali berjalan dengan di gandeng mas Devan. Kami keluar bersama dengan bahagia, alhamdulillah Ara sudah boleh pulang dan juga tak ada hal yang serius.


Sampai di tempat parkir sopir itu terlihat buru-buru memasukkan ransel di bagasi lalu membukakan pintu untuk kami.


Setelah kami bertiga masuk baru pintu kembali di tutup olehnya.


"Ayah, Bunda, kalian tidak marah kan sama Ara? kalian tidak marah kan dengan ayah?" ayah Aditya yang Ara maksud sekarang ini.


Di pangkuan mas Devan tapi Ara masih mengingat mas Aditya. Mungkin inilah yang dinamakan ayah dan anak, seperti apapun orang tua seorang anak pasti akan selalu menganggap orang tua adalah yang terbaik untuknya. Begitu juga yang Ara lakukan sekarang.


Aku juga mas Devan terlihat sangat bingung dan saling pandang. Tentu kami tidak akan marah pada Ara tapi dengan mas Aditya? sepertinya rasa itu masih sangat melekat di hati kami.


"Tidak, Sayang. Ayah dan bunda tidak akan marah," mas Devan yang menjawab meski aku tau ini hanya untuk membuat hati Ara tenang saja.


Amarah mas Devan juga masih terlihat sangat besar saat ini, terlihat nyata dan akan sangat susah untuk di kendalikan juga di sembunyikan.


Mas Devan tersenyum hingga membuat aku juga ikut tersenyum juga, 'Terima kasih, Mas.' batinku.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung......