Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kenzo Alvin Denendra



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Beberapa bulan kemudian...


"Ayah, Bunda kenapa? Bunda baik-baik saja kan?" Pertanyaan Ara terdengar begitu menyayat, air matanya turun meski hanya perlahan, suaranya juga gemetar.


"Bunda tidak apa-apa, Sayang." Jawab mas Devan yang terlihat bingung. Bagaimana tidak, dia melihatku yang terus meringis sejak tadi, menahan rasa sakit yang sangat terasa.


Ya! Kami sudah berada di rumah sakit sekarang. Hari ini akan menjalani persalinan dari kehamilanku yang kedua. Ara akan segera punya adik.


"Hem, gini saja. Ara jalan-jalan dulu ke taman ya sama Sus Neni, biar ayah yang temenin bunda." mas Devan menawarkan.


"Iya, Sayang. Ara sama Sus Neni dulu ya. Ara tidak usah khawatir, bunda tidak apa-apa kok," Aku pun tak mau diam saja, Ara harus tetap tenang.


"Tapi, Bunda. Bunda begitu kesakitan?" Semakin deras air mata Ara melihatku.


Aku berusaha menahan rasa sakit yang ada supaya Ara tenang, sepertinya sangat berhasil.


"Bunda tidak apa-apa, pergilah sama Sus Neni. Ara boleh beli coklat."


"Tapi bunda benar-benar tidak apa-apa kan?" katanya lagi.


"Iya, bunda tidak apa-apa. Pergilah dan bersenang-senanglah di taman." Aku terus membujuk meskipun sesekali akan meringis karena rasa sakit.


"Ayo Non," Ajak Sus Neni, dia menggandeng dan menuntun Ara dengan perlahan.


Aku juga mas Devan terus melihatnya, kami tersenyum sesaat namun langsung pudar lagi ketika aku merasa sakit lagi.


"Aw!" pekik ku.


Kata dokter masih baru pembukaan tiga dan masih membutuhkan waktu agak lama untuk sampai lahir.


Mas Devan terus menunggu, dia ikut panik saat aku merasakan sakit. Tangannya terus mengelus perut bahkan punggungku untuk berusaha meringankan rasa sakitnya.


"Apakah sakit sekali?" tanya Mas Devan, tangannya terus bergerak di punggungku dan aku yang tidur miring kearahnya.


"Hem," Aku mengangguk. Rasanya memang sangat luar biasa dan itu sangat jelas.


"Maaf, ya. Karena aku kamu jadi kesakitan seperti ini, kalau begitu kamu tidak usah hamil lagi saja ya setelah ini aku tidak tega melihatnya." ucapnya. Terdengar begitu sangat menyesal.


"Tapi kalau bikin tetap harus berjalan." Mas Devan tersenyum.


Mataku membulat, ada-ada saja nih suami. Sini benar-benar kesakitan masih saja dia sempat memikirkan hal seperti itu. Ini saja belum beres dan juga nanti menunggu sampai nifas selesai udah mau di gempur lagi gitu? Sungguh terlalu.


"Ih!" Gemas rasanya hingga aku cubit mas Devan dengan sangat kuat. Dia meringis tapi juga tertawa.


"Maaf maaf," ucapnya.


"Kamu tuh ya, Mas. Ini sakit banget loh kamu masih sempat-sempatnya bergurau seperti itu."


"Ya, kan biar tidak tegang, Yang." Begitu enteng mas Devan bicara.


Memang sih biar tidak tegang tapi juga tidak seperti itu juga kali, iya kan?


"Kita ikut aturan pemerintah saja, dua anak cukup. Oke," ucapnya lagi.


Dia akan berbicara seperti itu karena dia benar-benar menganggap Ara adalah anaknya juga. Aku sangat bahagia dengan pengakuan dia yang sangat tulus.


"Hem, aww!!" Aku mengangguk, tapi setelahnya kembali meringis karena kembali kontraksi.Rasanya sungguh luar biasa nikmatnya.


Mas Devan kembali mengelus punggungku, dia benar-benar setia menemani ku dari awal sampai rumah sakit hingga sekarang. Dia hanya akan pergi saja saat ke kamar mandi.


"Sayang, cepat keluar ya. Kasihan bunda kalau kamu tak kunjung keluar. Cari jalannya yang benar ya, jangan sampai tersesat." ucap.


Plak!


"Aw!" pekik mas Devan, aku yang telah memukulnya. Karena ucapannya yang sungguh membuat aku kesal.


Bagaimana mungkin akan tersesat. Jalannya hanya satu.


"Iya, bener." jawabku dengan begitu kesal. Ada-ada saja.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


"Ayo semangat sayang, sebentar lagi. Sebentar lagi, ayo ayo!" ucap mas Devan.


Dari tadi dia selalu saja mengatakan semangat untukku, seperti suporter sepakbola yang terus meneriakan semangat untuk pemain andalannya.


Dia juga terus nengusap keringatku dengan tisu. Dia begitu setia.


Tapi satu yang paling membuatku semakin kesal, dia juga sering ngomel sana dokternya karena anak kami tak kunjung keluar. Rasanya pengen aku getok kepalanya tadi.


"Mas, sakit!" kataku. Aku cengkram tangan mas Devan dengan sangat erat, sembari memberikan dorongan yang kuat di bawah sana.


"Sabar ya, Sayang. Bayangin saja nikmatnya pas buat." Ucapnya.


Platakk!


Omes bener nih suamiku. Aku jitak beneran kan akhirnya.


Para suster dan dokter ikut tersenyum karena ucapan mas Devan barusan. Sungguh malu rasanya.


"Hehehe, maaf. Yuk sayang, semangat. Kamu pasti bisa," ucapnya lagi.


Ikutan geram sendiri rasanya karena semua perkataannya.


"Ayo, Bu. Sedikit lagi." ucap dokter.


"Ayo Sayang, sedikit lagi," mas Devan pun juga ikut-ikutan, mengulang kata dokter.


"Akk!"


Oe oe oe....


"Alhamdulillah!" Seru mas Devan begitu bahagia, dia langsung memelukku dan memberikan kecupan di seluruh wajah. Diapun juga terus mengucapkan terimakasih terus menerus.


"Selamat, Pak, Bu. Anak kalian laki-laki."


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Kenzo Alvin Denendra.


Nama yang di berikan oleh mas Devan untuk anak kami. Kenzo, anak yang begitu manis dan juga sangat tanpan yang membuat kami semua bahagia dan merasa begitu sempurna.


Pak Devan menjadi ayah yang sebenarnya, aku mendapatkan anak lagi, pak Abraham memiliki cucit baru dan Ara, Ara memiliki adik sekarang.


Senyum terus menghiasi kami semua ketika melihat Kenzo yang sesekali merengek dan matanya hanya terbuka kecil. Semakin menggemaskan.


"Lihatlah, Sayang. Kenzo tampan sekali." ucap Mas Devan memberitahu Ara.


"Iya, Yah. Adik Kenzo begitu tampan seperti ayah." Ara juga begitu antusias melihatnya.


Sementara mama dan papa mertua, mereka juga melihatnya. Aku tersenyum, akhirnya, kedatangan Kenzo menyempurnakan kisah kami semua.


Alhamdulillah, sebuah kesabaran telah berbuah manis.


Terimakasih Ya Tuhan...


END....


✧༺♥༻✧


Terimakasih untuk semua Reader's yang terus setia, dan maaf jika akhirnya tak sesuai atau mungkin terlalu kecepatan. Maaf ya....


Sekali lagi terima kasih, dan nantikan cerita Author selanjutnya....


🙏🙏🙏🙏🙏