
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Ara terlihat sangat ketakutan saat berada di ruang pemeriksaan. Dia bahkan terus memeluk mas Devan yang terus menggendongnya dan terus menemani ketika harus di periksa di atas brangkar.
Mas Devan sama sekali tidak meninggalkannya meski hanya sesaat. Apalagi ketika Ara tidak mau di periksa jika tidak di temani.
"Ayah, Ara takut," katanya. Ara terus merengek, sebenarnya dia tidak mau di periksa.
Aku juga merasa ikut ngilu mendengar keluhannya. Suaranya begitu lirih takut, dia terus memeluk erat mas Devan dan hanya akan sesekali saja menjauh.
"Tidak usah takut, kan ada Ayah." kata mas Devan meyakinkan. Dia terus tersenyum, berusaha membuat Ara tenang dan nyaman di saat pemeriksaannya.
Semua kata-kata yang menjadi kekuatan mas Devan katakan pada Ara, dan si kecil itu selalu saja menurut kalau mas Devan yang mengatakan. Sungguh, tak akan ada yang menyangka kalau mereka berdua tak ada ikatan darah sama sekali.
"Adik sayang, sini sama dokter sebentar." Begitu ramah dokter cantik yang akan memeriksa Ara itu. Dia bahkan berbicara dengan senyum yang terpancar begitu manis.
"Tidak mau, Ara tidak mau di suntik lagi." Katanya. Wajahnya menggeleng kasar dengan kedua tangan terus memeluk leher mas Devan.
Ara sudah ada di atas brangkar sebenarnya tapi karena dia masih terus takut dia malah berdiri dengan memeluk mas Devan.
"Tidak di suntik kok, dokter hanya ingin lihat-lihat saja. Tuh lihat, dokter tidak bawa suntikan kan?" Mas Devan mulai membujuk.
"Tapi Ara takut ayah." Ara menoleh, dia sangat susah sepertinya untuk mendapatkan pemeriksaan. Tapi ini harus tetap di lakukan.
"Ara sayang, di periksa dokter dulu ya, katanya setelah ini mau lihat adik kecil?" Aku pun tak mau kalah.
Ara terlihat ragu, diam berpikir setelah mendengar apa yang aku katakan. Semoga saja ini berhasil dan bisa membuat dia mau di periksa.
"Tapi tidak di suntik kan?"
"Tidak, Sayang. Dokter hanya mau lihat saja kok." jawab mas Devan.
Ara perlahan mulai duduk dan tak lama dia merebahkan tubuhnya sendiri di atas brangkar itu. Terlihat was-was tapi juga terlihat dia sangat berusaha untuk tidak takut.
Sebenarnya kami harus keluar dari ruangan, tapi karena Ara tidak mau di periksa kalau kami tidak ada jadi kami berdua akhirnya di perbolehkan untuk tetap ada menemaninya.
Perlahan namun pasti pemeriksaan di lakukan. Aku juga mas Devan terus berbicara pada Ara, membuat dia tidak memperhatikan saat di periksa dan tetap saja mendapatkan suntikan.
Alhamdulillah, Ara tidak menyadari ketika itu, dia terlihat senang dengan setiap perkataan yang kami berdua ucapkan.
Wajahnya terus berbinar, dia terus mendengarkan dan tak melihat dokter dan beberapa perawat yang sedang bekerja.
"Alhamdulillah, sudah." ucap Dokter.
Sebenarnya bukan hanya ini saja, tapi tadi juga sudah mendapatkan pemeriksaan yang lain. Sakit Ara yang begitu berat harus mendapatkan pemeriksaan yang begitu banyak, tidak hanya seperti anak yang hanya terkena flu saja yang di periksa begitu singkat.
"Sudah, Dok?" tanya Ara. Dia seperti tidak percaya kalau sudah selesai.
"Ara belum mau pulang, Dok. Ara pengen lihat adik Ara yang ada di perut bunda." ucapnya memberitahu pada dokter cantik itu.
Sang dokter tersenyum pada Ara, dan beralih pada kami berdua.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Betapa senangnya Ara ketika bisa melihat adiknya yang ada di perutku dari layar yang ada di hadapannya. Memang belum jelas, tapi Ara sudah begitu antusias.
Wajahnya terus berbinar, dia tak henti-hentinya tersenyum saking bahagianya.
"Bunda, kira-kira adiknya Ara cewek atau cowok?" tanyanya.
"Belum tau, Sayang. Kan adiknya Ara masih kecil, jadi belum terlihat. Tunggu saja beberapa bulan lagi pasti akan terlihat." Mas Devan yang menjawab.
Ara mengangguk mengerti, dia kembali fokus dengan layar yang ada di hadapannya.
"Dokter, ini benar adiknya Ara?" Bahkan Ara juga bertanya langsung pada dokter yang ada di hadapannya.
"Iya, ini adiknya Ara." Dokter itu menjawab begitu ramah. Ara semakin senang di buatnya.
"Bunda, berapa bulan lagi supaya Ara bisa bermain dengan adik keci?" tanyanya.
"Hem, kurang lebih enam bulan lagi sayang. Doain adik ya semoga sehat selalu. Dan kakak Ara juga harus selalu sehat, oke?"
Aku elus pipinya yang tidak begitu gembul sekarang, mungkin karena pengaruh dari sakitnya jadi Ara terlihat lebih kurus daripada dulu.
"Tentu, Bunda. Ara akan selalu doain adik Ara, dan Ara juga akan selalu sehat."
Tangan Ara terangkat, mengelus perutku dengan sangat pelan.
"Adik, sehat-sehat terus ya. Dan jangan nakal, kasihan bunda kalau nakal." katanya.
"Tidak, adiknya Ara kan baik seperti kakak Ara." Mas Devan menunduk, mengelus puncak kepala Ara dan mengecupnya pelan.
Ara mendongak, dia melihat wajah mas Devan lalu tersenyum. Tak hanya tersenyum saja yang dia perlihatkan tapi juga langsung mendekat dan mencium pipi mas Devan.
"Terima kasih ya, Yah. Sebentar lagi Ara akan punya adik." Katanya.
"Sama-sama, Sayang." Di peluk Ara dari belakang dan Ara kembali mengelus perutku.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...