Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Tak akan biarkan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Memang sangat menyebalkan ketika orang yang dibenci selalu saja datang dan membuat masalah, seakan dia tidak pernah membiarkan orang lain untuk bahagia dalam sesaat dan selalu saja mengganggu kenyamanannya.


Hal itulah yang dilakukan oleh Mas Aditya hari-hari ini, dia selalu datang dan mengganggu kenyamananku juga keluarga kecilku yang perlahan mulai bahagia.


Kedatangannya selalu mengucapkan segala yang ada, kemarin dia datang dan membuat Ara akhirnya jatuh sakit hingga berakhir masuk ke rumah sakit. Dan sekarang? Dengan terang-terangan dia datang ke sekolah lagi dan mengatakan mampu untuk memberikan ku juga Ara makan.


Kalau dia memang mampu untuk itu kemana saja dia selama ini, dia tak pernah datang di saat kamu butuh. Dia tak pernah ada, bahkan hanya sekedar memberi kabar saja tidak dia lakukan.


Meski orangnya sudah pergi tapi rasa kesal masih begitu besar di dalam hati, rasanya ingin marah, tapi untuk siapa?


"Sudahlah, Sayang. Jangan cemberut seperti itu terus. Biarkan saja dia memiliki niat apapun yang terpenting semuanya tidak akan berhasil, iya kan?"


Mas Devan yang seharusnya sudah kembali ke kantor kali ini malah masih ada di sini, menemani ku dan terus menenangkan_ku yang benar-benar sangat kesal.


"Aku kesel, Mas. Dia selalu saja bertingkah semuanya sendiri. Dia selalu egois dan mementingkan dirinya sendiri tanpa melihat orang lain."


"Mas ingat kan? Gara-gara dia kemarin Ara masuk ke rumah sakit, dan sekarang Ara harus terus sakit karena buntut dari perbuatannya, bagaimana aku tidak kesel, Mas!"


Hatiku benar-benar sedang tidak bersahabat saat ini, terus saja aku mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatiku. Mengeluarkan semua hingga tidak tersisa supaya aku bisa merasa lebih ringan setelahnya.


"Iya, mas tau kamu kesel, tapi kamu harus ingat juga kalau kamu yang seperti ini akan mempengaruhi anak kita nantinya. Kamu tidak mau kan kalau sampai dia lahir cerewet kayak kamu yang lagi ngomel-ngomel begitu?"


Aku menggeleng cepat, siapapun tidak akan mau kalau sampai anaknya menjadi cerewet apalagi sampai menjadi pemarah. Tidak.


"Kalau kamu memang tidak mau maka jamu harus tahan kemarahanmu. Jangan kamu pikirkan semua ini, biarkan aku yang mengurusnya," ucap mas Devan lagi.


Dalam hidup detik saja amarah yang ada di dalam hati telah hilang, wajah juga aku rasakan tidak begitu tegang seperti tadi, kata-kata mas Devan memang akan selalu berhasil.


"Kalau kamu sudah tenang, mas harus pergi. Mas harus kembali ke kantor, boleh?" perkataannya selalu saja lembut, dia selalu terlihat tenang meski aku yakin hatinya tidak seperti itu.


"Hem, pergilah. Pekerjaan mas juga sangat penting kan?"


"Pokoknya kamu tidak usah takut dan jangan pikirkan apapun lagi, semuanya biar aku yang memikirkannya. Mas pergi dulu dan sampai bertemu nanti siang."


"Oh iya, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi mas, kamu juga tidak perlu takut Aditya akan datang lagi untuk mengganggu mu, mereka semua akan ada di sini untuk menjaga kamu dan Ara."


Mas Devan menunjukkan ketiga pengawal yang khusus dia kerjakan hanya untuk menjagaku juga Ara, bahkan aku juga tidak sendiri karena ada Sus Neni di sini bersamaku.


"Hem, terimakasih, Mas," kataku.


Mas Devan berdiri, mengusap kepalaku sejenak dan memberikan kecupan hangat di kening.


‌"Mas, ada orang-orang," pekikku tertahan karena ulah mas Devan barusan. Aku menoleh kecil ke kanan dan kiri melihat orang-orang yang ada di sana dan mereka nampak biasa-biasa saja.


"Kenapa, aku mencium istriku sendiri," Mas Devan terlihat acuh begitu saja, lagian mana dia akan peduli dengan orang lain.


"Apa aku mencium mereka semua?" katanya yang begitu enteng.


Aku cubit kuat perutnya, kesal juga lama-lama kalau mulutnya lemes seperti ini.


"Sudah sana pergi!" Lalu aku dorong setelah aku berikan cubitan yang membuatnya meringis. Sakit? Jelas dia merasa sakit.


"Ih, di usir. Jadi males perginya," kembali lagi doa bertingkah seperti anak kecil.


"Iya-iya, Mas pergi. Ingat, kalau ada apa-apa cepat hubungi mas." sekarang ucapannya terdengar menekankan.


Mas Devan benar-benar pergi setelah aku mengangguk cepat. Rasanya langsung sepi ketikan mas Devan pergi, meski dia begitu menyebalkan saat ada tapi kalau tidak ada selalu saja membuat kesepian.


Aku tatap kepergiannya, dia kembali masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Sebelum benar-benar pergi tangannya memberikan lambaikan halus kearah ku, tentunya juga dengan senyumnya yang begitu manis, manis sekali.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


"Bunda!" setelah lelah menunggu akhirnya Ara muncul juga dari gerbang.


Senyumannya begitu indah dan sangat manis, dia terlihat lebih ceria sekarang, mungkin karena sudah bertemu dengan teman-temannya jadi seperti sekarang ini.


Dia terus lari dengan menggendong tasnya yang berwarna pink. Ah, selalu saja pink. Warna kesukaannya memang seperti itu seperti semua juga begitu dominan.


Ara berlari, dan berhenti tepat di hadapan ku yang sudah menyambutnya.


"Sudah siap pulang sayang?" tanyaku.


"Hem," Ara mengangguk semangat.


Meski wajahnya terlihat lelah tapi lelahnya itu tertutup dengan kebahagiaannya yang begitu besar. Semoga saja dia selalu bahagia seperti ini.


Tangannya aku gandeng, aku tuntun untuk menuju mobil yang sudah menunggu kami. Bukan hanya Sus Neni yang mengikuti kami, tapi juga ketiga penjaga ikut berjalan juga.


"Ara!" suara begitu jelas aku dengar, aku cepat mencari sumber suara itu dan lagi-lagi orang menyebalkan itu datang lagi.


"Ara, ayo masuk," kataku dengan buru-buru. Pintu mobil sudah di bukakan oleh penjaga dan kami hanya tinggal masuk saja.


"Bunda, Ara denger ada yang manggil," Sial, ternyata Ara juga mendengarnya.


"Bukan siapa-siapa kok, ayo pulang. Ayah sudah nungguin di rumah," Aku angkat tubuhnya perlahan ke mobil dan Ara tidak menolak.


"Ara! Lihatlah, ayah bawakan mainan untukmu!" Kembali teriakan itu aku dengar. Pintu langsung aku tutup dengan cepat.


"Pak, jalan," kataku.


"Baik, Nya," jawab sang sopir dan mobil pun berjalan dengan cepat meninggalkan tempat itu.


Hanya aku dan Ara yang ada di mobil itu, sementara Sus Neni juga ketiga penjaga tadi ada di mobil yang lain yang sekarang juga ada di belakang kami.


Aku melihat dari kaca mobil, mas Aditya terlihat sangat marah dan kecewa karena aku tetap tidak memperbolehkan dia bertemu dengan Ara. Jelas aku tidak akan biarkan.


Ya Tuhan, sampai kapan aku akan terus berlari-larian seperti ini dari mas Aditya. Dia memiliki hak atas Ara, dia adalah ayahnya, tapi mengingat semua yang sudah dia lakukan membuat aku tak akan rela jika Ara bertemu dengannya.


Semua yang terjadi adalah karena ulah kamu sendiri, Mas. Jika saja kamu tidak meninggalkan kami, menelantarkan kami dan juga mengabaikan kami, maka semua ini tidak akan pernah terjadi.


Kamu pergi dari kami hanya karena harta kan? Dan sekarang harta itu sudah kamu dapatkan, maka nikmati saja hartamu dan biarkan kami menikmati hidup kami tanpamu.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...